PENGAWET TAHU BERBAHAN DASAR PISANG

SIAP DIPERKENALKAN KEPADA PRODUSEN TAHU.

Pin It

majalahkartini.co.id /

Produk bahan pengawet tahu dari pisang diperkenalkan di TMII, Jakarta Timur.


JAKARTA – Acungan jempol patut dialamatkan terhadap siswa SMA Bina Putera Kopo, Tangerang. Mereka sukses menemukan bahan pengawat berbahan dasar pisang.

Penemuan itu diperkenalkan Badan Pengawan Obat dan Makanan (BPOM) dalam acara 
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (Germas Sapa) di Tugu Api Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur pada Kamis (23/11/2017) lalu.

Pengawet alternatif hasil karya siswa SMA Bina Putera Kopo, Tangerang adalah Palata sebagai pengganti formalin.

Ir. Akhmad Supriyatna, peneliti PT Karya Prima Organik menyebutkan, inovasi ini berawal dari keprihatinan pemerintah lantaran banyak pangan-pangan terutama tahu menggunakan bahan berbahaya, sehingga BPOM mencoba membuat satu inovasi yang akhirnya itu bisa menggantikan bahan-bahan berbahaya tersebut. 

Inovasi Palata ini melalui proses panjang bekerjasama dengan semua pihak mulai dari Perguruan Tinggi dan Pemerintah.“Awalnya kita mulai dari sekolah. Anak-anak SMA melakukan inovasi ini membuat bahan hasil permentasi yang kira-kira bisa membuat penampilan tahu itu lebih baik dan lebih punya daya tahan lebih lama. Kemudian dari hasil penelitian itu kita kuatkan dengan laboratorium,” katanya.

Bahan dasar Palata ini sangat mudah didapatkan dan berasal dari pisang. Jenis buah yang satu ini banyak tersedia di Indonesia sehingga bahan dasar itulah yang kemudian diolah dengan cara tertentu dan treatment tertentu. 

Selain itu juga melalui proses fermentasi dengan bakteri tertentu.“Ini sangat aman karena semua bahan alami. Sejauh ini hasil ujih coba kita tidak ada perubahan apapun sehingga tidak mengubah rasa, tidak mengubah warna,” kata Ir. Hairudin Ali yang juga sebagai peneliti.

Ia menyebutkan, sejauh ini penggunaan Palata pada tahu tidak ada perubahan, sedangkan formalin sangat dilarang digunakan pada bahan pangan. Inovasi pengawet alternatif, produk-produk lebih sehat sehingga pedagang bisa mendapatkan tahu yang lebih baik, tidak mudah rusak sehingga sampai ke konsumen dalam keadaan baik.

“Produk ini dirancang secara massal jadi sangat terjangkau untuk produsen tahu. Persisnya saya belum hitung secara persis harganya, tapi yang jelas di bawah angka Rp 15.000-an. Harganya lebih murah dibandingkan dengan harga formalin tapi tahu lebih alami,” tuturnya. 

Hal senada juga diungkapkan Ir. Ignatia Widya K. Ia mengatakan dalam proses pembuatan tahu dicampurkan Palata agar menghasilkan tahu yang kenyal namun tidak keras. 

“Teksturnya jadi lebih kompak lebih bagus karena biasanya konsumen mencari tahu itu yang bentuknya cantik. Jadi dengan penambahan ini teksturnya lebih bagus,” ujarnya.

Ia mengaku inovasi ini menarik karena memanfaatkan bahan-bahan yang berlimpah dan berlebih di Indonesia. 

Awalnya, inovasi ini bisa menggunakan berbagai jenis bahan selain pisang hanya saja dari sisi warna, aroma dan lain-lain ternyata pisang yang paling bagus. 

Selain itu, pisang Indonesia sangat bagus untuk dibuat pengawet tahu karena aplikasinya lebih mudah. “Jadi dari pada pisang berlimpah busuk, bonyok tidak terpakai bisa kita manfaatkan,” imbuhnya.

Dengan menggunakan Palata, tahu bisa sampai ke pasar dan ke tangan konsumen dalam kondisi segar, karena tahu akan tetap terjaga sampai 48 jam tanpa formalin.

Pertama di Indonesia
 
Ia menjelaskan beberapa kendala yang ditemu dalam menciptakan inovasi anak bangsa ini. Temuan ini adalah pertama kali dilakukan di Indonesia sehingga belum ada standar dan kategori produk juga proses mendapatkan izin cukup sulit. Tapi saat ini izin dari BPOM untuk Palata sudah keluar. 

Jenis pisang yang digunakan sebagai bahan fermentasi kata Tia semua pisang yang enak untuk dimakan yang rasanya manis seperti pisang ambon, pisang sere, pisang raja, dan pisang susu. Karena yang dibutuhkan adalah gula yang terdapat pada pisang untuk fermentasinya. Dan bukan hanya isinya saja tapi utuh beserta kulitnya juga. Aplikasi Palata sangat mudah, tinggal dituangkan kedalam wadah. 

“Inovasi ini memudahkan para perajin tahu. Kita upayakan supaya posisinya tidak berubah jadi tidak ada kesulitan,” dia menambahkan.


Sumber : majalahkartini.co.id