Natal dan Keadilan Sejati

Kita bertanggung jawab mewujudkan keluarga Allah yang damai, rukun, adil, dan saling menerima dalam keberagaman.

Pin It

Ist / Foto

Selama ini, pesan Natal selalu dihubungkan dengan perdamaian. Itu tidak salah. Ketika para malaikat mewartakan kepada para gembala di Padang Efrata bahwa telah lahir Sang Juru Selamat, yaitu Yesus Kristus, tiba-tiba tampaklah bala tentara surga yang memuji Allah. Mereka berkata, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di Bumi, di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (bdk. Lukas 2:8-14)”. Itulah sebabnya Natal selalu dihubungkan dengan pesan perdamaian.
    Adakah kaitan Natal dengan keadilan? Mari coba renungkan, sangat menarik bahwa pesan Natal bersama antara Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyebut kaitan antara Natal dan keadilan. Itu disampaikan dalam pesan Natal kali ini, seraya memberikan pertanyaan reflektif tentang cara mewujudkan tanggung jawab mewujudkan hidup bersama sebagai keluarga Allah dalam perutusan kita sebagai warga negara dan bangsa Indonesia.
    Jawaban pertama untuk itu adalah umat kristiani Indonesia dipanggil untuk berteguh hati melaksanakan tujuan Allah hadir di dunia, yaitu menciptakan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita bertanggung jawab mewujudkan keluarga Allah yang damai, rukun, adil, dan saling menerima dalam keberagaman. Kita perlu membangun kesadaran bersama bahwa setiap makhluk ciptaan Allah memiliki hak-hak dasar yang harus dihormati, hak hidup yang harus dilindungi, sampai hak-hak perseorangan serta bersama yang harus dipenuhi dan diwujudkan.
    Dalam pesan tersebut diberi tempat mengenai kaitan antara Natal dan keadilan. Bagaimana kita bisa memahami secara lebih mendalam kaitan antara Natal dan keadilan?
Natal memang merupakan kenangan penuh syukur atas kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Kenangan itu tak hanya menyangkut peristiwa 2.000 tahun lampau, melainkan terkait secara erat dengan kehidupan kita dewasa ini di tempat masing-masing, hic et nunc.
Kedatangan Yesus Kristus di dunia pun tidak lepas dari visi dan misi menegakkan keadilan di Bumi, selainkan damai dan sejahtera. Boleh dikatakan, keadilan merupakan salah satu langkah awal bagi terwujudnya damai sejahtera. Kedamaian dan kesejahteraan yang sejati tidak pernah melangkahi terwujudnya keadilan dalam kehidupan bersama. Persis di sinilah sesungguhnya kaitan antara Natal dan keadilan mendapatkan tempatnya.
    Yesus Kristus adalah wujud keadilan Allah sendiri bagi manusia. Sebagaimana Yesus Kristus lahir ke dunia untuk menebus dan membebaskan umat manusia yang tertindas, demikianlah keadilan Allah menjadi kekuatan yang membebaskan bagi mereka yang tertindas oleh perbudakan dosa dan segala konsekuensinya.

Keadilan dan Kerahiman
    Pemazmur memberikan pengertian kepada kita kaitan antara keadilan dan kerahiman. Bahkan disebutkan bahwa keadilan Allah adalah kerahiman-Nya (bdk Mazmur 51:11-16). Dalam hal ini, Paus Fransiskus memberikan pemahaman yang luar biasa. Dalam Misericordiae Vultus (MV, 11 April 2015), Paus Fransiskus mengajarkan kepada kita bahwa kerahiman tidak menentang keadilan, namun mengungkapkan cara Allah untuk menjangkau orang berdosa, menawarkan kepadanya sebuah kesempatan baru untuk melihat diri-Nya, bertobat, dan percaya (MV 21).
    Lebih lanjut, Paus Fransiskus menulis, pengalaman Nabi Hosea dapat membantu kita melihat cara yang di dalamnya kerahiman melampaui keadilan. Zaman yang di dalamnya ada Nabi Hosea hidup adalah salah satu yang paling dramatis dalam sejarah orang-orang Yahudi kala itu. Kerajaan sedang terhuyung-huyung di tepi kehancuran. Umat tidak setia pada perjanjian. Mereka bahkan telah lari dari Allah dan kehilangan iman nenek moyang mereka.
Menurut logika manusia, tampak masuk akal bagi Allah untuk memikirkan menolak umat yang tidak setia. Mereka tidak menaati perjanjian mereka dengan Allah. Karena itu, yang pantas hanyalah hukuman dan pengasingan.
    Namun, Nabi Hosea menyatakan, Allah tidak akan membiarkan umat-Nya binasa. Melalui Nabi Hosea Allah berfirman, “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.” (lihat Hosea 11:8-9).
    Santo Agustinus dari Hipo, uskup dan pujangga gereja (13 November 354–28 Agustus 430) mengatakan, “Lebih mudah bagi Allah menahan amarah daripada kerahiman.” Karena itu, amarah-Nya hanya berlangsung sekejap mata, tetapi kerahiman-Nya berlangsung selama-lamanya. Dalam kerahiman itulah keadilan Allah dilimpahkan kepada manusia.

Jati Diri Allah
    Dalam teologi Misericordiae Vultus Paus Fransiskus ditegaskan, keadilan dan kerahiman adalah jati diri Allah. Itulah sebabnya Paus Fransiskus menekankan, jika Allah membatasi diri-Nya hanya kepada keadilan, Ia akan berhenti menjadi Allah. Sebaliknya jika demikian, Allah akan menjadi seperti manusia yang meminta hanya hukum yang harus dihormati. Keadilan belaka tidaklah cukup. Pengalaman menunjukkan, sebuah seruan untuk keadilan saja akan mengakibatkan kehancurannya (MV 21, alinea kedua).
    Allah selalu melampaui keadilan dengan kerahiman dan pengampunan-Nya. Namun, itu tidak berarti bahwa keadilan harus direndahkan atau dijadikan berlebihan. Sebaliknya, siapa pun yang melakukan sebuah kesalahan harus membayar harganya. Namun, ini hanya awal pertobatan, bukan akhir karena orang mulai merasakan kelembutan dan kerahiman Allah.
Allah tidak menolak keadilan. Allah justru menyelubungi dan melampauinya dengan peristiwa yang lebih besar yang di dalamnya kita mengalami kasih sebagai dasar keadilan sejati.
    Keadilan sejati adalah kerahiman Allah yang diberikan kepada semua orang sebagai rahmat yang mengalir dari kelahiran, karya, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Melalui peristiwa kehidupan Yesus Kristus—dari lahir, karya, wafat, dan kebangkitan-Nya—Allah menawarkan kepada kita semua kepastian kasih dan kehidupan baru melalui keadilan sejati, yakni kerahiman-Nya.
    Karena itu, mari sambut Natal kali ini (2015) dengan berbingkai pada keadilan sejati, yakni kerahiman Allah. Dengan demikian, kita dimampukan mewujudkan kehidupan yang damai-sejahtera, rukun, dan harmonis di antara kita. Selamat Natal bagi yang merayakannya. Tuhan memberkati!

Penulis adalah pastor pembantu Paroki Ungaran,
Delegatus Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang.



Sumber : Sinar Harapan