KUNJUNGAN SIMBOLIS JOKOWI KE MASJID NIUJIE

KUNJUNGAN INI BISA MENINGKATKAN CITRA POSITIF JOKOWI DI DALAM NEGERI

Pin It

Indonesia Shangbao /

Presiden Jokowi diterima Imam Masjid Niujie, Beijing

OPINI

Salah satu kelebihan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah kemampuannya mengembangkan diplomasi yang luwes, fleksibel dan tidak kaku.  Ia melakukan pendekatan budaya yang sering dipandang sebelah mata, namun seringkali justru memberikan dampak positif yang besar.

Di sela kunjungannya ke Beijing, misalnya, Presiden Jokowi menyempatkan diri berkunjung ke Masjid Niujie, sebuah tempat peribadatan tua yang hingga kini masih ramai dikunjungi. Ia diterima dengan baik disana, menjalankan ritual keagamaan dan saling betukar cinderamata dengan Imam Ali Yang Gunjun. Jokowi adalah Presiden RI kedua yang mengunjungi masjid bersejarah ini setelah Gus Dur.

Kunjungan tersebut memiliki arti simbolis penting. Ini sebuah pendekatan kultural. Kita memandang pendekatan seperti ini memberikan arti besar bagi peningkatan rasa saling pengertian kedua bangsa yang memang sudah lama terjalin. Kunjungan itu juga memberikan citra positif  Jokowi di mata pemilih muslim di tanah air. Ia akan dipandang sebagai pemimpin yang memberikan perhatian penting pada masalah-masalah kultural keagamaan. Setidaknya,  kunjungan tersebut bisa menurunkan kecurigaan ummat Islam terutama mereka yang berpandangan bahwa Jokowi tidak memihak bahkan memusuhi kepentingan ummat.  

Maka kunjungan ke masjid Niujie akan meningkatkan citra positif Jokowi di dalam negeri. Bagaimanapun Jokowi berkepentingan merangkul konstituen yang lebih luas menghadapi Pilpres 2019 dan tak mungkin hanya bertumpu pada dukungan formal PDIP atau partai pengusungnya saja. Dukungan massa pemilih di lapis bawah jutsru sangat menentukan keterpilihan seorang calon, yang bisa berbeda dengan pilihan partai-partai besar pengusungnya.

Kita melihat arah yang makin jelas bagaimana Jokowi mendekati dan berusaha merangkul pemilih muslim, terutama dari keluarga besar ahlu sunnah wal jamaah, seraya mengharapkan dukungan mereka untuk menghadapi kalangan garis keras dan radikal. Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) belum lama ini menunjukkan ketegasan pemerintah terhadap perilaku kelompok garis keras yang bisa mengganggu kinerja pemerintah.

Ternyata pembubaran HTI tidak menimbulkan reaksi luas di kalangan ummat Islam. Ini menimbulkan tanda tanya, apakah sebenarnya lapisan muslim yang keras dan radikal secara ideologis tidak terlalu besar?  Apakah HTI memang sebuah kelompok eksklusif yang selama ini dirasakan mengganggu ummat Islam sendiri? Apakah ada kelompok radikal lain yang masih luput dari perhatian pemerintah?

Pertanyaan tersebut muncul karena beberapa waktu belakangan berkembang opini mengenai meningkatnya radikalisasi ummat, tercermin antara lain dari besarnya pengikut unjuk rasa. Mereka dipersepsikan sebagai kaum yang tidak toleran, menentang pluralisme, bahkan dipandang anti Pancasila dan membahayakan NKRI. Tentu saja, pandangan ini sangat menyakitkan, karena sepanjang sejarah ummat selalu berkelindan dengan perjuangan bangsa dalam menegakkan kemerdekaan RI.

Secara lahiriah, kita melihat Jokowi berusaha  jernih menyikapi berbagai persoalan dan kegelisahan ummat. Dukungannya terhadap Kongres Ekonomi Ummat belum lama ini kita pandang sebagai upaya memasuki dan memecahkan inti persoalan yang terjadi. Ia juga berkali-kali menyodorkan data mengenai kesenjangan ekonomi, sehingga perlu ada upaya terencana dan berkelanjutan untuk menurunkan gap tersebut.

Setidaknya, dari janji dan rencana pemerintah, kita melihat upaya Jokowi untuk mengatasi berbagai akar persoalan yang menimbulkan keresahan,  kekecewaan dan pikiran-pikiran radikal. Tinggal kita tunggu bagaimana ia merealisasikannya.

Dalam perspektif itu kita mengapresiasi kunjungan Jokowi ke masjid Niujie di Bejing. Kita memandangnya  bagian dari upaya meneguhkan citranya sebagai pemimpin yang menyadari apa yang sedang terjadi dan tahu apa yang seharusnya ia perbuat.  Ia sedang memainkan kartu penting, yang kita sulit menduga apa kartu berikutnya.


Sumber : Berbagai sumber