MENYAMBUT PANGLIMA TNI BARU

HADI TJANHJANTO DIHARAPKAN MEMILIKI VISI OUTWARD LOOKING

Pin It

TEMPO.CO /

Marsekal Hadi Tjahjanto

Tak harus menunggu Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pensiun, kini calon Panglima Tantara Nasional Indonesia (TNI) sudah ditunjuk. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga sudah menyetujui Marsekal Hadi Tjahjanto menggantikan Gatot. Presiden Joko Widodo tampaknya segera akan melantik Marsekal Hadi untuk memperjelas kepemimpinan di TNI.

Jenderal Gatot akan resmi pensiun pada 13 Maret 2018, ketika usianya genap 58 tahun. Kalau Marsekal Hadi tidak segera dilantik tentu tentu akan membuat suasana kikuk dan tidak produktif. Gatot sendiri tampaknya sudah siap mental dan legowo untuk segera menyerahkan estafet kepemimpinannya kepada Hadi dan meninggalkan markas Cilangkap.

Kita memberikan selamat kepada Marsekal Hadi Tjahjanto semoga mampu membawa TNI lebih profesional dan dekat dengan rakyat, seperti harapan Presiden Jokowi. Publik mempersepsi Hadi sebagai Panglima TNI pilihan Jokowi karena dari segi senioritas diantara kandidat yang ada, ia terbilang paling muda dan angkatan kelulusannya pun juga belakangan.

Namun pemilihan Panglima TNI memang hak prerogatif Presiden. Hal itu sudah dilakukan Jokowi ketika memilih Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, yang relatif muda dan harus melewati beberapa perwira senior. Sebagaimana ketika memilih Tito, Jokowi tentu memiliki pertimbangannya sendiri mengapa kini memilih Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI.

Karier pria kelahiran Malang (8/11/1963) ini tergolong meroket dalam tiga tahun terakhir. Setelah bertugas menjadi Kepala Dinas Penerangan TNI AU, tahun 2015 diangkat sebagai Danlanud Abdulrahman Saleh, Malang. Kemudian dengan pangkat Marsekal Muda ditarik ke istana (2016) menjadi Sekretaris Militer Presiden. Pada tahun yang sama dipromosikan menjadi Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan dan pada 18 Januari 2017  lalu Hadi dilantik menjadi KSAU.

Bisa dimengerti bila banyak pandangan yang mengatakan Hadi orang kepercayaan Jokowi. Mengapa penunjukannya sebagai Panglima TNI dipercepat juga bisa dipahami karena Jokowi ingin jaminan memasuki “tahun politik” ke depan. Jokowi tidak ingin terjadi gejolak di luar kendali, apalagi sampai mengganggu  hajatan politik nanti. Setelah Pilkada serentak, tahun berikutnya ada Pemilu dan Pilpres.

TNI sebenarnya kini tidak lagi bertanggungjawab terhadap pengendalian dan penanganan keamanan dan ketertiban di dalam negeri. Namun demikian, posisi TNI sangat diperhitungkan. Apalagi polisi tidak sepenuhnya mampu menangani gangguan kamtibmas, terutama bila menghadapi kelompok-kelompok bersenjata. Hal itu kita telah lihat di Poso dan Papua beberapa waktu lalu.

Reputasi TNI selama kepemimpinan Jenderal Gatot Nurmantyo sangat bagus di mata publik. Dalam beberapa kali survey, TNI menempati posisi teratas sebagai institusi yang dipercaya publik, diikuti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  dan lembaga kepresidenan. Peringkat Polri masih jauh di bawah, apalagi DPR dan partai politik.

Mengapa Jokowi mengganti Gatot lebih cepat dari waktunya pensiun? Ini pertanyaan yang tidak mudah menjawabnya. Ada beberapa dugaan yang berkembang. Ada yang menilai Gatot “bermain politik” melalui kedekatannya dengan para ulama. Ada juga kasus yang membuat Jokowi terganggu, misalnya, pernyataan keras Gatot saat mengumpulkan para sesepuh TNI berkaitan penyelundupan senjata. Jokowi bereaksi keras, antara lain mengatakan, “jangan membuat gaduh”, selain itu ia berkata, “saya panglima tertinggi”.

Maka, bila Jokowi memilih Hadi Tjahjanto, tentu dengan harapan ia lebih bisa mengendalikan bawahannya. Jokowi menilai Hadi memiliki kepemimpinan dan kemampuan membuat TNI lebih baik. "Dan bisa membawa TNI ke arah yang lebih profesional sesuai jati dirinya. Yakni tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional," kata Jokowi.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai penunjukan Marsekal Hadi sebagai Panglima TNI tepat. Salah satunya karena sejalan dengan visi poros maritim Jokowi. Poros maritim dunia yang dicanangkan Presiden Jokowi pada 2014 lalu, kata Connie, membutuhkan tentara yang punya visi menghadapi dunia luar. "Saya berharap Pak Hadi punya visi outward looking ke depan," ujar Connie.

Perkembangan dunia, terutama dunia kemiliteran saat ini juga sangat bergantung dengan kemajuan teknologi. Penunjukan Marsekal Hadi dari Angkatan Udara dinilai sejalan dengan hal tersebut. Pasalnya teknologi kedirgantaraan adalah salah satu teknologi yang bekembang pesat. "Saya kira Pak Hadi cocok dengan hal-hal terkait teknologi seperti itu," kata Connie.

Mudah-mudahan pandangan tersebut benar. Kini kita tinggal menunggu kiprah Panglima TNI yang baru dalam menghadapi tahun-tahun sulit ke depan. Kita berharap stabilitas ekonomi, politik dan keamanan tetap kondusif karena tantangan yang akan kita hadapi tidak ringan, melainkan bertambah rumit dan berat.


Sumber : BERBAGAI SUMBER