TELKOM HARUS MINTA MAAF DAN BERTANGGUNGJAWAB

RESIKONYA AKAN SANGAT BESAR BILA MENGGANGGU KOMUNIKASI PENERBANGAN DAN PERALATAN MILITER

Pin It

howwes.com /

Ilustrasi

JAKARTA--Terganggunya transponder satelit Telkom 1 yang berdampak luas harus menjadi pelajaran berharga. PT Telkom Tbk sebagai pemilik satelit tersebut harus bertanggungjawab atas kejadian ini, setidaknya melakukan langkah-langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Kita menyesalkan kejadian ini. Bukan hanya karena akibatnya yang mengganggu aktifitas perbankan dan sarana komunikasi lain, hal itu juga menunjukkan tidak ada antisipasi yang baik dan terencana. Telkom semestinya menyadari satelit Telkom-1 miliknya sudah tua sehingga harus diantisipasi kemungkinan mengalami gangguan.

Dampak yang kita terdengar terjadi pada terganggunya ribuan anjungan tunai mandiri (ATM) dan kantor-kantor kas perbankan. Dikabarkan bahwa sejumlah siaran televisi milik beberapa stasiun juga sempat terganggu.

Bank BCA dikabarkan mengalami gangguan pada 5.000 ATM dan 100 kantor kas, sedangkan Bank Mandiri terdampak sebanyak 2.000 ATM di berbagai kota. BNI juga mencatat jumlah gangguan ATM sebanyak 1.500 dari total ATM sebanyak 16.000 ATM, sedangkan BRI tidak terlalu besar terdampak gangguan satelit ini, yaitu hanya 300 ATM dari total ATM sebanyak 20.000 ATM. BRI  diketahui sudah menggunakan satelit sendiri, yaitu BRISat.

Meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan layanan nasabah perbankan tidak terganggu, kita menyaksikan betapa banyaknya masyarakat yang resah karena tidak bisa melakukan aktifitasnya melalui ATM. Ini kenyataan yang patut disesalkan. Dalam era yang serba digital dan mengandalkan sarana internet, secara mendadak semuanya terganggu.

Masyarakat jelas dirugikan. Setidaknya kerugian moril karena aktifitas mereka terganggu sehingga berbagai kemudahan yang dijanjikan perbankan tidak terpenuhi. Sejauh ini, sayangnya, belum ada permintaan maaf pihak Telkom mengenai terganggunya aktifitas publik tersebut.

Pihak Telkom baru merilis penyebab masalah adalah satelitnya, Telkom-1, yang telah berusia 18 tahun. Dikatakan telah terjadi anomali sejak Jumat sore (25/8) yang berakibat pointing antena satelit Telkom 1 mengalami pergeseran sehingga semua transponder terganggu. Proses perbaikan pada satelit Telkom 1 masih terus dilakukan hingga sore ini jam 16.00 oleh pihak Telkom dan juga Lockheed Martin Space Systems, selaku perakit satelit. Telkom belum bisa memprediksi kapan proses ini selesai.

Telkom 1 atau A2001A sudah berusia 18 tahun. Satelit tersebut diluncurkan pada 4 Agustus 1999, melalui roket Ariane-42P yang dibangun oleh perusahaan Arienespace. Peluncuran dilakukan di Kourou, Guyana Perancis. Ia memiliki konfigurasi dengan transponder band 24 C dan 12 extended C-Band. Telkom 1 mengorbit di posisi 108 derajat Bujur Timur, posisi yang mencakup seluruh wilayah Indonesia, Asia Tenggara, dan Australia bagian utara.

Saat ini tercatat ada beberapa satelit yang sudah tua dan masih beroperasi. Yaitu Satelit Palapa D (diluncurkan tahun 2009) yang diopersikan oleh PT. Indosat Tbk, kemudian Indostar II (2009), Satelit LAPAN-TUBSAT (2007), Satelit INASAT-1 (2006) buatan Indonesia, Satelit TELKOM-2 (2005), Satelit Palapa C2 (1996), Sateli Palapa C1 (1996), Sateli Palapa B2P (1987), Sateli Palapa A2 (1977) dan Satelit Palapa A1 (1976) yang merupakan satelit pertama di Indonesia.

Mengingat besarnya resiko akibat terganggunya satelit, meskipun sangat jarang terjadi, kita meminta para pemilik dan operator satelit mengantisipasi kejadian seperti ini. Alangkah besar resikonya bila gangguan tersebut menyangkut komunikasi penerbangan, peralatan militer dan keamanan negara.

Maka kejadian yang menimpa Satelit Telkom-1 harus benar-benar menjadi pelajaran agar tidak terjadi lagi. Pihak Telkom harus meminta maaf dan bertanggungjawab atas kerugian yang diderita perbankan dan nasabah, baik moril maupun material. Sebagai perusahaan publik, Telkom tidak bisa lepas tangan dan hanya meminta pengertian masyarakat, melainkan harus meminta maaf dan siap untuk memikul tanggungjawab.

 

 


Sumber : BERBAGAI SUMBER