BPS PERLU SURVEI DAYA BELI MASYARAKAT

ADA ASUMSI TERJADI GAP ANTARA INDIKATOR MAKRO YANG BAGUS DAN KONDISI MIKRO

Pin It

ISTIMEWA /

 

OPINI 

Hampir bersamaan Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan hasil pendataan mereka mengenai laju inflasi bulan Juni sebesar 6,9%. Data tersebut dipandang sebagai indikator keberhasilan pemerintah dalam pengendalian harga barang, meskipun banyak pandangan yang menilai laju inflasi rendah karena daya beli masyarakat menurun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap laju inflasi tahun ini berada pada kisaran target pemerintah,  yaitu 4%. Pemerintah, katanya, sudah menjalankan berbagai tindakan untuk menjaga "supply side", dengan mengendalikan harga kebutuhan pangan. Pemerintah juga telah berkomitmen untuk tidak menyesuaikan tarif elpiji dan BBM hingga September 2017 serta menahan kenaikan tarif listrik hingga akhir tahun.  "Kami berharap tekanan inflasi dari sisi biaya akan melemah atau berkurang," katanya.

Permintaan masyarakat  diperkirakan akan berkurang setelah Lebaran sehingga bisa ikut menekan inflasi pada periode ini. "Tekanan dari sisi demand juga akan berkurang, sehingga kami berharap pada semester kedua, outlook inflasi jadi relatif lebih baik," kata Sri Mulyani.

Kita memandang pernyataan Sri Mulyani itu, secara implisit, membenarkan dugaan mengenai tekanan atau rendahnya daya beli masyarakat. Kalau pemerintah menaikkan harga BBM dan elpiji maka daya beli konsumen akan lebih rendah lagi, demikian pula bila pemerintah menaikkan tarif listrik.

Inflasi yang rendah tentu baik agar daya beli konsumen tidak makin tergerogoti. Namun kita patut mempertanyakan apakah laju inflasi yang rendah karena keberhasilan dalam pengendalian harga atau akibat makin melemahnya daya beli masyarakat. Pemerintah perlu mendengar suara dunia usaha, khususnya para peritel,  yang mengeluhkan penurunan permintaan masyarakat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey menengarai staganasi pertumbuhan ritel sejak awal tahun ini. Aprindo mengharapkan Lebaran lalu bisa meningkatkan permintaan masyarakat, tetapi kenyataannya tidak demikian. "Perlambatan masih terjadi dan konsumsi belum recovery. Itu tercermin dari pertumbuhan ritel," katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani juga mengatakan hampir semua perusahaan ritel mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat. Penjualan berbagai produk, kata dia, jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Hampir semua pengusaha mengeluh ada penurunan yang cukup signifikan dibanding tahun lalu," kata Hariyadi belum lama ini.

Kita memandang terjadi ketidaksinkronan antara indikator makro bagus dan kondisi mikro. Masalah ini harus disikapi dengan tepat oleh pemerintah. Maksudnya, bila penurunan daya beli masyarakat sudah menyebabkan pelambatan pertumbuhan industri, hal tersebut merupakan indikasi yang mengkhawatirkan. Maka timbul pertanyaan sejauhmana keberhasilan kebijakan pemerintah dalam menggerakkan perekonomian nasional dan imbasnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. Jangan sampai perekonomian hanya bagus dalam angka, namun tidak demikian halnya realita di lapangan.

Untuk lebih mendekati fakta sebenarnya, kita mendorong BPS melakukan survei dan kajian lapangan. BPS harus mampu meneliti secara faktual, apakah benar terjadi pelambatan sektor ritel dan penurunan daya beli masyarakat. Data riel di lapangan  akan sangat berguna bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan ekonomi ke depan.

Kita bahkan mendorong BPS melangkah lebih jauh, meneliti penduduk miskin dengan menggunakan standar Bank Dunia, yaitu pengeluaran US$2 perhari untuk negara berkembang. BPS mestinya sudah harus menggunakan  ukuran standar internasional, mengingat Indonesia sudah menjadi anggota negara-negara maju dalam G-20.

Dari penelitian tersebut akan diperoleh hasil sebenarnya berapa jumlah penduduk miskin di negeri ini. Kita harus bersedia melihat kenyataan sebagaimana apa adanya,  sehingga pemerintah bisa menetapan kebijakan yang tepat dalam mengelola perekonomian nasional ke depan.

 

  


Sumber : BERBAGAI SUMBER