SRI MULYANI SAMBUT KENAIKAN PERINGKAT UTANG OLEH S&P

PERINGKAT UTANG MENJADI BBB MINUS DENGAN OUTLOOK STABIL

Pin It

istimewa /

JAKARTA--Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyambut baik atas kenaikan peringkat utang Indonesia menjadi layak investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P). "Kami menyambut gembira bahwa pemeringkat S&P telah menyampaikan hasil dengan meningkatkan peringkat Indonesia menjadi BBB minus dengan outlook stabil," kata Sri Mulyani dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan penilaian dan pandangan (outlook) yang diberikan S&P dalam memberikan peringkat layak investasi tersebut telah sesuai dengan upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kinerja pelaksanaan kebijakan fiskal. Standard & Poor's  (S&P), anak perusahaan McGraw-Hill, adalah salah satu dari tiga perusahaan pemeringkat saham dan obligasi selain Moody's dan Fitch Ratings.

"Kebijakan fiskal Indonesia dianggap telah mengalami perbaikan signifikan dengan langkah yang dilakukan pemerintah dari sisi belanja maupun penerimaan," ungkap Sri Mulyani.

Ia menyatakan bahwa S&P juga melihat desain APBN saat ini jauh lebih realistis karena telah menjadi instrumen yang kredibel dan efektif bagi tujuan pembangunan, serta defisit anggaran yang lebih terjaga. "Indonesia bisa selangkah mencapai tujuan pembangunan, mengurangi angka kemiskinan, menekan kesenjangan, dan menciptakan kesempatan kerja, tanpa harus APBN mengalami situasi yang tidak sustain," katanya.

Selain itu, ia memastikan proyeksi perekonomian dari S&P terhadap Indonesia juga sejalan dengan prediksi pemerintah pada 2017, yaitu pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, inflasi 4,7 persen dan defisit anggaran 2,4 persen terhadap PDB.

Sebelumnya, S&P sempat menempatkan Indonesia pada layak investasi (investment grade) dengan menaikkan peringkat Indonesia pada level BBB-/stable outlook. Dalam laporan terbaru, S&P menyatakan bahwa peningkatan peringkat utang Indonesia didukung oleh efektivitas kebijakan fiskal dalam menciptakan stabilitas perekonomian, meski terjadi ketidakpastian ekonomi global.

Fokus pemerintah terhadap penciptaan anggaran yang lebih realistis juga menjadi poin penting dalam penilaian S&P, khususnya dalam mengurangi risiko penurunan penerimaan dan menekan pelebaran defisit anggaran. Namun, S&P menilai bahwa Indonesia masih memiliki ruang untuk memperbaiki tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dan rasio penerimaan perpajakan (tax ratio).

Pencapaian layak investasi ini menunjukkan adanya kepercayaan yang tinggi dari dunia internasional kepada perekonomian Indonesia, sehingga mampu menurunkan biaya utang pemerintah agar lebih efisien dan memberikan ruang fiskal lebih besar. 

Sebelumnya, peringkat layak investasi telah diberikan oleh lembaga pemeringkat internasional lain, seperti Japan Credit Rating Agency (JCRA) pada Juli 2010, Fitch Rating pada Desember 2011, Moodys pada Januari 2012 dan Rating and Investment pada Oktober 2012.


Sumber : Antaranews.com