SUPER BLUE BLOOD MOON TERLIHAT DI JAKARTA

DI LEMBANG BANDUNG BARAT MASIH TERTUTUP AWAN.

Pin It

youtube.com /

Super blue blood moon di langit Jakarta.


JAKARTA - Fenomena alam "Super blue blood moon" dapat dinikmati dengan mata telanjang di Jakarta meski awan tidak terlalu cerah.

Pantauan pada pukul 19.00 WIB gerhana bulan telah dimulai. Pada pukul 19.16 WIB bulan sempat tertutup awan sebentar. Diperkirakan bulan tertutup sempurna pada pukul 19.51 WIB hingga 20.29 WIB.

Gerhana total berakhir pukul 21.08 WIB, namun gerhana bulan sebagian masih bisa disaksikan hingga pukul 22.11 WIB. Peristiwa terakhir terjadi pada 152 tahun yang lalu itu kan berakhir pada pukul 23.09 WIB, maka total durasi gerhana beelangsung selama lima jam 20,2 menit.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan peristiwa ini hanya terjadi 150 tahun sekali di lokasi yang sama.

Dia mengatakan supermoon adalah penampakan bulan penuh dengan tingkat lebih terang dan besar dari biasanya karena posisi bulan dan bumi sangat dekat. Pada waktu yang sama, purnama dan gerhana akan tampak lebih besar dari biasanya.

Istilah bulan biru itu merujuk pada fenomena terjadinya gerhana dua kali dalam bulan yang saja, yaitu pada Januari. Gerhana ini terjadi pada awal dan akhir Januari.

Istilah blood moon itu merujuk pada penampakan bulan yang cenderung berwarna merah. Warna merah darah itu terjadi saat bulan memasuki area bayangan bumi di bagian umbra atau ketika gerhana bulan total memasuki fase puncaknya.

Sementara itu, pengamatan Gerhana bulan di Lembaga Observatorium Boscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, hingga pukul 19.20 WIB masih tertutup awan.

Di dalam kawasan observatorium, masyarakat umum tidak diperkenankan masuk ke sekitar lokasi, hingga banyak di antara mereka memilih pulang. Hanya beberapa orang saja yang memiliki izin khusus bisa masuk ke kawasan observatorium.

Alasan ditutupnya Boscha, karena pengamatan yang akan dilakukan khusus untuk keperluan penelitian sehingga tidak boleh ada gangguan di sekitar lokasi.

"Liputan hanya di area tertentu yang sudah disediakan. Di lokasi penelitian tetap tidak boleh ada orang lain selain staf peneliti," ujar salah satu staf Observatorium Boscha, Denny Manndey di lokasi malam ini.


Sumber : antaranews.com