KASUS TUBAN JANGAN TERULANG

TOLERANSI JUGA MENUNTUT TENGGANG RASA DAN SALING MEMAHAMI KESADARAN BUDAYA SETEMPAT

Pin It

Liputan6 /

Patung Dewa Kongco

OPINI

Ribut-ribut masalah patung dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban Jawa Timur, akhirnya diperbincangkan juga di Istana. Presiden Joko Widodo membahas masalah ini dengan sejumlah tokoh Konghucu yang tergabung dalam Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) ketika mereka menemui Presiden di Istana, Senin (14/8/2017).

Ketua Umum Matakin Uung Sendana mengatakan, pihaknya berdiskusi dengan Jokowi terkait banyak hal, salah satunya mengenai masalah intoleransi yang belakangan terjadi. Uung mengatakan, salah satu kasus intoleransi yang disinggung adalah polemik patung raksasa dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Jawa Timur. Ada sekelompok masyarakat yang memprotes patung tersebut, bahkan meminta patung dirobohkan.

Uung memastikan, Matakin akan terus melakukan upaya-upaya lintas agama untuk menjaga kerukunan. "Ayo sama-sama membina umat supaya menjadi orang lebih toleran. Bahkan bukan hanya toleran, tetapi juga harus saling menghormati," kata dia.

Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen yang dibangun setinggi 30,2 meter di pelataran klenteng Kwan Sing Bio sudah diresmikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifi Hasan beberapa waktu lalu. Namun sejak itu muncul kontroversi di kalangan masyarakat yang menolak patung dewa perang tersebut, bahkan mereka menyesalkan Zulkifli seolah merestuinya.

Mereka yang menentangnya mengatakan bahwa patung tersebut tidak ada kaitannya dengan sejarah Indonesia. Apalagi di Tuban, wilayah yang dipandang tempat kepahlawanan Ronggolawe, panglima perang yang ikut membantu mendirikan kerajaan Majapahit. Patung tersebut kini ditutup kain putih sehingga tak terlihat wajah dan sebagian tubuhnya.

Apapun kontroversi yang timbul, keberadaan patung Dewa Kongco di halaman klenteng telah menyedot perhatian masyarakat luas. Bangunannya yang menjulang tinggi sangat menonjol dan bisa dilihat dari jarak jauh, apalagi dari arah laut. Patung ini menjadi landmark yang menandai Tuban masa kini, mengubah citra Tuban yang sudah melekat di masyarakat.

Kita patut merenung bahwa soal-soal seperti ini hendaknya tidak terulang lagi. Artinya, kasus patung Dewa Kongco semestinya tidak terjadi lagi di tempat lain. Meski patung dewa tersebut dibangun di halaman klenteng sendiri, harus dipertimbangkan apakah menyinggung perasaan orang lain itu tidak. Sebab, kebanggan bagi kita, bisa saja dirasakan berbeda oleh orang lain.

Kita perlu mengingatkan bahwa sikap-sikap intolerensi yang muncul di masayarakat seringkali dipicu kurangnya tenggangrasa dan saling menghormati. Seandainya rencana pembangunannya dulu dibicarakan dengan tokoh-tokoh masyarakat di Tuban, tentu saja tidak akan muncul penolakan seperti ini. Apalagi, sosok patung dewa tersebut bukan menjadi bagian dari kesadaran budaya masyarakat setempat sehingga, mestinya, diantisipasi apakah keberadaan menyinggung publik setempat atau tidak.

Kini, setelah patung tersebut diresmikan, kita meminta Pemda mengintensifkan dialog untuk memupuk saling pengertian lintas budaya. Beruntung bahwa masalah ini tidak menyangkut agama, melainkan lebih pada kesadaran budaya dan sejarah, sehingga kontroversinya bisa dibatasi. Pemda setempat harus mampu memastikan masalah ini selesai di tingkat lokal dan tidak melebar kemana-mana secara tidak proporsional.

Kita meminta pihak-pihak yang mempersoalkan keberadaan patung ini agar bersedia berdialog dan membatasi masalah ini secara proporsional pula. Kesediaan untuk berdialog menunjukkan kedewasaan kita dalam menyikapi berbagai persoalan, yang akan memperkuat ketahanan kita sebagai bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan yang lebih besar dan kompleks.

 


Sumber : BERBAGAI SUMBER