SOLFATARA GUNUNG AGUNG SETINGGI 1.500 METER

KEPULAN ASAP TERSEBUT DIPICU UAP AIR AKIBAT HUJAN YANG MENGGUYUR SEJAK TIGA HARI TERAKHIR

Pin It

/

DENPASAR--Kepulan asap atau solfatara yang keluar dari dasar kawah Gunung Agung pada Sabtu (7/10) pukul 20.45 Wita membubung sampai dengan ketinggian 1.500 meter. Kepulan asap ini paling tinggi dibandingkan sebelumnya semenjak status gunung tertinggi di Bali itu ditetapkan awas per 22 september lalu. Asap tinggi yang keluar dipicu oleh uap air akibat hujan deras yang mengguyur sejak tiga hari terakhir.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG/BG ESDM I Gede Suartika, Minggu (8/10), mengungkapkan, berdasarkan evaluasi pada 8 Oktober Gunung Agung masih tetap awas. Kondisi kegempaan sampai saat ini masih cukup kritis. Untuk gempa vulkanik dalam masih tinggi yakni untuk vulkanik dalam di angka 600-an, vulkanik dalam 300 dan tektonik lokal 70-an. Suartika menjelaskan, untuk perkembangan asap atau solfatara pada malam hari pada pukul 20.45 Wita memang membubung sampai dengan ketinggian 1500 meter di puncak.

“Asap yang keluar akibat adanya curah hujan yang tinggi yang terjadi sejak tiga hari terakhir. Dengan kondisi dasar kawah yang panas, ketika kemasukan air hujan selanjutnya akumulasi ke bawah dan kembali keluar keatas bersamaan dengan solfatara bercampuran dengan uap air dan gas. Jadi yang keluar itu campuran solfatara dengan uap air. Pada intinya warna asapnya masih putih. Dan belum ada keluar pasir atau abu,” katanya Suartika seperti dikutip Balipost.com.

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani menegaskan, dengan status Gunung Agung yang awas, hal yang terjadi itu merupakan hal yang biasa. Karena asap atau solfatara yang keluar bercampur dengan uap air akibat hujan deras yang terjadi tiga hari belakangan ini. Karena aktivitas gunung masih cukup tinggi. “Hembusan solfatara berwarna putih bercampur dengan uap air dan gas. Karena dari bawah masih ada suplai energi dari bawah,” katanya.


Sumber : BALIPOST.COM