Pemogokan Pilot Garuda Tak Perlu Terjadi

Minggu , 03 Juni 2018 | 10:24
Pemogokan Pilot Garuda Tak Perlu Terjadi
Sumber Foto Jawa Pos
Para pilot dan karyawan Garuda
POPULER

Ancaman mogok kerja yang disampaikan oleh para pilot dan awak pesawat Garuda Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Apalagi saat ini menjelang libur panjang Lebaran, ketika kebutuhan layananan jasa transportasi justru meningkat tinggi. Oleh karena itu perlu ada antisipasi yang baik dari seluruh pemangu kepentingan (stake holders) agar masyarakat luas tidak dirugikan.

Ancaman para pilot dan karyawan tersebut sebenarnya sudah dilontarkan tahun lalu dengan harapan agar pemerintah mendengar dan mengabulkan tuntutan mereka. Rupanya tidak ada respons yang memadai sehingga mereka kembali menyampaikannya bulan ini. Dalam waktu dekat ini, termasuk saat libur Lebaran, mereka akan mewujudkan ancamannya bila tidak diperoleh jalan keluar yang memadai.

Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Karyawan Garuda (SEKARGA) yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Serikat karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) menggunakan alasan kinerja perusahaan yang semakin buruk. Biang keladinya, menurut mereka,  adalah salah urus perusahaan oleh orang-orang yang dinilai tidak kompeten. Kerugian perusahaan makin besar, meski postur direksinya bertambah gemuk.

"Kami sudah mencoba memberikan masukan kepada Menteri BUMN sejak tahun 2017 tetapi tidak mendapat respon yang diharapkan," tegas pernyataan yang ditandatangani oleh Ketua Umum SEKARGA, Ahmad Irfan dan Presiden APG, Bintang Hardiono.

Mereka juga menilai telah terjadi miss management dalam pengelolaan perusahaan  yang harus segera diselesaikan pemerintah. "Rencana mogok ini sebenarnya merupakan bukti kecintaan kami kepada Garuda Indonesia agar permasalahan miss management yang terjadi di tubuh Garuda Indonesia dapat diselesaikan oleh Pemerintah,” tulis pernyataan tersebut.

Saat ini harga saham GIAA tercatat hanya Rp 254 per lembar (31 Mei) jauh menurun dibandingkan saat IPO senilai Rp 750 per lembar.  

Menanggapi rencana pemogokan tersebut, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Hengki Heriandono, mengatakan manajemen Garuda Indonesia masih membuka ruang diskusi dengan Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG). "Agar menemukan titik temu," ujarnya beberapa hari lalu.

Kita mengkhawatirkan pemogokan tersebut justru akan membuat Garuda Indonesia terperosok lebih dalam lagi. Kemelut ini tentu akan menurunkan kepercayaan masyarakat konsumen, baik di dalam maupun luar negeri, yang mengkhawatirkan kualitas pelayanannya akan menurun. Hal tersebut akhirnyal memperburuk kondisi keuangan perusahaan.

Kita meminta pemerintah turun tangan untuk menyelesaikan kemelut internal tersebut. Manajemen Garuda akan kesulitan dalam negosiasi karena mereka menjadi pihak yang disorot oleh para pilot dan karyawan. Kasus Garuda tersebut membutuhkan political will pemerintah untuk bersedia mengoreksi kebijakannya, termasuk merombak direksi dan manajemen perusahaan tersebut.

Masalah ini tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Pemogokan tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi Garuda sendiri, melainkan juga berdampak luas. Misalnya, PT Angkasa Pura sebagai pengelola bandara tentu harus mengantisipasi penumpukan penumpang. Demikian pula bisnis pengiriman barang yang selama ini mengandalkan kargo Garuga juga akan terganggu.

Yang pasti, aksi mogok tersebut akan mencoreng nama baik Indonesia di dunia penerbangan internasional. Sebab, Garuda tidak hanya mengangkut penumpang untuk penerbangan domestik, tapi juga internasional.

Kita senantiasa mendukung para pihak, termasuk pemerintah, untuk duduk bersama melakukan musyawarah agar diperoleh jalan keluar yang baik, sepadan dan bermartabat. Masalah yang dihadapi mungkin sangat pelik, namun sesulit apapun harus bisa dicarikan jalan keluarnya. Kalau kita gagal dan pemogokan benar terjadi, maka malapetaka mungkin saja akan nyata terjadi di depan mata.



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR