'Saya Rindu Kampung Pulo yang Dulu, Sepi dan Asri'

Pin It

SH / Edy Wahyudi

CILIWUNG-Kampung Pulo, dulu dengan Ciliwung yang jernih dan jadi tempat pemancingan, sekarang kotor dan penuh bangunan.

Pasar Mester dulu merupakan urat nadi perekonomian Batavia.

Banjir yang merendam kawasan Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, sejak Sabtu (22/2) malam mulai surut pada Minggu (23/2) sore.

Warga yang sebelumnya mengungsi di emperan toko depan Jalan Jatinegara Barat mulai kembali ke rumah masing-masing. Mereka mulai kembali membersihkan sampah dan lumpur yang berada di rumah mereka.

Seperti sudah terbiasa, warga seolah tidak terganggu dengan sampah dan lumpur yang mengeluarkan bau busuk. Mereka tetap tenang melakukan bersih-bersih itu, meski air masing tergenang setinggi lutut.

Seorang kakek yang kebetulan melintas berseloroh kepada warga agar tidak membersihkan sampah dan lumpur itu. "Sudahlah, nggak capai ya bolak-balik bersihin sampah banjir. Nanti habis dibersihi banjir lagi," ujar kakek bernama Djahidi itu kepada SH, Minggu.

Kakek berusia 75 tahun itu kemudian duduk di siku pembatas teras yang tidak terendam banjir. Sambil memandang warga yang sibuk membersihkan rumah, Djahidi bercerita bagaimana Kampung Pulo terdahulu. "Saya rindu Kampung Pulo yang dulu, masih sepi dan asri karena banyak pohon dan tidak ada rumah di pinggir kali," ucapnya.

Menurutnya, Kali Ciliwung yang membelah kawasan Kampung Pulo di timur dan Bukit Duri di barat dulunya adalah aliran sungai yang indah. Airnya jernih dan tidak banyak sampah, membuat banyak warga dari luar Jatinegara mendatangi kali tersebut. "Kalinya dalam dan lebar. Tidak ada sampah, jadi banyak ikan. Nah, karena itu, banyak yang memancing di sini," kata Djahidi.

Ia mengatakan, Kampung Pulo awalnya adalah tanah kosong yang status kepemilikannya berada di pemerintah Belanda.

Menurutnya, setelah Indonesia merdeka, secara lisan tanah-tanah di sana diberikan Belanda kepada masyarakat Indonesia. "Tapi, tidak langsung ramai seperti sekarang karena memang sejak awal tidak diperbolehkan membangun rumah di pinggir kali seperti sekarang ini," Djahidi mengungkapkan.

Ia melanjutkan, kawasan Jatinegara, tepatnya Pasar Mester, sejak dulu merupakan urat nadi perekonomian Batavia.

Karena itu, banyak masyarakat yang berkegiatan usaha di kawasan tersebut. Awalnya, kata Djahidi, umumnya mereka yang tinggal di sekitar Pasar Mester atau Pasar Jatinegara adalah warga keturunan Arab dan Cina. "Itu pun hanya di pinggiran Kampung Pulo atau di Jalan Jatinegara Barat," tuturnya.

Ia menambahkan, seiring berjalannya waktu dan semakin ramainya kegiatan ekonomi di kawasan tersebut, banyak warga yang bekerja di Pasar Mester memilih tinggal di kawasan Kampung Pulo.

Menurutnya, Kampung Pulo dipilih sebagai hunian karena letaknya sangat dekat dengan pasar tersebut. "Mulailah, ada rumah di Kampung Pulo. Tapi sampai pemerintahan Ali Sadikin, tidak boleh rumah didirikan di pinggir kali. Jadi, tetap ada aturan jarak, tidak seperti sekarang," ujarnya.

Djahidi menambahkan, saat itu kawasan Kampung Pulo sudah dilanda banjir karena luapan Kali Ciliwung. Namun menurutnya, banjir terbilang jarang dan intensitasnya tidak seperti sekarang. "Dulu banjir paling hanya beberapa jam sudah surut. Rumah juga tidak terlalu banyak, jadi dampaknya tidak terlalu parah," tutur Djahidi.

Pria yang sempat menjabat sebagai ketua RT 0703 ini mengungkapkan, sekitar tahun 1980, semakin banyak rumah yang berdiri di Kampung Pulo. Rumah-rumah bahkan mulai didirikan di bantaran Kali Ciliwung.

"Karena rumah mulai ramai, akhirnya banyak yang mendirikan rumah di pinggir kali. Intinya, itu disebabkan keserakahan pihak RT, RW, ataupun lurah pada zaman itu. Karena ada uang, izin diberikan," Djahidi menjelaskan.

Di era tahun sekitar 1990, ia melanjutkan, mulai terjadi banjir besar. Menurutnya, selain karena banyak bangunan di Kampung Pulo, tata kota Jakarta kian memburuk.

Ia berpendapat, berkurangnya tangkapan air secara besar-besaran membuat air hujan seluruhnya mengalir ke Kali Ciliwung dan meluap ke permukiman di sekitarnya. "Nah, situasinya terus-menerus seperti itu sampai sekarang, banjir besar terus. Bahkan tahun ini yang paling parah," kata Djahidi.

Karena itu, pria yang sempat menjadi pedagang daging sapi di Pasar Jatinegara ini berharap, baik warga maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bisa sama-sama sepikiran untuk melanjutkan program relokasi yang sudah dicanangkan.

Menurutnya, lebar Kali Ciliwung yang dulu sekitar 30 meter harus dikembalikan. "Ya, paling tidak rumah yang di pinggir kali bisa dijadikan pelebaran. Itu karena sekarang paling lebar kali hanya sekitar 5 meter," ucap Djahidi.

Sebagai warga Kampung Pulo yang kerap merasakan dampak banjir, Djahidi mengaku siap menerima rencana Pemprov DKI untuk merelokasi warga di sana.

"Sebenarnya Kampung Pulo yang saya tahu itu adalah permukiman yang indah. Tapi ya sudah, capai juga begini, bolak-balik kebanjiran. Jadi, memang lebih baik pindah," ia mengungkapkan.


Sumber : Sinar Harapan