Jejak-jejak Itu …

Sinar Harapan harus kembali tampil dengan orang-orang hebat.

Pin It

/

Masih pagi pada pertengahan Januari 2001, ketika HP Siemens berwarna kuning dalam genggaman saya bergetar. Telepon dari Nico Sompotan, menantu HG Rorimpandey, mantan Pemimpin Umum Harian Sinar Harapan yang sudah diberedel pada 1986.
“Apa kabar Bung Nico, saya sedang di Surabaya.”
“Bung Peter diminta Pak Rorim segera ke Jakarta,” ujar Nico.
“Kita akan dirikan kembali Sinar Harapan. Besok diundang Pak Rorim rapat di Hotel Millenium, Tanah Abang,” kata Nico.

Saya sudah mengenal Nico sebelum menjadi menantu bos, ketika kami sama-sama mempersiapkan berdirinya koran Suara Indonesia di Malang, sebagai anak perusahaan Sinar Harapan. Walau hati saya berbunga-bunga, saya harus menelepon Benny dulu, petinggi di perusahaan harian Kompas. Soalnya saya saat itu masuk dalam tim riset Kompas untuk mendirikan harian sore yang dipimpin Benny, setelah harian sore Suara Bangsa gulung tikar.

Ternyata Pak Rorim datang menemui Pak Jacob Oetama. Selain silaturahmi antara dua sahabat lama, Pak Rorim menyampaikan keinginannya mendirikan kembali harian Sinar Harapan yang diberedel rezim Soeharto. Tentu saja Pak Jacob mengurungkan niatnya, mengingat pernah ada janji keduanya agar Sinar Harapan tidak mendirikan harian pagi, sebaliknya Kompas tidak menerbitkan harian sore.

Sore hari itu juga saya berangkat ke Jakarta dengan kereta malam. Hanya membawa beberapa lembar pakaian dan beberapa buku. Pada saat yang tepat saya bisa mengikuti undangan Pak Rorim. “Kami harus menerbitkan kembali Sinar Harapan sebagai pernyataan bahwa kami tidak pernah bersalah, dan yang tidak bersalah itu pada akhirnya akan menang,” seru Pak Rorim.

Beberapa muka lama, selain Nico tampak hadir seperti mantan redaktur Samuel Pardede, Annie Bertha Simamora, yang lainnya saya tidak ingat. Ada muka baru, beberapa anak muda antara lain Kristanto Hartadi yang disebut sebagai calon pemimpin redaksi. Saya memang belum pernah dengar namanya, juga belum pernah mendengar debutnya dalam dunia jurnalistik. Tapi Nico mengatakan pada saya, ia hebat sebagai redaktur luar negeri Suara Pembaruan.

Memang, Sinar Harapan harus kembali tampil dengan orang-orang hebat. Sebelum pertemuan itu ditutup dengan doa oleh Samuel Pardede, Pak Rorim berpaling pada saya. “Peter, kamu yang paling senior. Tidak ada lagi orang lama di sini kecuali kamu. Saya percaya kamu bisa tangani ini semua,” kata Pak Rorim.
“Apakah Sinar Harapan yang baru ini masih seperti dulu, bekerja sama dengan Dewan Gereja (PGI)?” tanya saya.
“Oh, tidak. Ini independen.”

Kami pun dibawa ke sebuah gedung kosong di seberang jalan. “Ini kantor kita. Peter, kau pilih mau tidur di lantai mana selama persiapan,” ujar Pak Rorim.

Keesokan harinya saya dan Kristanto mulai bekerja. Saya membawa anak saya, Oni, untuk membantu dalam proyek yang belum beranggaran itu. Keponakan saya, Pino, menawarkan tetangganya yang baru datang dari Padang Sidempuan. “Kasihan, dia bawa keluarga, belum ada pekerjaan,” kata Pino.

“Asal dia bisa komputer dan mau bekerja sukarela dulu, suruh dia ke sini,” jawab saya.
Keesokan harinya datanglah Pardamean Sitompul sebagai tenaga administrasi yang pertama. Ia mulai mengerjakan jadwal yang saya hitung mundur dari rencana terbit semula. Kalau saya tidak salah, sampai tiga kali kami tunda penerbitan karena anggaran belum masuk.

Meniti Perjuangan
Dana operasional kami pun belum ada. Kadang-kadang Nico memberi uang Rp 500.000 untuk makan kami di kantor yang sudah mulai ramai. Ada Didiet Ernowo dari Surabaya, ada Gatot Irawan yang selalu menjadi teman berdiskusi, ada anak Sumba yang saya lupa namanya (kalau tidak salah, Daniel Tagukawi). Saya memanggil Ayu Wullandari yang sudah memiliki pengalaman di media kampus Universitas Indonesia untuk membantu di litbang.

Kami mendirikan perpustakaan, tapi karena masih kosong, saya minta istri saya memboyong lebih 1.000 buku dari perpustakaan pribadi saya di Surabaya. Dua kali istri saya pulang-pergi membawa buku-buku itu. Saya dan Ayu Wullan menjemput buku-buku itu di Stasiun Gambir. Dua kali itu juga istri saya langsung pulang dengan kereta itu.

Kami berusaha mengadakan pertemuan dengan para senior yang lain. Beberapa teman sering datang menemui kami, seperti Helmi Fauzi yang kemudian menjadi redaktur opini (kini Duta Besar RI di Mesir), dan Ir M Nuryadi almarhum yang kemudian menjadi redaktur ekonomi dan sempat menjadi pemimpin redaksi di koran ini.

Mendekati penerbitan, kami memanggil calon-calon wartawan untuk diberi pendidikan. Saya dan Kristanto menyaring para pelamar, kemudian menentukan para redaktur. Saya sendiri lebih senang sebagai kepala litbang agar dapat masuk ke semua lini dalam perusahaan. Saya ingin membuat koran ini sebesar Kompas dengan manajemen yang hebat. Karena itu, saya mengirim beberapa orang belajar di Litbang Kompas, termasuk Ayu Wullandari dan Sinaga.

Setelah semua redaktur ditentukan, ternyata belum ada redaktur daerah. Saya terpaksa merangkap pekerjaan ini, tapi sebelumnya saya “menjemput” Widjil Purnomo di rumahnya. Jadi, saya pada awalnya menyelesaikan halaman daerah sebelum menulis tajuk rencana setiap hari. Karena tajuk rencana ini, dua kali Kedutaan Besar AS mengirimkan Kepala Public Relation-nya ke Sinar Harapan. 

Presiden Gus Dur mengirimkan anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Effendi Choiri untuk mengucapkan terima kasih karena tajuk rencana yang saya tulis dianggap paling netral dan tidak ikut-ikutan memojokkan beliau. Effendi adalah mantan redaktur ketika saya memimpin harian Jayakarta sebagai redaktur pelaksana.

Suatu hari dengan dua surat jalan saya dikirim ke Timor Leste untuk meliput pemilu di sana. Saya ditugaskan meliput para imigran gelap di perairan Timor. Tapi, beberapa waktu kemudian saya meninggalkan koran itu. Akhir bulan ini, koran Sinar Harapan tutup. Jejak-jejak saya ada di situ dan dengan sendirinya berakhir pula. 


Sumber : Sinar Harapan