Sayembara Menulis Manuskrip Buku Puisi: "Cermin Retak" Estetika Puisi Indonesia Mutakhir

Sejatinya puisi, ia masih dalam koridor nilai kepuitisannya. Diksi, gaya bahasa, citraan, rima, dan tema harus bertaut di dalamnya.

Pin It

Dok. DKJ / Foto

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta menggelar Malam Anugerah Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Selasa (22/12).

Hal itulah yang kemudian membedakannya dengan prosa fiksi. Harapan itu selalu muncul, melalui perjuangan para penyair, upaya penyeleksian redaktur media massa, seleksi dewan juri sayembara, dan diskusi-diskusi tentang nilai estetis sebuah puisi serta perkembangannya di dunia sastra Indonesia.

Akan tetapi, di luar dugaan sebuah kejutan luar biasa datang dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada akhir 2015. Juri Joko Pinurbo, Oka Rusmini, dan Mikael Johani, yang notabene dipandang panitia sebagai figur yang paham terhadap estetika puisi, pada malam itu seolah telah “mengacuhkan” nilai estetis kepuitisan puisi yang semestinya wajib melekat dalam tubuh sebuah puisi.

Dengan memenangkan puisi berjudul “Sergius Mencari Bacchus” karya Norman Erikson Pasaribu dan dengan ditayangkannya puisi tersebut, dibaca dan diapresiasi ratusan mata penonton di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, nyatanya telah membuat semuanya tentang puisi menjadi berubah.


Malam itu, nilai estetis kepuitisan sebuah puisi seolah “hancur” berkeping, berserakan di hati para penonton yang sebenarnya ingin menyaksikan, sejauh mana, seperti apa, perkembangan nilai estetis kepuitisan pada sosok Norman Erikson Pasaribu. Puisi yang dihadirkan dan dibaca dengan begitu “gamblang” adalah sebentuk narasi kecil, lebih mirip catatan harian yang benar-benar “polos” tanpa diksi, gaya bahasa, citraan, apalagi rima. Inilah puisi penyair garda depan Indonesia? Inikah bentuk puisi Indonesia mutakhir? Sebuah puisi, yang bahkan tidak dapat disebut sebagai “puisi”? Apakah ini bentuk baru sebuah puisi yang telah mampu “menggeser” 567 manuskrip buku puisi penyair seluruh Indonesia?

Seolah, catatan harian mini yang pendek-pendek, dalam 20 bagian yang dibacakan Norman telah menjadi “penanda” atau “cermin” keseluruhan buku puisi “Sergius Mencari Bacchus”. Penonton merasakan benar bahwa estetis kepuitisan puisi benar-benar telah lepas dari tubuhnya.

Puisi bukan lagi “puisi”, melainkan hanya sederet peristiwa yang dipaparkan secara narasi, dalam urutan waktu dan tempat, serta tokoh cerita. Hal ini telah menjadi sebuah “keterpurukan” terhadap nilai estetis puisi yang sejatinya merupakan dunia yang indah, lembut, murni, bahkan mulia dan agung.

Sebuah harapan pesimistis tentang perkembangan perpuisian Indonesia mutakhir pun akhirnya bagai “meremang” di seluruh tubuh dan jiwa penonton Malam Anugerah Sayembara Menulis Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015. Harapan untuk menjadikannya sebagai sebuah “tolok ukur” dalam perpuisian Indonesia, seolah “sirna sudah”.


Bukti fisik puisi yang dibacakan, puisi “Sergius Mencari Bacchus” karya Norman Erikson Pasaribu, mengesankan beberapa pertanyaan. Apakah puisi dengan tema baru adalah tema “homoseksual”—kisah di abad ke-4 (Santo Sergius mencari Bacchus) yang diracik kembali dengan pergesekan diri penulis dalam bahasa teramat lugas (denotatif), dengan susunan bertumpang, tanpa pilihan kata istimewa, tanpa gaya bahasa, tanpa estetika sedikit pun, mirip catatan harian?

Apakah bentuk puisinya yang begitu denotatif dan bertema sosial dengan racikan bahasa vulgar pula, sebagaimana dalam puisi berjudul “Kawitan” karya Ni Made Purnama Sari adalah bentuk terbaru yang harus ditiru dan dikembangkan dalam generasi mendatang penyair Indonesia? Apakah bentuk baru puisi harus terkesan seragam dari ketiga puisi pemenang, termasuk pemenang ketiga: “Ibu Mendulang; Anak Berlari: Kumpulan Puisi Pendek di Atas Celemek” karya Cyntha Hariadi adalah bentuk dan tema yang benar-benar baru dan penting? Di mana kelebihan tema-tema dan bentuk-bentuk itu dibandingkan bentuk dalam 567 buku puisi lain sebagaimana penjabaran dewan juri yang menawan, tapi “tidak jelas” dan “tidak rinci” tanpa petikan-petikan data untuk data sebanyak 567 itu?

Jika ini sebuah analisis atau kajian, teori kajian apa yang telah digunakan dewan juri? Apakah bentuk baru puisi puisi temuan dewan juri adalah yang terbaiknya hanya seperti ketiga puisi pemenang itu? Seolah seperti puisi “Teringat Celana Pak Guru?”-nya Joko Pinurbo atau yang berbau-bau “perempuan” dan “keibuan” sebagaimana puisi-puisinya Oka Rusmini?

Temuan dan kebaruan apa serta estetika yang memukau seperti apa yang didapat dalam Malam Anugerah Sayembara Manuskrip Buku Puisi 2015?
Sungguh disayangkan ketika batasan puisi dilanggar sebuah kekuatan, “otoritas” dewan juri. Puisi berjudul “Sergius Mencari Bacchus” masih belum bisa disebut sebagai puisi, apalagi sebagai juara pertama sayembara buku manuskrip puisi yang diiikuti 570 penyair seluruh Indonesia.

Puisi itu masih merupakan “bahan” mentah sebuah puisi yang belum jadi dan belum diolah dengan matang. Tentunya, tulisan ini bisa kembali dibongkar dan didiskusikan dengan terbuka sebagai sebuah bentuk diskusi terbuka untuk meretas kebenaran ruang teori puisi dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Menjadi sangat penting karena kejadian ini sangat di luar nalar “batasan penerimaan” yang paling “minimal” mengingat 570 peserta bukan jumlah sedikit. Mereka sangat perlu dihargai dengan sebuah pertimbangan, penilaian, dan pertanggungjawaban yang tidak terkesan selintas.


Alasan juri yang mengundang perhatian, decak kagum, tepuk tangan, tentang karya puisi yang sangat mengharukan, menghadirkan tema langka (tentang homoseksual), diolah secara demikian baik: kehidupan dan identitas homoseksual (juga lewat narator yang kadang lelaki kadang perempuan, identitas transgender), juga dituliskan bergaya pengakuan pseudo-memoir nyatanya, menjadi sangat tidak selaras dengan bukti nyata dalam larik-larik puisi yang dibaca. Malam anugerah itu menjadi saat dunia sastra dihadapkan pada “cermin retak” estetika puisi Indonesia mutakhir. Mencemaskan!



Biodata Penulis:

Herwan FR, lahir di Cirebon, 14 Juni 1973. Mulai menulis puisi dan novel di tahun 90-an. Kumpulan puisinya: Peleburan Luka (1996).  Tercatat sebagai penyair Angkatan 2000. Kini bekerja sebagai dosen di Untirta Serang-Banten.



Sumber : Sinar Harapan