"Silet di Belantara Digoel": Perjuangan Dokter di Tengah Keterbatasan Papua

Film ini berkisah tentang perjuangan dokter muda di puskesmas pedalaman Papua dan berupaya menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya.

Pin It

Ist / Foto

Adegan dalam film "Silet di Belantara Digoel"

Apa yang harus dilakukan seorang dokter yang peralatan operasinya sangat terbatas untuk secepatnya melakukan operasi sesar pada ibu yang akan melahirkan di belantara Digoel? Tampaknya tiada jalan selain melakukan operasi sesar dengan silet! Demikian yang mengemuka dalam film Silet di Belantara Digoel Papua.

Adalah John (27 tahun), lelaki kelahiran Jayapura yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di sebuah desa pedalaman di wilayah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua.

Sosoknya yang pintar bergaul, sopan, penuh dedikasi, dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak serta penuh kesabaran dan tetap teguh dalam pengharapan dalam suka maupun duka, membuatnya disukai banyak orang.


Polemik kemudian muncul ketika dokter John dihadapkan sebuah kenyataan. Ia bersama stafnya harus melakukan operasi sesar terhadap Ibu Agustina (35 tahun), yang notabene telah melahirkan sebanyak sembilan kali. Tragisnya, Puskesmas Tanah Merah tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melakukan operasi sesar.

Ditambah, masalah keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan yang ada.
Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dan melakukan wawancara medis dengan pasien, diketahui bahwa letak janin melintang dengan punggung janin di bagian bawah, tunggal, hidup, dan cairan ketuban hampir habis.

Tidak bisa dimungkiri lagi, kondisi ibu maupun janin yang dikandungnya berada dalam ancaman bahaya.
Melihat situasi yang demikian, segera saja dokter John melakukan rapat koordinasi dengan para bidan dan suster. Dokter John lalu memerintahkan bidan Anto dan bidan Vince untuk pergi ke Perum Telkom guna melakukan sterilisasi alat-alat operasi.

Itu karena aliran listrik di puskesmas pada siang hari belum menyala dan baru menyala menjelang magrib sampai pukul 24.00 WIT (Waktu Indonesia Timur). Suster Ancelina ditugaskan untuk menyiapkan kamar ruang operasi yang sekaligus digunakan sebagai ruang bersalin.

Sementara itu, suster Lidia bertugas menyiapkan beberapa dug steril dan perlengkapan lainnya. Dokter John harus pergi ke ruang penyimpanan obat di kesusteran untuk mengambil kasa steril.
Keadaan tambah runyam ketika sampai di gudang kesusteran dokter John diberitahu suster Ivo kalau pintu gudang terkunci.

Kuncinya dibawa oleh para suster ke Merauke.
Setelah mengambil cairan obat bius di rumah tempat tinggalnya yang berjarak 1 kilometer dari puskesmas dengan berjalan kaki, lantaran satu-satunya mobil ambulans milik puskesmas ringsek dan rusak akibat kecelakaan 15 tahun sebelumnya, dokter John kembali ke puskesmas.

Namun, baru saja tiba di puskesmas, Thomas, salah satu karyawan puskesmas, memberitahu kalau pisau operasi sudah habis.
Dokter John lalu memberikan selembar uang kertas Rp 100.000 kepada Thomas dan memerintahkannya untuk membeli silet. Ia lalu memerintahkan bidan Willem dan bidan Allex untuk merebus alat-alat operasi dengan menggunakan kayu bakar. Tepat pukul 10.10 WIT, operasi sesar terhadap Ibu Agustina dilaksanakan dengan silet bermerek Tiger.

Kisah Nyata


Silet di Belantara Digoel
Papua merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata tentang dokter John Manangsang yang menantang maut di belantara Digoel Papua sekitar tahun 1990. John turut membintangi film ini memerankan dirinya sendiri.


“Memang kisah nyata dalam buku yang diangkat jadi film ini menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda yang ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua yang berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya. Pertaruhan yang luar biasa. Bukan hanya hidup mati pada pasiennya, melainkan juga hidup mati dokternya karena kondisi hutan dengan tidak ada bius untuk operasi, peralatan terbatas, tidak ada tenaga dokter yang memadai sehingga melakukan operasi sesar dengan memakai silet,” ucap John.


Film produksi PT Foromoko Matoa Indah Film ini pun sukses meraih penghargaan Piala Maya 2015 di kategori Film Daerah Terpilih. Film  arahan sutradara Henry W Muabuay tersebut digarap langsung di Papua dan oleh orang Papua. “Film ini digarap 100 persen oleh putra-putra Papua,” kata produser FX Purnomo bangga.

Selanjutnya, pria yang akrab dipanggil Ipong itu membeberkan kendala dalam proses syutingnya, yaitu kondisi alam Papua yang cukup susah untuk dijangkau. Tim produksi film Silet di Belantara Digoel Papua melakukan perjalanan dari Kabupaten Merauke ke Kabupaten Boven Digoel yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam.

“Lokasi syutingnya menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian pada tahun 1990-an, yaitu berupa puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet,” tuturnya.




Sumber : Sinar Harapan