TRUMP LEBIH LUNAK DARI OBAMA?

INDONESIA BUKAN PRIORITAS DI MATA TRUMP

Pin It

The Economist /

Mata dunia sedang memandang ke Beijing untuk mengikuti kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump. Banyak sekali yang dibahas Trump dengan Presiden RRT Xi Jinping, mengingat kedua negara terlibat persaingan yang akan menentukan masa depan percaturan internasional, khususnya kawasan Asia Pasifik.

Melihat rangkaian kunjungannya selama dua pekan, tampaknya Trump ingin menegaskan posisi AS dalam melihat persoalan-persoalan yang terjadi di kawasan ini dan prospeknya ke depan. Trump juga mencari peluang untuk mengembangkan kepentingan AS, terutama di bidang ekonomi, yang beberapa tahun terakhir terus menurun dibandingkan China yang meningkat.

Sebelum ke Beijing, Trump sudah berbicara dengan para pemimpin Korea Selatan di Seoul, setelah itu akan menemui pemimpin Vietnam dan Philipina. Trump tidak mampir ke Indonesia, juga tidak ke Taiwan yang merupakan sekutunya. Hal ini memperlihatkan Trump tidak memandang Indonesia sebagai prioritas dalam politik luar negerinya. Kita memperkirakan bahwa Trump lebih memilih negara-negara yang jelas posisi politiknya, baik “kawan atau lawan” dalam kerangka pandangannya yang mengutamakan kepentingan AS atau lebih dikenal America First.

Hal itu juga kita lihat dalam kunjungan pertamnya ke luar negeri beberapa bulan lalu. Trump secara mengejutkan berkunjung ke Arab Saudi, dimana AS memiliki kepentingan besar, baik ekonomi maupun geo-strategi. Ia berbicara tegas mengenai pemberantasan terorisme dan kelompok radikal. Saudi jelas mengikuti garis AS, meski harus mengambil resiko bermusuhan dengan saudara dan tetangga sendiri, Qatar.

Kunjungan ke Seoul dan Beijing kali ini bisa dibaca dalam kerangka itu, terutama berkaitan dengan kasus nuklir Korea Utara dan perebutan pengaruh di Samudera Pasifik, lebih khusus Laut China Selatan. Trump tidak ingin dilecehkan dengan sikap Korut, namun ia tampaknya tidak mau memaksakan tindakan keras, sehingga membutuhkan peran China sebagai sahabat Korea Utara.

Posisi China tidak hanya penting dalam memelihara stabilitas Semenanjung Korea, namun Trump juga mempertimbangkan kepentingan ekoniminya yang sangat besar. Nilai perdagangan kedua negara terus meningkat. Pada tahun 1979 nilainya masih US$2,5 miliar, namun tahun lalu sudah mencapai US$520 miliar. Trump melihat posisi neraca yang lebih berat ke China, sehingga perlu upaya untuk menyeimbangkannya agar kepentingan AS terlindungi.

Setelah pertemuan Xi Jinping-Trump di Mar-aLago, Florida, pada April lalu, ekspor sapi AS ke Tiongkok sudah berjalan lagi. Kedua pemimpin itu menyepakati rencana aksi 100 hari peningkatan kerja sama ekonomi, berkaitan dengan penyeimbangan neraca dagang yang dipandang njomplang. Kerjasama bilateral juga dilakukan melalui mekanisme dialog yang mengarah pada diplomasi dan keamanan, ekonomi, penegakan hukum, keamanan siber, sosial, dan pertukaran antarmasyarakat kedua negara.

Besarnya kemampuan ekonomi China sangat mungkin memaksa Trum bersikap lebih realistis dalam melihat peta persaiangan di kawasan, terutama Laut China Selatan. Trum tampaknya tidak ingin memaksakan kehendaknya, meski harus menelan kenyataan bahwa Cina terus membangun sejumlah proyek prasarana di kawasan tersebut. Pada masa pemerintahan Barack Obama, AS tidak tinggal diam dan mengirim beberapa kapal perang di Laut Cina Selatan. Apakah Trump lebih lembek dari Obama?

Kita di Indonesia perlu mengamati hasil-hasil pembicaraan Trump-Xi Jinping yang akan berakhir Jumat ini. Dua kekuatan besar dunia tersebut akan sangat mempengaruhi konstelasi dan perubahan-perubahan ke depan. Trump yang galak kata-katanya, sangat mungkin tokoh yang sangat pragmatis dalam mengembangkan posisi win-win solution

Bila kedua pemimpin mampu menemukan rumusan-rumusan yang saling menguntungkan, tampaknya kita tidak perlu cemas dengan masa depan kawasan ini. Asia Timur akan tetap damai dan mampu berkembang pesat sebagai pusat pertumbuhan yang mempengaruhi dunia.


Sumber : BERBAGAI SUMBER