EDISI AKHIR TAHUN

Semangat yang Tak Akan Padam

Kala itu, saya diajak bergabung untuk menerbitkan kembali harian yang telah diberedel rezim Soeharto pada Oktober 1986.

Pin It

Sinar Harapan / Foto

Kristanto Hartadi

Saya sebenarnya tidak pernah tahu ada rencana harian Sinar Harapan akan terbit lagi apabila tidak dihubungi suatu kali oleh Nico Sompotan (menantu almarhum HGR Rorimpandey, salah satu pendiri Sinar Harapan) pada 1961. Kala itu, saya diajak bergabung untuk menerbitkan kembali harian yang telah diberedel rezim Soeharto pada Oktober 1986. 

Saya lupa persis tanggalnya Nico menghubungi saya, mungkin antara November atau Desember 2000. Ketika itu, saya masih bekerja di portal internet astaga.com sebagai head of news channel.

Saya berteman dengan Nico Sompotan sejak masih bekerja di harian sore Suara Pembaruan. Saya keluar dari surat kabar ini pada Desember 1999, setelah 10 tahun bekerja di sana dengan jabatan terakhir redaktur pelaksana pemberitaan. 

Saya sebenarnya menikmati pekerjaan dan jabatan ini, namun memutuskan resign dengan alasan: gaji (ketika itu) tidak bersaing. Saya juga merasa tidak nyaman dengan perilaku anggota direksi tertentu. Jadi, ketika ada tawaran bergabung dengan portal internet tersebut (yang menjadi bagian dari demam dotcom di seluruh dunia), apalagi dengan tawaran gaji yang lumayan pada masa itu, tawaran itu saya sambar.

Ketika Nico mengajak saya membantu menerbitkan kembali Sinar Harapan, sebenarnya ada sejumlah pertanyaan dalam benak saya. Pertama, siapkah saya bersaing head to head dengan teman-teman saya di mantan almamater surat kabar Suara Pembaruan. Kedua, apakah saya mampu membangun tim yang cukup kompak dan bagus di surat kabar baru ini, mengingat pada awal era Reformasi banyak bermunculan media baru (cetak maupun elektronik) yang semua berebut wartawan. Ketiga, apakah pemodalnya cukup kuat dan bonafide. Tentu saja ada segudang pertanyaan lain.

Jujur saja ketika ditawari Nico, ia tidak pernah menyebutkan siapa investornya, berapa saya akan digaji, di mana kantornya, dan seterusnya. Namun yang pasti, saya terpesona dengan moto surat kabar ini, yakni “Memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan, kebenaran dan perdamaian berdasarkan kasih.” Saya percaya, HG Rorimpandey adalah seorang Kristen yang baik dan tulus dan surat kabar ini warnanya kristiani. 

Hal lain yang menjadi pertimbangan, saya ketika itu merasakan dampak pemberitaan media internet tidak sehebat surat kabar (belakangan saya baru menyadari jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2000 baru sekitar 2 juta orang dan belum berpuluh kali lipat dari jumlah itu seperti sekarang ini). Jadi, saya setuju bergabung karena ingin menikmati kembali the power of information holder dan memberi warna kristiani dalam percaturan politik Indonesia.

Sejak itu, mulailah kami rapat-rapat bertiga; saya, Nico, dan Baradita Katoppo (anak kedua Aristides Katoppo). Kami membahas konsep awal surat kabar yang akan diterbitkan ini. Dalam pembicaraan itu, juga mulai dimunculkan nama-nama yang akan diajak bergabung, antara lain Om Peter Rohi (mantan koresponden Sinar Harapan di Kupang) juga Mas Pramono Pramoedjo (mantan kartunis di Sinar Harapan lama dan Suara Pembaruan). 

Dalam perjalanannya, rapat-rapat persiapan yang lebih besar juga melibatkan para mantan wartawan Sinar Harapan lama dan Suara Pembaruan, seperti Samuel Pardede dan Annie Bertha Simamora (semua sudah almarhum). Dalam beberapa kali rapat, Bapak HG Rorimpandey juga ikut, walau tidak banyak berbicara karena memang usia beliau yang sudah lanjut (80 tahun). 

Ketika itu, Aristides Katoppo, yang bersama-sama Pak Rorim bersepakat menerbitkan kembali Sinar Harapan, sedang berada di Amerika Serikat. Jadi, beliau sama sekali tidak terlibat dalam persiapan ini.


Keterbatasan

Mulai Februari 2001, saya fulltime mempersiapkan penerbitan Sinar Harapan. Ketika itu tidak ada gaji, baru honor yang jumlahnya tak seberapa dibayarkan (sampai sekarang istri saya masih mengomel kalau hal ini diungkit). 

Om Peter Rohi juga sudah fulltime bergabung dan kantor sudah tersedia, yakni bertempat di Jalan Fachrudin Nomor 6, Tanah Abang, Jakarta Pusat, di bekas kantor Asosiasi Emiten Indonesia. Di situlah kami memulai perekrutan wartawan.

Beberapa rekan wartawan eks harian Suara Bangsa (harian yang dibentuk sejumlah mantan wartawan Suara Pembaruan yang beda pendapat dengan manajemen) mulai bergabung, seperti Wahyu Dramastuti, Kristin Samah, Eddie Lahengko, Helmy Fauzy, Togu (produksi dan pracetak), Benediktus Eddie (IT), dan Adiseno (eks majalah Mutiara). Artinya, sebagian awak Sinar Harapan baru adalah mantan alumni Jalan Dewi Sartika 36D, Cawang, Jakarta Timur (kantor Sinar Harapan sebelum diberedel yang kemudian digantikan Suara Pembaruan).

Ada pula sejumlah wartawan eks astaga.com, seperti Mohamad Nuryadi, Rikando Somba, dan Fransiska Ria Susanti. Lalu sejumlah wartawan yang pernah dibina Om Peter Rohi, seperti Daniel Duka Tagukawi dan Sihar Ramses Simatupang (penyair). Juga ada redaktur foto Mosista Pambudi (eks LKBN Antara), Haji Isyanto (eks Pos Kota) yang banyak meliput olahraga, dan lain-lain. 

Pelan namun pasti, tim redaksi mulai terbentuk. Dummy dan mock up terus dipersiapkan. Menjelang terbitnya Sinar Harapan pada pertengahan Juni 2001, Aristides baru datang dari Amerika Serikat dan mulai terlibat. Ini karena memang dia yang akan menjadi pemimpin redaksinya. 

Oleh direksi dan pemimpin redaksi, saya bersama Pramono Pramoedjo ditunjuk menjadi wakil pemimpin redaksi, dengan pemimpin redaksi merangkap pemimpin umum Aristides Katoppo. Dalam perjalanannya, Aristides memang jarang terlibat langsung dalam kegiatan redaksi sehari-hari maupun muncul di kantor. Tugas pelaksana pemimpin redaksi diserahkannya kepada saya.

Sebagian kisah terbit kembali Sinar Harapan dan mengapa harian ini harus terbit kembali ada tercatat dalam buku biografi HG Rorimpandey, Semua Harus Untung, yang tak perlu saya ceritakan lagi di sini. Dapat dikata ketika akan diterbitkan kembali, Sinar Harapan tidak berada dalam situasi yang hebat dan gemerlap, bahkan sederhana. Baru menjelang koran akan terbit perdana, jumlah komputer ditambah. Semua komputer (kecuali komputer milik wapemred dan sekretaris redaksi) harus dipakai bergantian karena jumlahnya tidak memadai. Kendaraan operasional terbatas. Semua serbaterbatas. 

Saya mencatat, sejak awal surat kabar ini selalu kesulitan keuangan. Hanya berkat kemurahan Tuhan Yesus, ia bisa tetap terbit sampai akan ditutup pada 1 Januari 2016.

Saya sangat terharu dan bangga dengan semangat teman-teman di redaksi pada hari-hari pertama koran hendak diterbitkan. Dengan segala keterbatasan, mereka rela begadang dan menginap di kantor demi agar surat kabar ini tetap dapat terbit kembali dan mengibarkan panji-panji “Memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan, kebenaran dan perdamaian berdasarkan kasih.”

Namun, yang saya merasa sedih adalah di surat kabar ini, konflik-konflik internal selalu saja ada, bahkan sampai hari-hari terakhir. Sepertinya ada yang selalu ingin menghidupkan roh konflik. Juga ada hal lain yang sedari awal tidak pernah dilakukan ketika akan menerbitkan kembali Sinar Harapan, yakni survei pasar (pembaca, pengiklan, sirkulasi) yang ilmiah untuk mengetahui koran sore memang masih dibutuhkan atau tidak di pasar, bagaimana persaingan dengan sesama surat kabar yang ada (pagi dan sore), maupun dengan media-media lainnya (jumlah stasiun televisi yang terus bertambah, juga perkembangan new media yang sangat pesat mengikuti kemajuan teknologi komputer). 

Surat kabar ini diterbitkan kembali tanpa disertai asumsi-asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penerbitannya lebih banyak diwarnai semangat masa lalu. Kiranya hal ini jangan terulang.

Akan tetapi, tentu saja saya tidak pernah menyesal. Saya bahkan bangga pernah terlibat menerbitkan kembali dan memimpin Sinar Harapan baru pada 2001-2010 (tahun itu saya meminta mundur sebagai pemimpin redaksi dan dikabulkan. Lalu pada Oktober 2012, saya resign dari surat kabar ini. Karena besar atau kecil peran itu, kami bersama-sama di tim redaksi pernah terlibat dalam jalannya sejarah bangsa ini melalui karya-karya jurnalistik kami, dengan sudut pandang kami. Koran kami yang kecil ini (karena memang oplahnya tidak pernah dan sulit menjadi besar, apalagi diterbitkan sore hari) cukup diperhitungkan dalam percaturan politik nasional di Jakarta.

Saya tidak tahu ke depan Sinar Harapan akan tetap berkibar dalam platform yang baru (kalau menurut saya, sudah tidak masuk akal menerbitkan media cetak di Jakarta pada saat ini ketika perkembangan internet sudah demikian masif dan hebat). Namun saya percaya, semangat “Memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan, kebenaran dan perdamaian berdasarkan kasih” tidak akan pernah padam. (*)


Sumber : Sinar Harapan