DIRGAHAYU TNI

KEPERCAYAN RAKYAT TETAP TINGGI TERHADAP TNI

Pin It

/

Tim Jupiter TNI AU

Kamis, 5 Oktober, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperingati ulangtahunnya yang ke-72. Usia yang sangat panjang, seusia Republik Indonesia. TNI memang dibentuk beberapa bulan setelah proklamasi, sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

Dengan tema “Bersama Rakyat TNI Kuat”, peringatan HUT TNI kali ini akan memamerkan berbagai peralatan tempur terbaru dalam parade militer yang melibatkan hampir 10.000 prajurit.

Beberapa alutsista canggih yang akan dipamerkan antara lain sejumlah kendaraan tempur, seperti Anoa, sembilan Unit Tank M113 Al, sepuluh Unit Tank Marder 2A1, dua Unit INF Pandur II 8X8, tiga unit Tank Arisgator, sembilan unit Tank Leopard 2R1, sembilan unit Tank Tarantula. Demikian pula kapal perang dan kapal selam milik TNI-AL serta sejumlah pesawat tempur milik TNI-AU.

Sejak dini hari tadi, masyarakat yang ingin menonton parade dan atraksi sudah mulai berdatangan. Meski turun hujan, mereka antusias datang ke lokasi acara di dermaga milik PT Indah Kiat di Banten. Mereka akan menontos sejumlah atraksi, antara lain aksi terjun bebas yang dilakukan 72 penerjun, juga dihibur Jupiter Aerobatic Team yang terdiri dari delapan pesawat dan satu unit Heli SAR Super Puma.

Antusiasme masyarakat itu merupakan indikasi bahwa TNI masih dipercaya dan dicintai rakyat. Meskipun TNI tidak lagi politik praktis, institusi ini tetap solid dan dipercaya sebagai lembaga yang paling kredibel. Beberapa survei membuktikan hal itu.

Setelah rezim Orde Baru bubar, TNI praktis kehilangan peran politik praktis, yang selama lebih 30 tahun dikuasainya. Doktrin Dwifungsi ABRI pun dihapuskan. Prajurit TNI masuk barak, hanya sesekali terjun ke lapangan bila polisi membutuhkan bantuan.

Belakangan ini ada upaya untuk memberikan peran kepada TNI secara terbatas dalam penanganan masalah keamanan di dalam negeri, namun sampai sekarang belum terwujud. DPR, misalnya, masih menggodok perubahan UU Anti Terorisme, yang mengakomodasikan peran TNI, namun terjadi tarik ulur, termasuk memperhatikan keberatan Polri mengenai hal tersebut.

Kita memandang posisi TNI itu unik dalam kancah nasional. TNI tidak semata merupakan tentara reguler profesional seperti di negara-negara lain, namun posisinya khas karena peran kesejarahan yang berbeda. Dulu, ketika Belanda menyombongkan diri bahwa RI telah mati karena para pemimpin utama seperti Soekarno dan Hatta telah ditahan, tentara nasional membuktikan klaim tersebut keliru.

Melalui perang gerilya, Panglima Sudirman mampu menggerakkan prajurit di berbagai daerah untuk terus melawan. Pertempuran terus terjadi yang membuktikan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak pernah mati. TNI juga mengawal keutuhan negara dengan menghadapi berbagai kekuatan bersenjata seperti pemberontakan PKI/Muso di Madiun (1948), PRRI/Permesta, DI/TII dan berbagai peristiwa lainnya. Selain di dalam negeri, TNI juga meraih reputasi di luarnegeri melalui berbagai misi perdamaian di sejumlah negara.

Dengan demikian TNI merupakan kekuatan yang sangat teruji karena peran kesejarahan yang panjang. Hampir tidak ada institusi lain di negeri ini yang memiliki pengalaman kesejarahan serupa dan tetap terjaga soliditasnya. Tidak mengherankan hingga saat ini TNI dipandang sebagai lembaga yang solid dan mampu menjaga kepercayaan rakyat.

Lantas apa perannya ke depan? Ada atau tidak peran formal yang diberikan, TNI akan tetap menjadi kekuatan penting dan diperhitungkan. Jatidiri prajurit sebagai tentara pejuang akan senantiasa terpanggil demi mempertahankan keutuhan NKRI, membela rakyat, bangsa dan negara. Dirgahayu TNI.


Sumber : BERBAGAI SUMBER