RUSDI KIRANA JANJI AKAN LATIH TKI DI MALAYSIA

PRESIDEN LANTIK ENAM DUBES BARU

Pin It

Sekretariat Kabinet /

Presiden Joko Widodo siang ini, Kamis, 18 Mei 2017, melantik dan mengambil sumpah enam duta besar baru Republik Indonesia (RI) untuk sejumlah negara sahabat. Pelantikan keenam duta besar tersebut digelar di Istana Negara, Jakarta.

Pengangkatan para duta besar luar biasa dan berkuasa penuh (LBBP) RI ini tertuang dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 57/P Tahun 2017 tanggal 17 Mei 2017 tentang Pengangkatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia.

Keenam nama Dubes LBBP RI tersebut ialah:
1. Rusdi Kirana S.E., sebagai Dubes LBBP RI untuk Malaysia, berkedudukan di Kuala Lumpur;
2. Adityawidi Adiwoso, M.A., sebagai Dubes LBBP RI untuk Slowakia, berkedudukan di Bratislava;
3. Sidharto Reza Suryodipuro, M.A., sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik India merangkap Kerajaan Bhutan, berkedudukan di New Delhi;
4. Ferry Adamhar, S.H., L.L.M, sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik Yunani, berkedudukan di Athena;
5. Rina Prihtyasmiarsi Soemarno, M.Sc., sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik Rakyat Bangladesh merangkap Republik Demokratik Federal Nepal, berkedudukan di Dhaka;
6. Prof. Dr.  Ratlan Pardede, sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik Persatuan Tanzania merangkap Republik Burundi, Republik Rwanda dan Uni Comoros, berkedudukan di Dar El Salaam.
 
 Pelatihan TKI

 Rusdi Kirana usai dilantik mengatakan akan memprioritasnya penanganan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), baik yang legal maupun ilegal, terutama Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang jumlahnya sangat banyak di negara tersebut. “Saya salah satu keinginan saya menjadi Dubes di Malaysia, yang seperti kita bilang tidak mudah, kembali saya terpanggil untuk mengurusi bukan hanya TKI ilegal tetapi adalah tenaga kerja wanita. Karena perlu diketahui, tidak ada siapapun di dunia ini yang menginginkan anaknya bekerja di luar negeri, terutama yang non formal,” kata Rusdi

 Menurut Rusdi, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) akan mencoba mendidik mereka di Malaysia, dan dihubungkan dengan bank pendanaan. Lalu mereka dilatih membuat Usaha Kecil Menengah, dan pemerintah akan membantu distribusinya maupun penjualan produk tersebut.

Rusdi mengaku dirinya memang sengaja meminta agar ditempatkan sebagai Dubes RI di Malaysia, sebagaimana yang disampaikannya kepada Buya Syafii Maarif (saat itu sebagai Ketua PP Muhammadiyah) pada 2003 lalu. “Saya bilang kalau satu hari, saya mau mengurusi tenaga kerja wanita karena bagi saya sekali lagi itu hal yang terpaksa dilakukan oleh keluarga untuk mencari nafkahnya. Itu salah satunya,” tegas Rusdi.

Dijelaskan oleh Dubes RI di Malaysia itu, kita punya penduduk banyak di sana sehingga banyak masalah di sana. Karena itu, Rusdi mengaku ingin membantu mereka, terutama dengan mengusahakan membangun komoditi knowledge, supaya mereka punya namanya keluarga masih bisa tetap sekolah.

Kemudian, lanjut Rusdi, KBRI di Malaysia mau coba membuka balai latihan supaya para tenaga kerja itu sebelum kembali ke Indonesia, balik dia karena ada masalah atau sedang menunggu administrasinya, coba dilatih, sehingga harapannya mereka kembali ke Indonesia tidak berpikirran untuk kembali ke Malaysia. “Kita mengusahakan mereka menjadi membuka UKM,” ujarnya.

 Menurut Dubes RI di Malaysia Rusdi Kirana, dirinya sudah bicara dengan Bank BRI untuk memberikan pendanaannya. Sementara Lion Grup mau menjamin mereka dari pembayaran  pinjaman mereka. Sementara untuk produk yang mereka buat, pihanya sudah buat pusat UKM di Manado, yang jumlah wisatawannya terus meningkat akhir-akhir ini.

Rusdi Kirana mengatakan, bahwa untuk perlindungan hukum otomatis KBRI harus bekerja sama dengan pihak Malaysia. “Di situ kita juga harus berusaha memberikan perlindungan yang maksimal kepada mereka, tergantung case by case-nya,” terang Rusdi.

Demikian juga dengan TKI ilegal, menurut Rusdi, KBRI akan mencoba memasukkan mereka ke balai pelatihan, dengan harapan mereka bisa kembali ke Indonesia dengan memiliki usaha, seperti UKM. Sementara KBRI juga akan menghubungkan dengan Bank BRI atau bank yang lain untuk pendanaannya. (FID/JAY/ES)



Sumber : Humas Kemensetneg