PAHITNYA GARAM, IRONI YANG TERUS BERULANG

KITA SELALU SETENGAH HATI KEPADA PETANI. lEBIH SUKA IMPOR KARENA ITU CARA MUDAH, TAPI TAK MEMPERKUAT KETAHANAN EKONOMI NASIONAL.

Pin It

Kiara.or.id /

Petani garam

EDITORIAL 

Krisis kekurangan pasokan garam terjadi lagi. Ini ironi pembangunan kita. Bagaimana mungkin hal ini terus terjadi di negara yang memiliki ribuan kilometer garis pantai. Karena kejadian terus berulang, patut dicurigai ada yang tidak beres dalam pengurusan produksi dan distribusinya.

Selain jutaan petani garam sudah turun menurun bekerja di tambak-tambak produksi, kita juga mempunyai BUMN yang sudah berpuluh tahun bertugas di bidang ini, yaitu PN Garam. Lantas apa kerjanya kalau kejadian seperti ini terus berulang, padahal perusahaan pelat merah itu juga berkewajiban membina petani.

Tampaknya pemerintah dan pemangku kepentingan lebih senang melakukan impor. Maklum, ini bisnis besar, siapa yang tak tergiur. Namun cara berpikir seperti itu tidak sejalan dengan upaya memperkuat potensi dalam negeri, meningkatkan daya tahan perekonomian nasional. Itu cara berpikir yang lebih mementingkan untung rugi, bukan meningkatkan daya saing perekonomian nasional secara jangka panjang.

Krisis garam ini ironis. Seolah kita mati di lumbung sendiri. Ini sama ssja seperti kita kekurangan pangan, padahal lahan kita sangat subur. Krisis-krisis seperti ini terjadi karena salah urus, seperti terjadi di banyak sektor. Tak eloklah kita selalu berkilah karena cuaca dan semacamnya, toh salah urus terjadi dimana-mana, apalagi kalau menyangkut uang besar.

Kekurangan pasokan garam sudah terlihat sejak jauh hari.  Setidaknya terlihat sejak Lebaran, harga garam nyaris tidak pernah turun, bahkan melambung. Kebutuhan garam nasional tiap tahun sekitar 4,3 juta ton, mencakup garam industri  dan garam konsumsi. Tak habis pikir mengapa pemerintah melihat dengan sebelah mata, padahal sejak dulu rencana peningkatan produksi dan kualitas nyaring dicanangkan. Rupanya selalu indah dalam janji dan program, tapi pelaksanaannya di lapangan berbeda.

Kita baru ribut setelah krisis garam ini berdampak pada industri tekstil dan pengusaha kecil. Padahal, sejak awal tahun, pasokan sudah diketahui seret, tapi tak ada langkah terobosan untuk memacu produksi. Mengapa kalau urusan petani dan rakyat kecil kita selalu bekerja setengah hati?

Ada kekhawatiran para pemangku kepentingan kurang peduli menjaga kestabilan produksi, apalagi menggenjot produksi. Mereka lebih suka menempuh jalan mudah. Mengimpor lebih mudah menguntungkan. Apalagi ada fee atau komisi. Kali ini PT Garam ditugasi mengimpor 75.000 ton dari Australia. Rencananya, garam impor tersebut akan tiba di Tanah Air melalui tiga pelabuhan besar, pada 10 Agustus mendatang.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyesalkan keadaan ini terjadi. "Apa boleh buat, kita harus impor garam karena situasi ini sudah terlanjur sulit. Bukan hanya garam untuk konsumsi kurang, (tapi) harga sudah terlalu tinggi," katanya.

Persoalannya, pemerintah tidak cukup hanya menyesali keadaan. Uruslah soal garam ini dengan sungguh-sungguh. Bina petaninya, perbaiki infrastrukturnya dan perluas areal pertambakan garam agar volume produksi bisa mencukupi kebutuhan nasional. Syukur bisa ekspor. Kenyataan pahit ini harus menjadi pelajaran berharga. Tak cukup disesali, harus dibenahi secara serius dan berkelanjutan.


Sumber : BERBAGAI SUMBER