Deforestasi Biang Keladi Banjir Bandang di Sentani

Selasa , 19 Maret 2019 | 19:59
Deforestasi Biang Keladi Banjir Bandang di Sentani
Sumber Foto Harian Analisa
Penggundulan hutan
POPULER

Sungguh mengerikan banjir bandang yang terjadi di Sentani, Jayapura pekan ini. Banyaknya korban dan luasnya dampak yang ditimbulkannya mengharuskan kita menundukkan kepala, mengapa bencana besar tersebut terjadi. Namun lebih penting lagi kita perlu mengevaluasi dan mengoreksi kesalahan kebijakan agar bencana serupa tidak terjadi lagi.

Hingga Selasa (19/3/2019) malam ini tercatat sudah 89 korban meninggal dunia dan terdapat puluhan orang yang hilang. Selain itu lebih 6.000 orang terpaksa harus tinggal di pengugsian sambil menunggu banjir surut dan lingkungan dibersihkan.

Dahsyatnya banjir bandang bisa kita saksikan di bandara Sentani ketika sebuah pesawat milik Adventist Aviation Mission terseret hingga ke jalan raya. Banjir kali ini juga menghancurkan fasilitas umum seperti jalan raya, pertokoan, perkantoran, dan perumahan warga. Jalan raya dipenuhi lumpur, dan sisa bongkahan pohon besar yang terbawa arus.

Perumahan BTN yang berdekatan dengan Polres Jayapura sebagian besar tertimbun lumpur dan pasir serta bongkahan pohon-pohon yang hanyut dari gunung di belakang RSUD Yowari. Rumah warga di daerah Kemiri juga tertimbun pasir mencapai setengah rumah. Pangkalan LANUD Jayapura, kantor dan perumahan mess perwira rusak parah serta tertimbun pasir.

BNPB memperkiraan banjir terjadi akibat kombinasi faktor alam dan kerusakan hutan. Sebab telah terjadi perambahan cagar alam oleh 43.030 jiwa atau 753 kepala keluarga sejak 2003.  "Terdapat penggunaan lahan pemukiman dan pertanian lahan kering campur pada daerah tangkapan air (DTA) banjir seluas 2.415 hektare,” kata Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Namun Ketua Dewan Adat Papua Paul Finsen Mayor mencurigai munculnya kayu-kayu gelondongan dalam banjir bandang berasal dari aktivitas penebangan hutan ilegal di atas Pegunungan Cyloop. "Jangan-jangan di sana ada penebangan liar. Soalnya sampai merusak pesawat. Jangan sampai kita tidak tahu, ada penebangan liar di atas," kata Finsen, seperti dikutip Tirto.co.

Finsen meminta dilakukan investigasi lebih lanjut soal penyebab banjir bandang. Ini penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang karena peruskan alam yang dibiarkan.

Direktur Walhi Papua Aiesh Rumbekwan juga heran dengan banyaknya kayu gelondongan dari atas pegunungan saat banjir bandang terjadi. Ia menduga kayu-kayu dari hasil penebangan liar. "Karena nampak dari beberapa jenis pohon yang hanyut ke kota, itu pohon yang sebenarnya bukan karena longsor. Mungkin ada, sejauh ini ada juga yang seperti sudah ditebang," ujarnya.

Kita perlu menggarisbawahi masalah ini. Masalah kerusakan lingkungan akibat perambahan hutan dan penebangan liar terjadi di semua wilayah nusantara ini. Baik di Jawa maupun Luar Jawa. Dampak kerusakannya sudah sangat massif. Semua pihak, baik di dalam maupun luar negeri, sudah berteriak mengkritisi masalah tersebut, namun kerusakan jalan terus.

Akibat yang ditimbulkan sangat mengerikan, terutama banjir dan tanah longsor yang frekuensinya makin banyak. BNPB memperkirakan tahun ini akan terjadi sedikitnya 2.500 bencana, yang sekitar 95% berupa bencana  hidrometerologi. 

Kita minta pemerintah lebih serius dalam membahas persoalan perubahan iklim. Hingga kini Indonesia masih menjadi salah satu negara yang berkontribusi besar menyumbangkan emisi karbon (CO2) bagi pemanasan global. Sesuai data World Resources Institute (WRI) tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke enam dari 10 negara penyumbang karbon terbesar di dunia.

Pemerintah harus lebih serius memperbaiki kerusakan lingkungan seiring masifnya deforestasi (penghilangan hutan) karena lebih mementingkan target-target ekonomi. Penguasaan ruang oleh korporasi-korporasi melalui deforestasi, pembakaran hutan untuk sawit, dan pertambangan memiliki andil dalam menyumbang emisi sehingga terjadi pemanasan global.

Kita sependapat dan ingin menggarisbawahi pernyataan para ahli dan aktifis lingkungan tersebut agar bencana hydrometeorology bisa diatasi, setidaknya dicegah agar tidak semakin parah. Banjir bandang di Sentani merupakan bukti kegagalan kita dalam menjaga lingkungan yang berakibat penderitaan sangat dahsyat. Bila kita terus melakukan pembiaran maka bencana serupa sangat mungkin terjadi di daerah lain, baik di Jawa maupun luar Jawa.



Sumber Berita:Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load