TAHUN YANG TAK MUDAH

SELAIN BANYAK "PILKADA RASA PILPRES" PILIHAN KEBIJAKAN JUGA MAKIN SEMPIT

Pin It

istimewa /

Pertumbuhan ekonomi tahun 2017 ternyata tidak sebagus yang diharapkan pemerintah. Tahun ini, dalam iklim dan cuaca politik yang agak kurang bagus, bisa diperkirakan perkembangannya tidak lebih mudah, apalagi kalau pemerintah tak mengambil prakarsa yang mendorong peran swasta lebih besar lagi.

Tahun ini akan banyak “Pilkada Rasa Pilpres” di sejumlah daerah, khususnya di Jawa, yang bisa dipastikan intensitas persaiangannya ketat. Melihat apa yang terjadi dalam Pilkada Jakarta tempo hari, suasananya akan kurang lebih sama, baik di Jabar, Jateng dan Jatim nanti. Mungkin isu SARA takterlalu menonjol, namun persaingannya akan ketat.

Bank Indonesia (BI) baru saja mengeluarkan perkiraannya bahwa pertumbuhan ekonomi tahun lalu hanya sebesar 5,05 persen, artinya, di bawah proyeksi pemerintah yang sudah diturunkan, yaitu 5,1 persen. Target APBN  5,2 persen tak bias dicapai. "Tadi kami sampaikan pertumbuhan diproyeksikan 5,05 persen di akhir tahun," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo, pekan lalu.

Agus tetap optimistis tahun ini ekonomi bisa tumbuh 5,1-5,5 persen, bila  pemerintah terus melakukan reformasi struktural baik secara fiskal maupun moneter. "Kemudian di 2018 antara 5,1-5,5 persen. Kami juga lihat di 2022 apabila reformasi terus dilakukan bisa 5,8-6,2 persen," tuturnya.

Ekonom Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Bhima Yudhistira, menilai pemerintah perlu lebih sering memberi insentif fiskal dalam paket kebijakan yang dikeluarkan. Dengan langkah itu, diharapkan pertumbuhan ekonomi akan semakin terdongkrak. "Lebih dari 14 persen penyerapan tenaga kerja nasional berasal dari sektor industri manufaktur. Kalau paket kebijakan yang diharapkan membantu industri tidak mampu jadi stimulus maka penyerapan tenaga kerja dipastikan tidak optimal. Ujungnya pendapatan masyarakat untuk lebih banyak belanja jadi stagnan," jelasnya.

Pemerintah juga diharapkan bisa lebih menjaga stabilitas dalam negeri. Pasalnya, dalam dua tahun ke depan Indonesia akan menggelar pesta politik. "Menjelang tahun politik pengusaha dan investor butuh iklim investasi yang stabil. Hindari kegaduhan dan kebijakan yang membuat cemas dunia usaha khususnya ketidakpastian perpajakan," katanya. 

Kita berharap pemerintah lebih realistis dengan mendorong peran swasta lebih besar agar tahun ini pertumbuhan ekonomi  membaik. Sudah tiga tahun ambisi pertumbuhan ekonomi tak tercapai, padahal sebanyak 16 paket kebijakan ekonomi telah diluncurkan dan pemerintah juga menggenjot pembangunan berbagai proyek infrastruktur. Dampaknya ke sektor riel belum terlalu optimal, terlihat dari keluhan sejumlah sector riel mengenal kelesuan daya beli.

Faktanya, uang menumpuk di perbankan dan penyaluran kredit tak meningkat seperti diharapkan. Kondisi ini semestinya dipecahkan agar pembiayaan dunia usaha, termasuk UMKM, bias dipacu lebih besar lagi. Penumpukkan dana di perbankan tersebut juga menggambarkan “sikap menunggu” dunia usaha untuk merealisasikan investasinya. Ada keengganan karena ada ketidakpastian.

Pemerintah semestinya semakin peka karena tahun ini tak tersedia banyak pilihan dalam menggali anggaran kecuali pemerintah menggenjot pajak yang akan lebih ekstensif dan intensif. Pemerintah juga akan makin mengandalkan BUMN  untuk “ngebut” menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur tahun ini, setidaknya sebelum masa jabatan Presiden Joko Widodo berakhir tahun depan.

Ruang bagi kebijakan baru yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari sisi peningkatan daya beli dan konsumsi masyarakat makin sempit. Pemerintah dalam tiga tahun terakhir sudah all-out dengan meluncurkan 16 paket kebijakan ekonomi, yang memperoleh pujian internasional, namun belum mampu secara riel mendongkrak geliat ekonomi domestik. Kini pilihannya adalah bagaimana pemerintah mendorong dunia usaha dengan memberikan insentif dan  jaminan kepastian hukum serta perlindungan bagi masa depan bisnis mereka.

Mengharapkan investor asing menggelontorkan modal mereka untuk membangun proyek disini tampaknya lebih sulit lagi. Bisa diperkirakan dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump, persaingan memperebutkan dana investasi akan semakin ketat, tergantung dimana Negara lebih longgar aturannya dan menguntungkan.

Maka, cuaca tahun ini bisa jadi agak lebih mendung dibandingkan tahun lalu. Namun hal itu tidak perlu membuat kita terlalu pesimistis. Mudah-mudahan tidak terjadi guncangan. Kita hanya berharap pemerintah mampu menjaga situasi, khususnya keamanan dalam Pilkada dan eksesnya, agar keadaan tidak berkembang makin negatif 


Sumber : BERBAGAI SUMBER