BANGSA BESAR TANPA PRESTASI OLAHRAGA

PRESTASI KITA DI SEA GAMES KUALA LUMPUR SANGAT MEMPRIHATINKAN

Pin It

ISTIMEWA /

EDITORIAL

Judul tersebut dikutip dari pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu. Ketika membuka “Pameran Goifex Expo” di Jakarta, Wapres JK berkata, “Kita bangsa besar, tapi prestasi olahraganya tidak mencerminkan kebesarannya.”

Pernyataan JK tersebut sangat terasa sekarang ini. Kita harus menerima kenyataan sebagai “negara besar” yang terpuruk di ajang SEA Games ke-29 di Kuala Lumpur, Malaysia. Perhelatan tingkat Asia Tenggara tersebut akan ditutup hari ini, Rabu (30/8), namun telah pasti kontingen Indonesia hanya menempati posisi kelima dari 10 negara peserta. Ini bukan prestasi, melainkan kinerja yang memalukan.

Kita patut bertanya, apa saja sebenarnya yang diperbuat para pembina olahraga nasional sehingga prestasi atlet-atlet kita sedemikian buruk. Ada pihak yang berdalih masalah keterbatasan dana sebagai biangkeroknya. Ini contoh dalih yang tidak proporsional dan memprihatinkan. SEA Games adalah ajang olahraga amatir yang para pembina dan atletnya mengutamakan prestasi ketimbang imbalan uang. Ini pertarungan gengsi yang mempertaruhkan sportivitas dan nama baik bangsa, bukan memamerkan kemewahan fasilitas dan bonus.

Kegagalan kita di Malaysia memperlihatkan beberapa hal yang patut disoroti. Pertama, kita gagal mencapai target nasional. Kedua, sebagai negara besar kita dipermalukan para tetangga. Ketiga, politik pembangunan kita tidak serius membina keolahragaan nasional. Masalah pertama dan kedua sudah jelas di depan mata. Namun faktor ketiga harus direnungkan dan ditelusuri lebih mendalam karena menyangkut kebijakan pembangunan nasional. Maksudnya, politik pembangunan telah mengorbankan lahirnya bibit-bibit olahragawan karena kita mendahulukan aspek lain, terutama ekonomi.

Kita menyaksikan bertahun-tahun banyak sekali sarana olahraga yang digusur untuk kepentingan lain. Pada masa lalu hampir di setiap desa dan kelurahan tersedia fasilitas olahraga, minimal sebuah lapangan sepakbola. Perlahan tapi pasti fasilitas olahraga, tempat anak-anak muda berolahraga, hilang karena dijual atau dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Banyak sekali stadion dan gelanggang olahraga yang disulap menjadi sarana lain dengan dalih ruilslag atau semacamnya. Anehnya, pemerintah setempat mengijinkan karena berbagai alasan. Ini fakta-fakta yang menunjukkan betapa pemerintah tidak berpihak pada kepentingan pembangunan olahraga nasional sehingga prestasi pun makin menurun.

Padahal, pembinaan prestasi olahraga nasional tidak bisa instan. Berkaca dari pengalaman para juara, misalnya para legenda pebulutangkis nasional, mereka mencapai prestasi dengan berdarah-darah. Artinya, sejak muda mereka tekun berlatih dan berlaga di berbagai kompetisi.

Maka kewajiban pemerintah adalah memelihara fasilitas olahraga yang sudah ada dan melarang pengalihfungsiannya. Fasilitas yang sudah ada dipelihara, ditambah dan dikembangkan. Pastikan di semua desa dan kelurahan ada lapangan sepakbola dan gelanggang olahraga untuk merangsang generasi muda berlatih. Pemerintah harus mendorong tumbuh dan berkembangnya atlet muda melalui sekolah-sekolah, sejak SD, serta menyelenggarakan ajang kompetisi tingkat pemula.

Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Semestinya harus ada pihak yang bertanggungjawab atas terpuruknya prestasi kita di Kuala Lumpur. Menpora Imam Nachrawi adalah salah satunya. Dia harus mempertanggungjawabkan kinerjanya yang gagal memenuhi target nasional.

Kita semua harus merenung, bagaimana perbaikan prestasi olahraga nasional ke depan. Namun, kiranya bijaksana, bila kita tak usah omong besar untuk berprestasi di gelanggang Asian Games tahun depan. Disana akan berlaga atlet-atlet dari China, Jepang, Korsel, Korut, Iran, Kazakhtan dan banyak negara Asia lainnya, sehingga gelanggang akan jauh lebih kompetitif. Meskipun kita menjadi tuanrumah, Asian Games jauh lebih kompetitif ketimbang SEA Games. Maka, jadilah tuan rumah yang baik agar segalanya bisa ditangani dengan lancar dan sukses, sehingga kita tidak makin dipermalukan oleh negara-negara lain.

 


Sumber : BERBAGAI SUMBER