NYEPI

UPAYA MEMAKNAI HIDUP

Pin It

istimewa /

NYEPI

Seluruh wilayah Bali gelap gulita. Seolah tak ada suasana kehidupan, semua sunyi, kecuali lantunan mantra dan doa. Begitu pun  rumah-rumah warga penganut Hindu yang tinggal di luar Bali, mereka mengurung diri, tanpa kegiatan apapun kecuali berkontemplasi dan berdoa kepada sang pencipta.

Itu gambaran suasana Hari Raya Nyepi yang bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Saka 1939, Selasa 28 Maret 2017. Bali memang menutup diri dari dunia luar. Bandara I Gusti Ngurah Rai yang selalu sibuk oleh hilir mudik turis asing dan domestik, tutup sehari penuh,  tak terdengar deru mesin jet dan teriakan para petugas lapangan. Begitupun kegiatan di pelabuhan yang menghubungkan Bali dengan Banyuwangi di Jawa Timur maupun penyeberangan ke Lombok, NTB.

Bali menutup diri dan seolah mengasingkan diri dari hiruk pikuk duniawi. Tanpa kopromi. Meski Nyepi merupakan ritual keagamaan, orang lain harus menyesuaikan diri. Mutlak, kalau mengganggu atau melanggar maka akan berhadapan dengan para pecalang yang keras terhadap pelanggaran adat. Turis asing yang tak tahu menahu adat dan budaya lokal itu pun harus tunduk dengan diam saja di kamar-kamar hotel atau menyeberang ke Lombok sehari sebelum Nyepi,  untuk melanjutkan acar pelancongannya.

Ada empat tahap dalam perayaan Nyepi. Yaitu, melasti, tawur agung, nyepi dan ngembak gni. Kaum Hindu menjalani dengan hidmat karena setiap tahapan itu memiliki makna filosofis yang mendalam. Itu sebuah proses penyucian diri, memperbaiki dan meningkatkan kualitas fisik dan mental, untuk menjadi manusia baru yang lebih bermutu.

Melasti. Acara ini dilakukan di pantai atau sumber-sumber air. Mereka membawa sesaji, benda-benda dan hal-hal fisik yang harus disucikan. Tubuhpun harus dipercik air suci agar segala kotoran dan pengaruh buruk hilang dan larut oleh air suci.  Melasti melambangkan proses penyucian atas fisik, raga dan wadag yang seringkali bersentuhan dengan keduniawian yang kotor.

Tawur Agung. Upacara ini dimaksudkan untuk membasmi segala kejahatan dan angkara murka. Maka ummat menggotong ogoh-ogoh beraneka bentuk, sebagai lambang dunia gelap dan jahat. Simbol keangkaramurkaan itu kemudian dibakar dan dimusnahkan. Makna simbolisnya sangat jelas. Setiap pribadi  ummat harus menyingkirkan nafsu angkara murka yang seringkali menggoda, menipu dan menyesatkan, bahkan menimbulkan konflik antar sesama.

Nyepi. Ini puncak upacaranya. Ada empat pantangan dalam nyepi. Yaitu, amati karya (diam dan tidak melakukan pekerjaan duniawi), amati gni (tidak menyalakan api), amati lelungaan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Keempat pantangan itu cukup berat karena dilakukan sehari semalam penuh. Ini membutuhkan komitmen pengendalian diri yang tinggi agar mampu melaksanakannya.

Ngembak gni. Setelah ritual nyepi dilakukan maka diperbolehkan berbuka puasa, melangkahi pantangan untuk menyantap makanan dan minuman serta bepergian keluar rumah. Tahap keempat ini juga berisi anjuran agar setiap warga bersilaturrahmi dengan tetangga dan sesama, menjalin komunikasi sebagai manusia baru yang menyebarkan energi positif dan konstruktif.

Kita bisa menarik makna yang mendalam dari setiap ritual keagamaan seperti Nyepi ini. Sejatinya, penghayatan agama memang menuju pada peningkatan mutu kesalehan pribadi seperti itu.  Apapun agamanya. Ritual keagamaan itu semacam sarana untuk meningkatkan kualitas penghayatan nilai-nilai ilahiyyah, yang menuntun kita agar bisa hidup lebih bermakna bagi diri pribadi maupun sesama.

Maka misi penyebaran kedamaian dan kesejahteraan alam semesta dalam setiap agama, semestinya berawal dari kualitas pribadi yang saleh, bersahaja dan menghembuskan energi positif. Bila setiap pribadi memilikinya, maka alam pun akan menyambutnya. Bila tidak, kiranya akan berlaku sebaliknya.

 

 

 

 


Sumber : BC