JANGAN TERLENA PUJIAN BANK DUNIA

PELAMBATAN SEKTOR RIEL TERUS TERJADI

Pin It

ISTIMEWA /

Pujian Bank Dunia terhadap pencapaian stabilitas makro ekonomi Indonesia merupakan suntikan semangat untuk menata perekonomian nasional lebih baik lagi. Namun demikian, pemerintah hendaknya memikirkan secara sungguh-sungguh bagaimana agar stabilitas mekro tersebut tercermin pada perkembangan mikro atau sektr riel agar lebih bergairah.

Pujian tersebut dikemukakan oleh Kepala Perwakilan Bank Dunia (World Bank) untuk Indonesia Rodrigo Chaves kepada Presiden Joko Widodo ketika bertemu di Istana Kepresidenan Bogor, pekan ini. “Kami menyampaikan bahwa kami sangat optimis tentang stabilitas fiskal di Indonesia serta framework ekonomi makro yang kami nilai sangat tepat,” ujar Rodrigo, usai pertemuan tersebut.

Apa yang dikemukakan Bank Dunia bukanlah hal baru. Pemerintah memang  bekerja keras untuk menjaga stabilitas makro agar memberikan iklim yang kondusif bagi dunia usaha. Hal itu tercermin dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi yang rendah, neraca perdagangan yang positif dan cadangan devisa yang relatif kuat.

Beberapa waktu lalu Dana MoneterInternasional (IMF) juga menyatakan  hal serupa. Bauran kebijakan makroekonomi yang diiringi dengan reformasi struktural dinilai telah membantu Indonesia mengatasi beberapa tantangan. IMF mendorong otoritas untuk melanjutkan penguatan kerangka kebijakan jangka menengah melalui reformasi fiskal dan struktural, untuk mendorong pertumbuhan dan menjaga kestabilan makroekonomi. BI juga tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, dengan tetap mengoptimalkan pemulihan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

"Bank Indonesia juga mendukung program reformasi struktural yang dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan kapasitas perekonomian menuju pertumbuhan yang inklusif," tutur Agus.

Namun, pencapaian stabilitas makroekonomi perlu didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkesinambungan. Untuk mewujudkannya, diperlukan dua kebijakan penting. Pertama, terkait dengan pemenuhan berbagai faktor pendukung bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Kedua, pengembangan sektor-sektor ekonomi potensial yang berdaya saing tinggi dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi, informasi digital, dan e-commerce.

Saat ini, kita mencatat bahwa kesenjangan ekonomi masih menjadi tantangan yang perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kebijakan. Kita juga mencatat keluhan yang dikemukakan dunia usaha beupa kelesuan perdagangan yang oleh beberapa kalangan disebut bersumber pada penurunan daya beli masyarakat.

BI belum lama ini merilis hasil survei mengenai penjualan eceran yang memperlihatkan terjadi pelambatan pada beberapa bulan terakhir. Pada September lalu perdagangan eceran tetap tumbuh meskipun lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada September 2017 tumbuh 1,8% (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 2,2% (yoy) menjadi 201,2.

Pelambatan terjadi pada kelompok makanan dan non makanan. Bahkan kelompok non makanan mengalami kontraksi yang cukup dalam. Secara regional, kontraksi pertumbuhan tahunan IPR pada September terjadi di tiga kota dengan kontraksi terdalam yaitu Denpasar (minus 12,6%). Survei mengindikasikan tekanan kenaikan harga di tingkat pedagang eceran tiga bulan mendatang juga meningkat.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa kondisi sektor riel tidak cukup bagus untuk menopang ambisi peningkatan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Apapun alasannya, kelesuan tersebut harus dikoreksi agar kembali bergairah. Kita tidak boleh terlena dengan berbagai indikator makro ekonomi yang digembar-gemborkan pemerintah, melainkan harus memperhatikan sektor riel yang berhubungan langsung dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

Pemerintah perlu berpikir keras agar kondisi makro ekonomi yang makin bagus juga tercermin dalam kegairahan sektor riel yang meningkat. Maka semestinya pemerintah lebih menggairahkan perkembangan sektor produksi dan perdagangan melalui berbagai kebijakan yang memudahkan usaha dan kegiatan mereka dan tidak mengeluarkan regulasi yang berakibat sebaliknya.

Kegairahan para petani, nelayan, perajin, pedagang ritel, UMKM dan semacamnya, seharusnya menjadi titik perhatian utama pemerintah agar kesejahteraan rakyat juga meningkat. Industri dan perdagangan skala besar sudah terlalu pintar untuk mengurus diri sendiri. 


Sumber : BERBAGAI SUMBER