Penurunan Kurs Rupiah Harus Makin Diwaspadai

Minggu , 08 Juli 2018 | 09:00
Penurunan Kurs Rupiah Harus Makin Diwaspadai
Sumber Foto Ilustrasi
Ilustrasi
POPULER

Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan sukubunga acuan 50 basis poin menjadi 5,25% ternyata belum meredam gejolak gejolak kurs rupiah. Hingga akhir pekan lalu kurs rupiah terus menurun, bahkan sudah menyentuh Rp 14.400 meski kemudian naik lagi. Kita patut mengkhawatirkan batas psikologis bertambah dekat yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan semakin massif.

BI sudah mengeluarkan semua jurusnya, namun hasilnya tidak seperti diharapkan semula. Tinggal pemerintah yang belum menunjukkan kinerjanya  dengan baik untuk mendorong ekspor agar neracanya tidak terus negative, selain menjaga kepercayaan investor asing agar tetap menempatkan dananya disini.

Data-data terakhir memang sangat tidak menggembirakan. Gejolak kurs rupiah telah menyedot cadangan devisa (cadev) yang terus merosot dalam beberapa  bulan terakhir. BI baru saja mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) kita akhir Juni lalu turun US$ 3,1 milyar dari bulan sebelumnya, menjadi US$ 119,8 miliar.

Angka penurunan tersebut semakin besar dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Pada Mei lalu penurunannya US$ 2 miliar dari posisi akhir April. Artinya, jumlah cadev yang digunakan BI untuk intervensi pasar dalam upaya mengamankan kurs rupiah lebih besar dari sebelumnya.

Kondisi terlihat makin sulit karena kinerja perekonomian yang belum membaik. Kita bisa melihatnya antara lain dari neraca perdagangan yang tetap negative dan terjadi defisit. Selama lima bulan pertama tahun ini (Januari-Mei) defisitnya sudah sebanyak US$2,8 milyar.

Ditambah dengan tekanan internasional yang kurang kondusif, terlihat kecenderungan investor asing menarik dana-dananya dibawa keluar. Lihat saja data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak Januari hingga pekan ini nilai jual bersih (net sell) investor asing sudah mencapai Rp 50 trilyun lebih.

Bisa dipahami bahwa cadangan devisa kita makin tergerus. Apalagi kebutuhan pemerintah sendiri untuk membayar kewajiban bunga dan cicilan utang luar negeri juga terus meningkat. Jumlah yang tersisa sekarang memang masih terbilang aman dilihat dari standar kebutuhan kecukupan tiga bulan impor, namun penurunan yang berlanjut tentu merupakan indikator yang mengkhawatirkan.

Kita bisa memperhitungkan beberapa kemungkinan yang mengkhawatirkan sebagai dampak kondisi saat ini. Pertama, aliran modal asing yang keluar (capital outflow) bisa semakin besar. Kedua, beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah maupun korporasi makin besar sehingga menimbulkan resiko gagal bayar.

Ketiga, penguatan kurs dollar akan sangat merisaukan, karena kita net importer minyak. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. Keempat, dampak lebih lanjutnya adalah ancaman kenaikan harga barang mengingat porsi bahan baku impor juga sangat besar.  

Kita tahu bahwa beberapa jenis barang konsumsi kita masih diimpor, seperti gandum, beras, gula, kedelai dan aneka jenis lainnya. Kenaikan kurs US$ yang berlanjut akan menyebabkan harga barang terkerek naik sehingga menimbulkan beban berat konsumen.

Beberapa ekonom menyatakan angka psikologis yang menuntut kewaspadaan sangat tinggi bila penurunan kurs rupiah menyentuh Rp 14.800. Angka tersebut tak mustahil tertembus bila tidak ada langkah terobosan dalam meredam gejolak kurs. Kita jangan menipu diri dengan mengatakan keadaan akan baik-baik saja karena keadaan buruk bisa terjadi secara mendadak bila secara psikologis pemilik dana tidak lagi mempercayai nilai rupiah.

Menjadi semakin penting bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga agar tidak menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut. Kita mengharapkan pemerintah bersama BI lebih fokus dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasokan barang kebutuhan pokok. Dampaknya bisa sangat besar bila pemerintah tidak cermat mengamati dan mengelola perkembangan harga di lapangan, apalagi yang menyangkut kepentingan dan kebutuhan pokok masyarakat luas.

 

 



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR