TAK ADA KEJUTAN RESHUFFLE KABINET

MASUKNYA IDRUS JUSTRU MENIMBULKAN PERTANYAAN KARENA DIA PENDUKUNG SETIA NOVANTO

Pin It

INDOWARTA.COM /

Tidak ada kejutan dalam perombakan kebinet yang dilakukan Preiden Joko Widodo pekan ini, kecuali masuknya Idrus Marham dan akomodasinya atas  tokoh-tokoh lama. Presiden ternyata tidak ingin mengguncang kabinetnya untuk mengganti menteri-menteri yang kinerjanya rendah dan tidak memuaskan public.

Jokowi, mungkin saja, mempertimbangkan dalam masa kepemimpinannya yang tinggal satu tahun tidak semestinya membuat guncangan cabinet. Sebab salah-salah bisa menurunkan prestasi cabinet yang sudah tidak terlalu bagus.

Maka, masuknya Sekjen DPP Golkar Idrus Marham ke kabinet sangat mungkin hanya atas pertimbangan memperkuat dukungan partai beringin dalam Pilpres nanti. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, yang semula dispekulasikan akan diganti setelah resmi menjabat Ketua Umum Golkar, ternyata dipertahankan. Jokowi tak ingin Golkar pindah ke lain hati.

Tapi penunjukkan Idrus menimbulkan tandatanya bagi banyak orang. Tokoh ini pendukung setia Setya Novanto, yang kini meringkuk di tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tuduhan terlibat kasus korupsi pengadaan KTP elektronik (e-KTP). Kepercayaan Novanto juga sangat tinggi, terlihat dari suratnya waktu meminta Idrus menggantikan posisinya sebagai pelaksana tugas Ketua Umum Golkar.

Dengan demikian tidaklah jelas alasan, pertimbangan dan pertimbangan Jokowi menunjuk Idrus sebagai pengganti Khofifah Indarparawangsa. Bagi banyak pihak, tidaklah elok Jokowi justru mempercayainya masuk dalam kabinet. Maksudnya, integritas dan kredibilitas tokoh tampaknya tak terlalu menjadi pertimbangan Jokowi, kecuali untuk memperkuat dukungan Golkar dalam Pilpres tahun depan.

Padahal kasus-kasus korupsi yang menjerat sejumlah kader Golkar telah menggerus kepercayaan masyarakat sehingga sangat mungkin perolehan suaranya akan menurun dalam Pemilu nanti. Naiknya Airlangga Hartarto tak cukup untuk mendongkrak kembali  suara partai beringin karena tokoh ini dipandang lebih elite dan tidak cukup dekat dengan grass roots.

Perombakan kabinet kali ini juga tidak memperlihatkan koreksi tajam Jokowi terhadap anggota kabinetnya yang kinerjanya buruk. Sekalipun Jokowi beberapa kali melontarkan kritik keras kepada sejumlah menteri, ternyata tidak berujung pada pencopotan. Dari sini bisa dilihat bahwa Jokowi tidak ingin timbul guncangan di pemerintahan menjelang Pilpres nanti. Dalam kabinet juga masih ada kader Partai Amanat Nasional (PAN), partai yang  dalam beberapa hal berseberangan dengan pemerintah.

Stabilitas pemerintah sangat diperlukan untuk mempertahankan prestasi kerja yang dicapai tiga tahun terakhir agar tidak merosot. Publik tidak  puas terhadap prestasi ekonomi kabinet ini, termasuk gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi. Kalau kabinet sampai guncang, bisa-bisa tahun terakhir justru bertambah buruk.

Tentang masuknya Jenderal Moeldoko dan Agum Gumelar ke lingkaran terdekat Presiden, bukanlah suatu kejutan, namun juga tak memberikan dampak apapun. Moeldoko menjadi Kepala Staf Presiden (KSP), sedangkan Agum menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Dua posisi yang tidak bersifat eksekutif, dan itu cocok bagi keduanya. Jokowi tampaknya ingin memperkuat jajaran jenderal pensiunan untuk menambah kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.

Kita tentu mengucapkan selamat kepada Idrus, Moeldoko dan Agum. Namun kita juga menunggu kinerja mereka untuk rakyat  dan apa yang bisa mereka sumbangkan dalam memperbaiki kinerja pemerintahan Jokowi setahun ke depan. Semoga mereka bisa menunjukkan prestasi kerja, setidaknya jangan justru menjadi beban.


Sumber : BERBAGAI SUMBER