Kerusuhan 22 Mei Masih Menyimpan Misteri

Rabu , 12 Juni 2019 | 07:25
Kerusuhan 22 Mei Masih Menyimpan Misteri
Sumber Foto Pos Kota
Suasana ketika terjadi kerusuhan di salah satu sudut Ibukota Jakarta 22 Mei lalu
POPULER

Pengungkapan oleh polisi mengenai kasus kerusuhan di Jakarta pada 22 Mei lalu ternyata tidak tuntas dan masih menyisakan berbagai pertanyaan. Publik juga tidak memperoleh gambaran yang lengkap dan gamblang mengenai peristiwa tersebut, siapa dalang dan tokoh-tokoh yang bertanggungjawab.

Yang agak terang adalah pengungkapan polisi mengenai rencana  pembunuhan terhadap empat tokoh –Menko Polkam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan, Ketua BIN Budi Gunawan dan Gories Mere—dan seorang direktur lembaga survey, Junarto Widjaja. Polisi menuding Mayjen (Purn) Kivlan Zein sebagai dalang rencana pembunuhan tersebut dengan memutar video pengakuan orang-orang bayaran yang ditangkap.

Menjadi pertanyaan, apakah rencana pembunuhan yang dirancang Kivlan itu sama dengan perancang kerusuhan 22 Mei? Bagaimana kaitannya, tidak ada penjelasan yang gamblang. Kita tidak memperoleh penjelasan apakah Kivlan juga memikul tanggungjawab atas perustiwa yang menewaskan 9 orang tersebut.

Kivlan adalah purnawirawan TNI yang selama ini dikenal sangat vocal melontarkan kritik bahkan kecaman terhadap Wiranto  dan Luhut. Kita hanya menduga-duga ada dendam masa lalu diantara mereka sehingga Kivlan sering dengan sangat terbuka melontarkan kritiknya. Mantan Panglima Kostrad itu beberapa waktu lalu ditahan polisi dengan tuduhan makar.

Ketidakjelasan pengungkapan polisi atas peristiwa kerusuhan 22 Mei itu dikritik banyak pihak. Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik eksposes di kantor Kementrian Polhukkam tersebut d an menilai informasi yang disampaikan pemerintah bisa jadi bias. "Harusnya lebih holistis. Jangan menjadi satu versi. Tentu kalau versinya versi pemerintah sangat bias," kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Fadli menilai seharusnya pemerintah terlebih dahulu membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk mengusut kerusuhan 22 Mei. Ia heran pemerintah, dalam hal ini Polri, tiba-tiba saja mengungkapkan dalang di balik kerusuhan itu. "Seharusnya ada ada satu tim gabungan pencari fakta. "Sehingga ada independensi dari tim ini untuk membongkar apa yang sesungguhnya terjadi dan kenapa sampai timbul korban jiwa, kemudian mungkin bisa dipelajari tentang siapa yang melakukan dan seterusnya," lanjut Fadli.

Direktur Eksekutif Amnesty Indonesia, Usmad Hamid juga menilai, hal yang disampaikan polisi dalam konferensi pers tidak menyeluruh. Polisi dinilai gagal mengungkap fakta penting dalam peristiwa tersebut. "Ini menyakitkan bagi keluarga korban yang hari ini berharap polisi mengumumkan ke publik siapa yang melakukan penembakan kepada korban," ujar Usman, Selasa (11/6).

Alih-alih menunjukkan perkembangan penyidikan penyebab tewasnya korban dan pelaku yang harus bertanggungjawab, narasi yang disampaikan polisi hanya berkutat pada rencana diam-diam kerusuhan 22 Mei. “Seharusnya polisi mengungkapkan bukti-bukti yang memadai tentang penyebab kematian korban terlebih dahulu, lalu mengumumkan siapa yang patut diduga sebagai pelaku penembakan," ujar Usman.

Sejumlah keluarga korban, kata Usman, kecewa lantaran nihilnya pengungkapan pelaku pembunuhan untuk kemudian dibawa ke pengadilan. Selain itu, Amnesty Indonesia juga menyoroti kurangnya akuntabilitas penggunaan kekuatan berlebih oleh aparat kepolisian. Salah satunya menyangkut dugaan penyiksaan yang terjadi di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Aparat yang melakukan pemukulan dan penganiayaan di Kampung Bali harus diproses hukum secara adil," kata Usman.

Hal yang cukup jelas dalam pengungkapan polisi adalah bahwa aksi massa kerusuhan 22 Mei terpisah dari aksi demo di depan Bawaslu mengenai penolakan hasil rekapitulasi KPU. Aksi demo telah berakhir pada jam 21.00 dan massa membubarkan diri, namun kemudian sekitar dua jam berikutnya, pada 23.00 muncul massa sekitar 500 orang yang kemudian membuat kerusuhan. Massa ini yang kemudian bentrok dengan aparat dan jatuh korban meninggal.

Kita mendorong polisi untuk bekerja lebih cermat lagi  dalam menelusuri peristiwa kerusuhan tersebut dan mengungkapkannya lebih gamblang kepada public. Ada banyak versi informasi tersebar di masyarakat yang belum terjawab dalam keterangan polisi kemarin. Ketidakjelasan informasi bisa menimbulkan spekulasi dan kecurigaan, termasuk terjadinya abuse of power yang mengabaikan hak-hak masyarakat.



Sumber Berita:Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load