KELESUAN EKONOMI BISA BERLANJUT

TINGKAT KONSUMSI RUMAHTANGGA MENURUN TAHUN LALU. BEBERAPA PERITEL ASING TUTUP TOKO

Pin It

istimewa /

JAKARTA--Paparan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai penurunan tingkat konsumsi rumah tangga nasional selama tahun lalu hanya mengkonfirmasi perkiraan yang sudah dikemukakan para pengamat dan pelaku usaha. Kecenderungan itu bisa terus berlanjut tahun ini bila tidak ada langkah-langkah antisipatif yang memadai.

BPS Senin (5/2) mempublikasikan penelitiannya mengenai pelambatan tingkat konsumsi rumah tangga secara nasional tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pelambatan tersebut terjadi di kuartal IV-2017 yang berada di level 4,97% dibanding dengan kuartal IV-2016 yang sebesar 4,99%.

"Kalau dibanding triwulan III-2017 lebih tinggi, tapi dibanding triwulan IV-2016 4,99% memang sedikit terlambat di sana. Semuanya tumbuh tapi ada yang tumbuh tinggi dan ada yang tumbuh lambat," katanya.

Hampir semua sektor mengalami pelambatan. Sektor makanan dan minuman, kemudian komponen pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya, komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga, demikian pula transportasi dan komunikasi. Sektor yang tumbuh lebih baik adalah restoran dan hotel,  tumbuh 5,53% atau lebih bagus dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 5,40%, demikian pula jasa kesehatan dan pendidikan.

Konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi yang paling tinggi dalam struktur pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 56,13%, disusul investasi dan ekspor. Indikasi penurunan tingkat konsumsi rumah tangga tahun lalu sudah lama disuarakan oleh pengamat dan dunia usaha. Masyarakat juga melihat indikasinya pada penutupan beberapa toko ritel, baik yang kelas menengah maupun kelas atas.

Awal tahun ini penutupan sejumlah toko ritel terus berlanjut. Pekan ini manajemen PT Anglo Distrindo Antara memastikan akan merumahkan seluruh karyawan setelah penutupan seluruh gerai Clarks Indonesia berlangsung mulai 28 Februari nanti. “Kami akan menutup seluruh gerai. Imbasnya, seluruh karyawan akan dirumahkan. Kami memastikan menyelesaikan seluruh kewajiban kepada seluruh karyawan dan pelayan toko,” kata Rubby Destrison, Perwakilan Manajemen Anglo Distrindo Antara, seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Clarks Indonesia menutup seluruh operasionalnya di Indonesia setelah penjualan sepatu anjlok hingga 50 persen. Beberapa toko ritel yang juga dikabarkan akan tutup antaralain adalah pemegang merk asal  Amerika, Banana Republic, yang memiliki gerai di Pondoh Indah Mall 2, Jakarta Selatan. Ritel  Dorothy Perkins yang menjual pakaian anak-anak asal Inggris juga menutup tokonya di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

PT Gilang Agung Persada selaku distributor dan pemegang merek produk pakaian asal Amerika Serikat, GAP dan Banana Republic di Indonesia dikabarkan akan menutup seluruh gerai kedua merek tersebut pada akhir bulan ini.  Dua gerai GAP yang tersisa, yaitu di Tunjungan Plaza, Surabaya dan Grand Indonesia, Jakarta, juga ditutup.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa para peritel belum mau mengambil resiko untuk melanjutkan usaha mereka karena terus merugi. Setidaknya mereka belum melihat “Tahun Politik” ini memberikan rangsangan positif untuk bertahan. Tahun ini dan tahun depan tampaknya belum memberikan harapan lebih cerah bagi investor sehingga mereka memutuskan tindakan yang cukup drastis.

Kita mengkhawatirkan kecenderungan ini akan menimbulkan akibat yang makin negative. Hal tersebut semesatinya dicermati dengan seksama oleh pemerintah dan pelaku usaha. Dunia usaha dan pengamat sejak tahun lalu melihat indikasi ketidaksinkronan antara indikator makro dan kondisi mikro. Indikator makro yang membaik nyatanya tidak dirasakan para pengusaha retail. Salah satu sebabnya adalah penurunan daya beli masyarakat sehingga kurang mendorong pertumbuhan sektor riil.

Masalah ini harus disikapi dengan tepat dan bijaksana oleh pemerintah. Maksudnya, bila kelesuan belanja rumahtangga disebabkan karena penurunan daya beli masyarakat hal tersebut tentu sangat mengkhawatirkan. Kiranya telah terjadi kesenjangan (gap) antara berbagai indikator makro yang bagus dengan kondisi mikro yang menunjukkan sebaliknya.

Bila asumsi ini benar, maka timbul pertanyaan sejauhmana tingkat keberhasilan kebijakan pemerintah dalam menggerakkan perekonomian nasional dan imbasnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. Jangan sampai kondisi perekonomian hanya bagus dalam angka, namun tidak demikian halnya dalam realita di lapangan.

Kita mengkkawatirkan bila tidak ada langkah-langkah yang tepat maka kondisi ini akan semakin menurun. Tentu saja hal tersebut bukan kredit yang bagus bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam menghadapi Pilpres tahun depan.

 

 

 


Sumber : BERBAGAI SUMBER