JOKOWI INGATKAN JATIDIRI BANGSA

JANGAN SALING MENJELEKKAN DAN TERUS MENJAGA PERSATUAN BANGSA

Pin It

istimewa /

OPINI

Dua kali dalam satu hari Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan kita mengenai pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan. Jokowi mengingatkan kita lagi mengenai jati diri bangsa yang pluralistik dalam bingkai negara kesatuan RI.

Pada Selasa pagi Presiden menyampaikan pernyataan itu di depan para mahasiswa anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sedang berkongres di Palu, Sulawesi Tengah. Kemudian setibanya di Jakarta Jokowi mengemukakan hal serupa di depan tokoh-tokoh lintas agama yang diundang ke Istana.

Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa. Ia mengingatkan betapa pentingnya menyadari jati diri bangsa yang sedang berjuang melakukan pembangunan, sehingga berat sama dipikul  dan ringan sama dijinjing. Presiden mengingatkan kita bahwa hidup dalam negara demokrasi yang memberikan kebebasan hak individu, tetap harus menjunjung tinggi supremasi hukum.

Dua kali pernyataan Jokowi tersebut tak bisa dilepaskan dari situasi terakhir bangsa ini. Disadari atau tidak, telah terjadi polarisasi yang memperlihatkan bahwa masing-masing pihak meneguhkan identitas kelompok, baik atas dasar agama, ras dan partainya. Ini memprihatinkan karena bila terus dipertajam maka akan sangat mudah menimbulkan benturan yang bisa merobek-robek persatuan dan kesatuan bangsa. Kalau semua pihak berpendapat bahwa “NKRI Harga Mati” maka  seharusnya mereka mencoba mencari titik temu dan memperjuangkannya sebagai kepentingan bersama.

Maka Presiden mewanti-wanti mengenai pentingnya masalah ini. Kondisi yang tepecah jangan diteruskan. “Untuk para elit, kata Presiden di depan 6.000 kader PMII yang menghadiri kongres ini, berilah contoh dan tauladan dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang baik. "Berikanlah pernyataan-pernyataan yang baik dan santun karena itulah karakter bangsa kita. Jangan kehilangan jati diri dan karakter kita karena bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah, santun, dan sopan," pinta Presiden.

Agaknya, itu pula sebabnya setibanya dari Palu Presiden kemudian bertemu dengan para tokoh agama. Para tokoh itu adalah elite masyarakat. Suara mereka didengar dan diikuti warga. Kita lihat saja beberapa bulan lalu muncul kelompok Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI yang menggalang massa demo dan semacamnya. Kegiatan unjuk rasa tidak hanya berlangsung di Jakarta, melainkan juga di kota kota lain.

Belakangan ini juga muncul aksi-aksi dalam skala dan gaya yang berbeda, berkaitan dengan penahanan Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Selain aksi di depan Penjara Cipinang dan Mako Brimob, juga muncul aksi-aksi di kota-kota lain  dalam bentuk malam keprihatinan dan semacamnya. Bahkan aksi terakhir ini menyebar ke luar negeri, hampir di semua kota besar dunia.

Presiden bukan hanya memprihatinkan hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian keamanan dan ketertiban, namun lebih mendasar lagi ia melihat mulai retaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Ini kecenderungan yang membahayakan bila tidak kita sadari bersama. Resiko yang dihadapi bisa jauh lebih besar dari yang kita perkirakan, bahkan mungkin bisa mengarah pada pecahnya NKRI.

Maka Presiden minta komitmen para pemimpin agama untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa itu. Di lain pihak Presiden meminta TNI dan Polri bertindak tegas terhadap siapapun yang melakukan ucapan dan tindakan yang merusak kesatuan dan persatuan itu. Hukum harus ditegakkan. Meski pun pahit, hukum harus dijunjung agar ketertiban bisa ditegakkan.

Kita semestinya merenungkan pernyataan Kepala Negara tersebut. Kita ini bangsa yang masih harus mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, masih harus bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.  Maka seharusnya seluruh energi kita curahkan untuk bekerja dan membangun, bukan terseret apalagi ikut-ikutan,  pada aksi-aksi yang tidak perlu.

 


Sumber : Berbagai sumber