Anak (Selalu) Jadi Korban Kekerasan

Kebanyakan pelaku berasal dari lingkungan terdekat keluarga.

Pin It

/ Ist

Tidak ada tempat aman dan nyaman bagi anak di Jakarta dan sekitarnya. Anak selalu menjadi sasaran tembak.  Sepanjang 2015, kasus kekerasan terhadap anak meroket dan membuat banyak kalangan waswas. 
Bentuk kekerasan terhadap anak, di antaranya pelecehan seksual, percabulan, penganiayaan, hingga pembunuhan termasuk penculikan. Tragisnya, pelaku kejahatan terhadap anak justru mereka yang sangat dekat dengan korban, bahkan dari kalangan dan lingkungan keluarga. 
Terakhir kali, warga Ibu Kota digegerkan dengan penemuan mayat remaja bernama Adinda Anggia Putri (12) di hutan produksi pohon Akasia Mangium Jasinga, Kabupaten Bogor, 23 Oktober 2015.  Remaja yang masih duduk di bangku sekolah kelas  VII Madrasah Tsawiyah Al- Mubarak Jatiluhur, Jakarta Pusat, ini menjadi korban kebiadaban pamannya. Pelakunya adalah Anwar Alias Rizal. Tersangka  tega memerkosa dan membunuh keponakannya sendiri. 
Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Bambang Widodo Umar mengungkapkan, pelaku pedofil ini memang tidak terlihat seperti orang jahat. Justru pedofil selalu menunjukan sikap penyayang, ramah, serta murah senyum kepada anak-anak yang menjadi target korbannya.
"Pelaku pemerkosaan atau pencabulan terhadap anak-anak tersebut bisa disebut kelainan jiwa yang eksklusif. Itu  karena tidak terlayani dan tidak terpenuhi keinginan nafsunya. Jadi, dia bisa melakukan tindakan sadis atau kejam," tuturnya.
Pelaku pedofil, ia menambahkan,  harus mendapatkan pengobatan jiwa karena faktor utamanya adalah kejiwaan. "Biasanya, pedofil kemungkinan pernah mendapatkan perlakuan  sadis  atau  trauma mendapatkan tindakan asusila. Jadi, dia melakukan pembalasan kepada orang lain," ujarnya.
Terhadap korban pedofil,  psikiater Mintarsih A Latief menjelaskan, anak-anak yang menjadi korban biasanya ada di daerah kumuh. Korbannya pasti selalu dibujuk terlebih dahulu oleh pelaku.  
“Anak-anak yang berada di daerah kumuh biasanya dibujuk pelaku  dengan cara memberikan uang, permen, atau diajak jalan-jalan," ucapnya.
Anak-anak yang berada di wilayah  kumuh  rentan menjadi korban kekerasan. Akibatnya, tidak sedikit anak yang bisa dibujuk rayuan manis dari pedofil. 
"Pada anak-anak yang ekonomi keluarganya lebih tinggi, biasanya mereka tidak mau dibujuk pelaku  yang jauh di bawah levelnya. Tapi, tergantung anaknya sendiri apakah anak itu bisa dibujuk atau dipaksa," katanya.
Melihat semakin tingginya kekerasan seksual terhadap anak, wacana hukuman kebiri pun bagi pedofil atau pelaku pemerkosaan mengemuka.  Namun, hal tersebut, tidak membuat pelaku kejahatan dan kekerasan seksual takut dalam beraksi. 
Memang tak banyak masyarakat melaporkan kepada polisi tentang kekerasan seksual terhadap anaknya. Jadi, kasus yang dilaporkan ke polisi ini jumlahnya masih kecil.

Satgas Anak
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar (Kombes) Mohammad Iqbal mengatakan, jajaran  Polda Metro Jaya  tetap serius dan tegas mengusut kasus kekerasan anak, terutama kekerasan seksual. "Kami sangat serius menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak. Polisi akan bertindak tegas. Kami tahan siapa pun pelakunya karena ini sudah merusak moral anak bangsa," tuturnya.
Mohammad Iqbal menyatakan, pihaknya  berkomitmen menangani dan memberantas pelaku kejahatan  terhadap anak. Jadi, seluruh polsek dan polres wilayah hingga Polda Metro Jaya serius memberantas kasus tersebut. Pihaknya bahkan sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kekerasan Anak.
Tanggal 2 Oktober 2015, publik tiba-tiba dikagetkan dengan tindak predator anak yang dengan keji melecehkan korban, bahkan hingga menghilangkan nyawanya, seperti yang dialami Putri Nur Fauziah (9). Korban ditemukan tewas di Kalideres, Jakarta Barat.   Siswi SD ini ternyata dibunuh dan dicabuli, lalu dimasukkan dalam kardus oleh pelaku. 
Predatornya belakangan diketahui merupakan warga lingkungan rumah korban, yaitu Agus Dermawan. Pelaku  juga seorang residivis. Tersangka yang kini ditahan polisi telah banyak melakukan tindakan pelecehan terhadap  anak  di lingkungannya. Bahkan, ada satu dari korbannya yang sempat dihamili Agus. 
Untuk mencegah kasus serupa, Polda Metro Jaya berinisiatif membuat stiker "Taman Aman Anak" di tempat-tempat strategis, seperti perumahan, toko, dan sekolah. Stiker ini dibuat guna mengajarkan anak cara melapor ketika menghadapi tindakan-tindakan sadis para pelaku kejahatan.  Selain itu, dengan stiker tersebut, semua masyarakat dapat ikut berpartisipasi memerangi kekerasan terhadap anak. 
Guna mencegah kekerasan terhadap anak, Kapolsek Metro Jagakarsa Jakarta Selatan, Komisaris Sri Bhayangkari, telah melakukan sosialisasi "Tempat Aman Anak" mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA di enam  kelurahan pada wilayah Polsek Jagakarsa. " Kami sudah menyosialisasikan logo  ‘Tempat Aman Anak’ kepada siswa PAUD  sampai tingkat SMA," ucapnya.
Ia mengatakan, dalam sosialisasi " Tempat Aman Anak", ia  berpesan kepada guru dan orang tua kalau ada anak yang mengadu mengalami kekerasan dan pemaksaan, segera hubungi polisi terdekat. Nantinya mereka dilayani Unit Khusus Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) di setiap polres.
Langkah polisi guna menyosialisasikan "Tempat Aman Anak" kepada masyarakat dinilai sangat penting. Ini karena kepolisian berperan memberikan materi tentang yang dimaksud dengan kekerasan terhadap anak, cara melaporkan apabila terjadi kekerasan tersebut, serta memberikan tip untuk mencegah kekerasan di kalangan anak anak. (*)


Sumber : Sinar Harapan