DUNIA KECAM TRUMP

MASALAH YERUSALEM SANGAT SENSITIF DAN ESKALATIF

Pin It

bbc.com /

Dunia mengecam Presiden AS Donald Trump. Keputusannya untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke  Yerussalem sangat disesalkan dan tak ada satupun negara di dunia yang mendukungnya. Keputusan tersebut justru memancing kemarahan luas dan bisa menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan.

Seluruh anggota Dewan Keamanan PBB yang bersidang di New York, Jumat, mencela keputusan Trump tersebut. Dewan Keamanan PBB telah melakukan pertemuan darurat untuk membahas keputusan yang sangat kontroversial tersebut. Beberapa negara terang-terangan mengutuk langkah sepihak AS mengakui Yerusalam sebagai ibu kota Israel.

Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Nikolai Mladenov, memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan akibat penyataan Trump soal Yerusalem itu. "Saat ini ada bahaya nyata dari serangkaian tindakan sepihak yang kita sedang lihat yang akan membuat kita tak bisa mencapai tujuan bersama perdamaian kita," kata Mladenov kepada Dewan Keamanan PBB.

Anggota delegasi Prancis menyatakan Yerusalem mesti menjadi ibu kota untuk dua negara, lewat jalur perundingan. "Masalah Yerusalem itu istimewa dan cakupannya melebihi dari sekadar wilayah Israel dan Palestina," kata anggota delegasi Prancis itu.

Prancis, katanya, tidak mengakui aneksasi Israel atas Yerusalem Timur dan menganggapnya sebagai bagian dari wilayah yang diduduki. Dia menyerukan penghormatan kepada hukum internasional, perlindungan solusi dua negara dan penghindaran eskalasi kekerasan. Duta besar Inggris untuk PBB berjanji terus menekan semua pihak untuk menghindari aksi yang bisa merusak perdamaian, seraya menyatakan negaranya hanya mengakui perbatasan-perbatasan Israel-Palestina sebelum Perang 1967.

Dikatakan bahwa Yerusalem Timur adalah bagian dari wilayah Palestina dan menyatakan tindakan sepihak telah merusak peluang perdamaian langgeng di Timur Tengah.  Utusan Inggris ini menyebut Trump tak membawa manfaat bagi perdamaian Palestina-Israel.

Duta besar Mesir di PBB yang menyatakan status Yerusalem sebagai kota yang diduduki tidak berubah, dan tak akan berubah meskipun ada pengakuan dari AS itu. Mesir menganggap pengakuan Trump itu berdampak sangat buruk terhadap proses perdamaian. “Masyarakat internasional tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Semua resolusi Dewan Keamanan PBB telah dimentahkan oleh pendudukan Israel di Yerusalem," kata delegasi Mesir.

Trump mendasarkan kebijakannya pada Keputusan Kongres AS tahun 1995 dalam dokumen "The Jerusalem Embassy Act",  yang memutuskan pemindahan kedutaan mereka di Israel. Namun, semua presiden sebelum Trump tidak memindahkan kedutaannya, karena ada klausul yang membolehkan untuk itu, jika setiap 6 bulan menandatangani klausul penundaan. "Expired time to sign a national security waiver" berakhir tanggal 4  Desember lalu.

Sikap Indonesia mengenai masalah Yerussalem tidak pernah berubah. Sebagai bangsa yang anti penjajahan, Indonesia secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina dan tidak pernah mengakui Israel. Sejak Soekarno hingga Joko Widodo sekarang, Indonesia tidak bisa menerima aneksasi Israel atas wilayah Palestina dan terus menegaskan sikap politik untuk mendukung kemerdekaan bangsa dan negara Palestina.

Presiden Jokowi telah mengeluarkan sikap yang jelas dan tegas dengan mengecam keputusan Trump. Jokowi juga akan mengikuti konferensi OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang menurut rencana akan diselenggarakan di Istambul, Turki. Ia akan memberikan dukungan nyata atas sikap internasional menghadapi keputusan Trump tersebut.

Kita mendukung keputusan pemerintahan Jokowi mengenai masalah Yerussalem ini. Meski sejumlah kalangan sempat mempertanyakan pernyataan Dubes AS di Jakarta bahwa pemerintahnya telah melobi pejabat Indonesia dan negara-negara mitra lainnya sebelum keputusan Trump tersebut diambil. Siapapun pejabat yang diobi pemerintah AS kiranya tak perlu diperdebatkan lagi, sepanjang Presiden Jokowi konsisten dengan sikap dan pernyataannya.

Kita mengkhawatirkan perkembangan ke depan mengingat masalah Yerussalem terlalu sensitif dan konflik soal ini cenderung eskalatif.  Kita mengkhawatirkan keputusan Trump tersebut akan menghancurkan upaya perdamaian yang sudah bertahun-tahun dirintis, bahkan bisa mengobarkan konflik yang lebih luas.

 

Kita berharap konferensi OKI yang diikuti hampir 60 negara anggota akan menghasilkan rekomendasi dan langkah nyata bersama untuk menekan kecongkakan sikap Trump. Kita juga berharap masalah ini membuka mata dunia bahwa ketidakadilan dan konflik internasional bukan hanya akibat ulah kelompok-kelompok kecil yang radikal, melainkan dipicu oleh kecongkakan negara besar, khususnya AS.

 


Sumber : BERBAGAI SUMBER