Cawapres Ma‘ruf Amin, Plus Minus

Kamis , 09 Agustus 2018 | 19:28
Cawapres Ma‘ruf Amin, Plus Minus
Sumber Foto Istimewa
MUI

JAKARTA--Presiden Joko Widodo dan pimpinan partai koalisi pendukungnya tampaknya sangat memperhatikan pernyataan PB Nahdlatul Ulama (NU) dalam memilih calon Wakil Presiden (Cawapres) untuk Pilpres tahun depan. Pemilihan nama KH Ma'ruf Amin mengalahkan Mahfud MD menunjukkan bahwa mereka tidak mau mengambil resiko kaburnya massa pemilih NU.

Ma'ruf Amin baru saja diumumkan Presiden Jokowi dan pimpinan partai koalisi Kamis petang ini. Padahal beberapa menit sebelumnya nama Mahfud MD masih sangat kuat dan dipandang sebagai pilihan paling masuk akal untuk menggantikan posisi Jusuf Kalla (JK), mendampingi Jokowi nanti. Mahfud adalah intelektual yang sangat berpengalaman memimpin sejumlah lembaga pemerintahan dan lembaga negara, selain masih enerjetik karena usianya relatif muda.

Keputusan untuk memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tampaknya bukan langkah yang mudah bagi Jokowi, Megawati Soekarnoputeri (PDIP), Surya Paloh (Nasdem, Airlangga Hartarto (Golkar), Osman Sapta Odang (Hanura), Romahurmuzy (PPP) dan Muhaimin Iskandar (PKB). Apalagi Airlangga, Muhaimin dan Romy awalnya juga termasuk kandidat Cawapres yang ikut diperhitungkan.

Mengerucutnya nama Ma'ruf Amin tak bisa dilepaskan dengan pernyataan petinggi PBNU yang meragukan Mahfud MD sebagai kader NU. Bahkan terdengar suara bahwa NU tidak bertanggungjawab atas keterpilihan Jokowi dalam Pilpres nanti bila tetap memilih Mahfud. Padahal sejatinya Mahfud lahir dalam keluarga NU, hanya saja belum pernah menjadi pengurus NU maupun organisasi mantelnya.

Kini apa kelebihan dan kekurangan Ma'ruf Amin? Ada beberapa keraguan terhadap tokoh asal Tangerang ini, terutama karena usianya yang sudah 75 tahun. Bila terpilih, Ma'ruf harus menjadi pendamping utama Jokowi selama lima tahun (2019-2024), dalam irama koalisi yang mempertegas motto: Indonesia Kerja. Langgam dan irama kerja kabinet akan lebih cepat, yang pasti sangat menguras tenaga dan fikiran.

Tapi apa bolah buat. Jokowi tampaknya tak mau ditinggal pergi massa NU, yang secara hitung-hitungan kasar mencakup sekitar 25% penduduk negeri ini. Jumlah itu tentu sangat besar untuk diabaikan. Apalagi, massa NU umumnya memegang teguh arahan para Kyai. Mereka selalu berkata, sami'naa wa atho'naa (Aku mendengar dan aku mengikutinya).

Pertanyaannya, apakah sosok Ma'ruf Amin cukup menarik bagi pemilih milenial? Apakah mereka akan memilih ulama atau  mencari figur lain yang lebih segar, dinamis dan kreatif serta memberikan inspirasi bagi kemajuan negeri ini ke depan? Ini mungkin akan menjadi tantangan besar bagi pasangan Jokowi-Ma'ruf. Jangan salah, lapisan pemilih muda juga sangat besar jumlahnya.

Kita masih menunggu keputusan kubu penantangnya, Prabowo Subianto  dan para pimpinan partai koalisinya. Ada kabar Prabowo memilih Sandiaga Uno, tokoh muda pebisnis sukses yang kini menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta. Apakah Sandi atau Ma'ruf yang memberikan nilai plus bagi pencalonan Jokowi dan Prabowo, kita tunggu saja.



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR