Perry Mewarisi Pelemahan Kurs Rupiah

Rabu , 23 Mei 2018 | 09:19
Perry Mewarisi Pelemahan Kurs Rupiah
Sumber Foto Bukamata.co
Gubernur BI yang baru, Perry Warjoyo
POPULER

Rabu (23/5) ini adalah hari terakhir Agus DW Martowardojo sebagai gubernur Bank Indonesia (BI). Mulai besok, kepemimpinan BI berganti. Agus akan digantikan oleh Perry Warjiyo. Banyak pekerjaan rumah yang harus dipikul pejabat baru dalam upaya menciptakan stabilitas makro ekonomi dan mendukung pembangunan.

Berbeda dengan Agus yang berlatarbelakang sebagai bankir, Perry adalah ahli moneter yang lama menekuni pekerjaan di bidang riset dan penelitian. Tak mengherankan bila Perry menyatakan kekagumannya atas kepemimpinan Agus di BI. “Dengan leadership yang kuat, Agus telah melakukan banyak transformasi di BI khususnya sejak tahun 2014," kata Perry ketika menjalani fit and proper test di DPR beberapa waktu lalu.

Transformasi yang dilakukan Agus antara lain pembangunan bauran kebijakan BI, penguatan organisasi, penguatan sumber daya manusia (SDM) berbasis kinerja, serta penguatan tata kelola. Perry menyebut, secara keseluruhan telah banyak transformasi yang dilakukan Agus.  Kiranya pantas bila Agus pernah memperoleh berbagai pujian internasional, termasuk penghargaan The Central Bank Governors of The Year 2017, East Asia Pacific, yang diberikan oleh majalah Global Markets (bagian dari Euromoney Institutional Investor).

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk., Jahja Setiatmadja pernah memuji dan mengapresiasi kepemimpinan Agus di BI yang berhasil membawa sistem moneter ke rezim suku bunga rendah. “Kita ini sudah bunga rendah, harus disyukuri,” kata Jahja.

Kini Perry harus mengambilalih kepemimpinan BI dalam situasi yang berbeda dengan Agus lima tahun lalu. Salah satu indikator penting, nilai tukar rupiah  pada saat Agus dilantik (Mei 2013) adalah sekitar Rp 9.700. Kini posisi kurs rupiah makin melemah, sudah tembus Rp 14.200 per US$1. BI akhirnya mengikuti saran berbagai pihak untuk menaikkan sukubunga acuan sebanyak 25 basis poin menjadi 4,5%, namun hingga hari ini belum terlihat efektif meredam penurunan kurs rupiah.

Tentu saja tidak adil bila pelemahan kurs rupiah tersebut ditimpakan sebagai kesalahan BI selama kepemimpinan Agus. Sebab, pelemahan kurs rupiah terjadi karena beberapa aspek lain, terutama kondisi neraca transaksi berjalan (current account) yang selalu defisit, demikian pula neraca pembayaran (balance of payment) kita.Pada tahun ini diperkirakan defisit transaksi berjalan bisa mencapai US$23 milyar.

Belakangan ini BI lebih banyak melakukan intervensi moneter untuk menghadapi gejolak kurs, berupa penjualan valas besar-besaran di pasar uang. Namun akibatnya jumlah cadangan devisa terus menyusut. Pada akhir tahun lalu cadangan devisa masih sekitar US$131 milyar, namun pada akhir April tinggal US$124,9 milyar. Diperkirakan Mei ini penyusutannya lebih besar karena derasnya gejolak kurs yang menyebabkan nilai rupiah terus menurun.

BI dikabarkan akan kembali menaikkan sukubunga acuan (reserve repo rate) untuk meredam gejolak. Mudah-mudahan berhasil. Namun ini berarti “rejim bunga rendah” yang dikatakan oleh Dirut BCA Jahja akan mulai dipertanyakan. Akibat lainnya, bunga deposito akan terkerek naik dan tentu saja bunga kredit bank.

Dalam masa kepemimpinan Agus terjadi pemisahan tugas pengawasan perbankan yang semula ditangani BI kemudian dilimpahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun Agus dalam keterangannya di DPR pekan ini mengkritik perbankan nasional yang menarik marjin bunga bank (interest margin) terlalu besar, yaitu sekitar 5%, sebaiknya 2,5%. Keuntungan besar dari marjin bunga tersebut merupakan salah satu penyebab perbankan nasional malas melakukan ekspansi ke luar negeri.

Masalah-masalah ini akan menjadi tanggungjawab Perry Warjiyo. Ia tidak hanya bertugas menjaga stabilitas makro ekonomi, melainkan juga mendukung pemerintah dalam menggairahkan kegiatan usaha dan investasi. Harapan Presiden Joko Widodo kepada Perry tentu sangat besar. Selain sama-sama berasal dari Solo, Perry juga ahli moneter yang berlatarbelakang keluarga petani. Ia diharapkan mampu mengawinkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas makro, namun juga mendorong peningkatan usaha dan investasi.

Tentu saja bukan ringan beban Perry.  Situasi yang kini dihadapi bisa dilematis karena beberapa aspek yang rentan. Kita mengharapkan Perry bijak dalam mengambil kebijakan sehingga BI makin memberikan kontribusi bagi stabilitas moneter dan mendorong pembangunan ekonomi nasional.



Sumber Berita:Berbagai sumber
KOMENTAR