Reshuffle Kabinet Jelang Pilpres

Rabu , 15 Agustus 2018 | 08:38
Reshuffle Kabinet Jelang Pilpres
Sumber Foto Waspada online
Ilustrasi
POPULER

Kabar akan terjadi perombakan kabinet secara terbatas santer terdengar pekan ini setelah komposisi koalisi partai pendukung Capres/Cawapres terbetuk. Namun mestinya perombakan kali ini tidak semata-mata karena alasan taktis, melainkan perlu dipikirkan bagaimana kabinet bisa tetap bekerja secara maksimal dalam sisa masa jabatan Presiden Joko Widodo ini.

Reshuffle kabinet akan dilakukan berkaitan dengan pengunduran diri Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi (RB) Asman Abnur yang berasal dari Partai Amanat Nasional. Yang bersangkutan mundur karena partainya tidak lagi berada dalam koalisi pendukung pemerintah, melainkan beralih menjadi pengusung pasangan pasangan Capres Prabowo Subianto/Sandiaga S Uno. Ini konsekuensi logis karena tidak mungkin Presiden mempertahankan menteri yang tidak mendukung pemerintahannya.

Ada beberapa kandidat yang dikabarkan sebagai calon kuat pengganti Asma Abnur, antara lain Wakapolri Komjen (Pol) Sjarifuddin, sebagai tokoh non-partai. Beberapa nama lain juga disebut-sebut, termasuk fungsionaris partai politik.

Siapapun yang nanti akan dipilih dan diangkat Presiden Jokowi sebagai Menpan-RB tidaklah masalah karena itu hak prerogative Presiden. Namun semestinya dalam sisa waktu masa pemerintahan yang tinggal satu tahun, Presiden mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih luas. Ia harus memastikan pemerintahannya berjalan solid dan mampu menunjukkan kinerja terbaik dalam mengatsi berbagai persoalan yang terjadi, khususnya di bidang ekonomi.

Tidak ada salahnya bila Presiden sekaligus memperkuat komposisi kabinet dengan tokoh-tokoh yang benar-benar mau dan siap bekerja tanpa diganggu kepentingan partai dan ambisi politiknya. Ini penting dipikirkan karena tantangan jangka pendek dan menengan sangat berat. Di lain pihak kita melihat sejumlah menteri yang berasal dari parpol akan sangat sibuk mengurus kepentingan partainya untuk memenangkan pemilu legislative yang akan datang.

Mereka akan sangat sibuk mengurus pencalonan, berkampanye dan memenangkan suara partainya sehingga perhatian mereka akan terpecah. Situasi ini akan sangat merugikan pemerintahan Jokowi karena performa kabinet akan terganggu karena mereka tidak bisa bekerja maksimal. Padahal tantangan yang dihadapi  sangat besar dan beragam. Terlebih masalah di bidang ekonomi yang harus ditangani secara intensif dan penuh konsentrasi.

Kita juga perlu mengingatkan bahwa partai-partai dalam koalisi pendukung Jokowi juga akan tetap bersaing satu sama lain untuk memperebutkan kursi legislative. Mereka memang mendukung Jokowi dalam Pilpres nanti, namun partai tetap akan berusaha keras memenangkan suara pemilih untuk mencoblos kandidatnya di lembaga legislative. Tidak ada jaminan suara partai akan terdongkrak hanya dengan mendukung Jokowi, melainkan mereka harus bekerja keras memperebutkan suara rakyat.

Situasi iitu pasti akan sangat mempengaruhi kinerja para menteri asal parpol sehingga mereka tidak bisa diharapkan lagi bekerja secara maksimal. Maka momentum penggantian Asman Abnur semestinya digunakan Presiden Jokowi untuk melakukan penggantian para menteri asal parpol dengan tokoh lain yang siap berkonsentrasi untuk menyelesaikan program pemerintah. Akan lebih bisa diharapkan bila mereka dari non partai.

Tentu saja, hal tersebut akan mengecewakan partai pendukung, namun kinerja pemerintahan akan lebih terjaga dan solid. Presiden semestinya lebih mementingkan orientasi kabinet pada sebesar-besar kepentingan masyarakat umum. Hal itu bisa lebih diharapkan bila kabinetnya professional dan terbebas dari kepentingan partai.

Kita semua mengetahui tantangan yang dihadapi setahun ke  depan sangat berat, bukan saja di bidang politik, terlebih lagi di bidang ekonomi. Kinerja perekonomian nasional akan menjadi pertaruhan Jokowi dalam kompetisi Pilpres nanti. Bila berhasil mengatasi berbagai keruwetan ekonomi akan menjadi poin plus, sebaliknya bila gagal akan sangat merugikan.

Ini tantangan besar pemerintah. Namun bebannya bisa dikurangi  bila Presiden bertindak tepat dan lugas dalam merespon perkembangan yang terjadi. Kita berharap Presiden Jokowi bertindak tepat. Yaitu, menggunakan momentum ini untuk memilih dan menyusun kembali komposisi kabinetnya dengan tokoh-tokoh yang benar-benar mampu bekerja dan tidak direcoki kepentingan partai dan golongannya.

 

 

 



Sumber Berita:Berbagai sumber
KOMENTAR