YANG TERSISA DARI HUT TNI KE-72

KEMAMPUAN INDIVIDUAL PERSONIL TNI LEBIH DIKAGUMI LUAR NEGERI

Pin It

/

Oleh Sjarifuddin.Hamid

Peragaan alat utama sistem kesenjataan (Alutsista) TNI pada HUT TNI ke 72 pada 5 Oktober 2017 memperoleh ekspos yang amat luas. Media televisi melaporkan secara langsung dari lokasi acara, Dermaga Indah Kit, Provinsi Banten. Media melaporkan dari waktu ke waktu. Media cetak melaporkan sehri kemudian secara lengkap. Jutaan pembaca di dalam dan luar negeri membaca atau menyaksikan  acara yang hebat ini.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut peragaan dan defile tersebut sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada rakyat. Bukankah semua Alutsista itu dibeli dengan uang rakyat? Peragaan juga membuat rakyat merasa terlindungi, aman dan nyaman.

Diantara sekian banyak Alutsista, maka kapal selam baru buatan Korea Selatan KRI Nagapasa 403 layak memperoleh perhatian. Hal ini disebabkan sifat kapal selam yang mampu mengikat kapal-kapal permukaan, seperti yang diperlihatkan dalam perang Malvinas, 2 April 1982-14 Juni1982.

Kita menarik pelajaran dari perang tersebut. Kapal-kapal selam Inggris, seperti HMS Conqueror, secara efektif  mengikat satuan tugas armada angkatan laut Argentina, kata  KSAL Laksmana TNI Slamet Subiyanto ( 2005-2007) kepada penulis beberapa tahun lalu.

Kapal selam memiliki posisi istimewa dalam jajaran Alutsista di negara manapun. Bayangkan untuk apa Singapura dengan luas perairan sekitar 620 km persegi mempunyai enam kapal selam dan akan menjadi delapan dalam waktu dekat? Ironisnya, Indonesia dengan luas perairan mencapai 1,9 juta km persegi hanya memiliki Cakra, Nanggala dan Nagapasa.

 

Kemampuan Perorangan

Terlepas dari semua itu, sangat disayangkan atraksi kemampuan perorangan tidak memperoleh ekspos yang memadai. Padahal betapapun hebatnya Alutsista, ia hanya teronggok sebagai benda mati bila tidak diawaki atau tak sehebat spesifikasi jika awaknya tiada mempunyai kompetensi.

Bagi para pengamat asing, mereka tampaknya lebih tertarik untuk mengetahui siapa  yang menyusun skenario defile yang mirip perang ini. Sungguh tidak mudah mengatur Alutsista tiga matra yang bergerak dalam hitungan detik serta tanpa jeda. Dan yang lebih penting lagi tanpa insiden.

Mereka juga kagum dengan kemampuan perorangan anggota TNI melakukan peragaan operasi khusus. Merayap pada tali khusus di ketinggian 50 meter, memecahkan benda-benda keras, tak mempan dibacok/disiram air keras, terjun ketepatan mendarat di atas perahu karet dan lainnya.

Umumnya tentara negara-negara Barat tidak mempunyai kemampuan perorangan seperti di atas. Sudah terbukti anggota Navy SEAL yang dibilang hebat itu tak bisa memecahkan batu bata ketika latihan bersama marinir di Situbondo, Jawa Tengah. Dalam kesempatan lain, tentara  AS batal terjun jika cuaca mendung, sementara tentara kita lompat saja.

Tentara AS heran melihat tehnik para prajurit memanjat pohon dengan cepat. Tak ada teorinya karena para prajurit itu berasal dari kampung. Sejak kecil sudah terbiasa naik pohon, ujar seorang perwira pasukan khusus tertawa geli.  

Anti Personil

Kekalahan dalam perang Vietnam, membuka mata industri militer AS khususnya dan negara-negara Barat umumnya untuk membuat Alutsista anti personil, seperti bom  yang mampu menggundulkan hutan seluas lapangan sepakbola, senjata kimia (agent orange yang membuat cacat penduduk Vietnam),  senapan untuk penembak runduk yang lebih canggih serta berdaya jangkau lebih jauh , aneka jenis ranjau dan sebagainya. Disamping alat-alat komunikasi yang lebih mungil dan canggih.

Menilik semua itu, bila kita mengekspos Alutsista secara berlebihan, secara ‘akuntansi’ memang sangat tepat namun juga berarti mendukung industri militer asing kendati sudah mulai ada program offsett atau alih teknologi. Kekaguman terhadap Alutsista juga menimbulkan kekaguman semu sebab  suatu ketika  bisa diembargo.    

Jadi lebih baik, jika dimasa depan ditonjolkan Alutsista buatan sendiri dan  kemampuan perorangan anggota TNI yang membuat tentara asing merasa kecut. Misalnya, membuat lawan kaku atau menerapkan ilmu sirep kala melakukan penyerangan senyap, cepat dan tepat. (* Palangka Post)


Sumber : BERBAGAI SUMBER