Geram

"Qui nimium probat, nihil probat – Yang memberi kesaksian terlalu berlebihan, dia tidak memberi kesaksian apa-apa."

Pin It

Ist / Ilustrasi Foto

Geram berasal dari bahasa Parsi, gêram, yang berarti panas hati, marah besar, atau gemas. Lantas dalam bahasa Inggris, anger berasal dari kata Latin, angere, yang bermakna: membuat tidak bisa bernapas dan itu juga sepadan dari bahasa Islandia, angr, yang berarti kesedihan dan kecemasan.
    Seseorang menjadi geram bisa jadi apa yang menjadi harapannya tidak terlaksana. Kisah menggeramkan dan menggemaskan– barangkali –pernah terjadi dalam On the Road to Emmaus. Yesus Kristus sudah menerangkan Kitab Suci, kemudian sudah mengajak para murid mengadakan perjamuan, namun belum juga nggêh.
Di sinilah Yesus berkata, O stulti, et tardi corde ad credendum…” –  “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya sehingga kamu tidak percaya… (Luk 24: 25).” Seseorang  menjadi geram karena ia melihat kebebalan dan kelambanan yang dilakukan orang lain.
    Kita menjadi ingat akan kisah pewayangan yang berjudul, “Pandhawa Dhadhu”. Adik-adik Yudhistira geram ketika menasihati kakanda agar menyudahi perjudian yang mempertaruhkan semua harta miliknya, termasuk permaisurinya, Dewi Drupadi.
Keempat kesatria (Bhima, Arjuna, serta Nakula dan Sadewa) menggeram menyaksikan perjudian yang disutradari Sakuni di balairung kerajaan. Keempat adik Yudhistira gemas dan geram, bahkan tidak habis pikir dan berkata, “Mengapa kakaknya yang dianggap berdarah putih (karena hidupnya mulia), sabar, dan berintegritas tinggi; ternyata tidak mampu mendengarkan kegeraman adik-adiknya?”
    Dalam beberapa minggu ini, pikiran dan energi kita habis tercurah karena kegeraman terhadap para badut politikus yang sedang bersidang di Majelis Kehormatan Dewan (MKD). Semua mata memandang gerak-gerik yang sedang bersidang. Manuver demi manuver pun dilancarkan sehingga membuat para pemirsa di televisi menjadi marah, geram, dan jengah.
Pelbagai kalangan angkat bicara untuk “menghukum” pencatut nama presiden dan wakil presiden itu. Namun, yang terjadi ada akrobat yang membuat orang-orang geleng-geleng kepala dan dalam hati berkata, “Manuver apa lagi yang akan diletupkan?”
    “War is over – perang sudah usai,” seperti yang dinyanyikan oleh John Lennon (1940-1980). Ketua DPR telah mengundurkan diri menjelang keputusan ketuk palu sidang MKD. Meskipun telah usai, masih tersisa kemarahan dan kegeraman. Bahkan para pengamat politik tetap ingin meneruskan kasus tersebut ke ranah hukum (pidana).
DPR adalah wakil rakyat. Karena itu, sudah layak dan sepantasnya apabila mereka menyuarakan yang menjadi harapan dan cita-cita rakyat. “Wallahualam bissawab –Allah Yang Mahatahu sesungguhnya.”


Penulis adalah rohaniwan.



Sumber : Sinar Harapan