Bencana Terus Terjadi, Kita Harus Makin Bijak

Kamis , 27 Desember 2018 | 07:54
Bencana Terus Terjadi, Kita Harus Makin Bijak
Sumber Foto Washington Post
Kerusakan akibat bencana
POPULER

Sekali lagi kita dilanda  bencana yang dahsyat dengan korban jiwa  dan kerugian material sangat besar. Kejadian di Selat Sunda itu harus menyadarkan kita untuk mengubah pola pikir dan pndekatan dalam menyikapi bencana, termasuk menghargai hasil penelitian dan riset para ahli.

Jumlah korban jiwa di wilayah Banten dan Lampung diperkirakan lebih 500 orang, termasuk jenazah korban yang masih dinyatakan hilang. Ribuan orang mengalami luka-luka, belum terhitung mereka yang kini dalam pengungsian. Seperti pada bencana-bencana sebelumnya, pemulihannya membutuhkan waktu sangat lama dan pengerahan daya upaya yang besar.

Kondisi seperti itu terus berulang dan kita menyikapinya dengan cara yang sama.  Tidak ada upaya kita untuk memperbaiki diri setelah terjadi bencana, sehingga kondisi tersebut terus berulang. Setelah tsunami besar di Aceh (2004) yang meluluhlantakkan wilayah pantai dengan ratusan ribu korban, tak ada upaya yang serius dan terprogram untuk menghindarkan warga bila bencana serupa terjadi. Maka ketika tsunami kemudian terjadi di Lombok, Palu dan Selat Sunda, korban jiwa dan kerugian material pun berulang.

Seolah kita cukup memasang Buoy, alat pendeteksi tsunami di sejumlah tempat. Kenyataannya, alat itu pun banyak yang hilang dan rusak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui banyak  buoy  yang rusak dan hilang. Padahal alat tersebut sangat vital karena dilengkapi sensor ketinggian permukaan air dan berperan mengirimkan informasi ketinggian gelombang saat tsunami terjadi.

Selain pemasangan Buoy, sedikit sekali kebijakan pemerintah untuk merekayasa agar warga lebih siap menghadapi bencana tsunami. Pemerintah juga tidak berusaha merevisi kebijakan pembangunan wilayah pantai, yang seharusnya terbebas dari bangunan. Pemerintah pusat dan daerah justru seolah berlomba atas nama industry pariwisata untuk mengembangkan wilayah pantai.

Ternyata buka hanya hotel, motel  dan berbagai sarana pelesiran lainnya, namun di sejumlah pesisir juga berdiri pabrik dan bangunan industry lainnya. Kecuali pelabuhan yang memang dibangun dengan konstruksi khusus, semestinya pesisir pantai dibebaskan dari bangunan lain.

Kita memang tidak pernah belajar. Bahkan ironis sekali, ada peneliti dipanggil  aparat keamanan karena hasil penelitiannya dipandang meresahkan masyarakat. Padahal untuk kasus Selat Sunda, bukan hanya peneliti kita yang berbicara, melainkan pakar internasional.

Penelitian tentang potensi tsunami di Selat Sunda akibat erupsi gunung Anak Krakatau telah dilakukan oleh Thomas Giachetti, Karim Kelfoun, Raphaël Paris, dan Budianto Ontowirjo. Mereka telah memperkirakan akan adanya potensi tsunami akibat longsornya tanah permukaan gunung berapi tersebut. Dalam jurnal yang berjudul  "Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia"  (2012), para ahli memperkirakan akan adanya potensi tsunami yang menyerang area Selat Sunda ke depannya.

Ramalan ahli tersebut memang tidak bisa menentukan kapan waktunya, namun terbukti bencana telah terjadi dan kita tidak siap. Ada sejumlah penelitian ahli yang mengharuskan kita waspada dan mempersiapkan diri agar korban jiwa dan kerugian material bisa diminimalisir. Misalnya, penelitian mengenai potensi gempa terkait posisi Indonesia yang  terletak di simpang pertemuan tiga lempeng aktif, yaitu Indo-Australia di bagian selatan, Eurasia di bagian utara, dan Pasifik di timur. Pertemuan ketiga lempeng ini menghasilkan lebih dari 70 sesar aktif dan belasan zona subduksi. Juga memunculkan jalur gempa bumi dan serangkaian gunung api aktif di sekujur Nusantara.

Pemerintah dan para ahli semestinya duduk bersama untuk merancang perekayasaan yang harus dilakukan untuk mempersiapkan masyarakat agar siap menghadapi keadaan terburuk. Diperlukan kebijakan yang komprehensif, mulai dari kurikulum sekolah, pelatihan warga, bangunan tahan gempa dan berbagai aspek lain yang diperlukan untuk menghadapi bencana yang terjadi sewaktu-waktu.

Sikap kita harus semakin bijak. Pembangunan kita bukan hanya mengejar kemajuan ekonomi, sehingga harus ada keberanian untuk merevisi orentasinya demi kemanfaatan yang lebih besar.



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load