Menanti Sukacita

Lonceng gereja akan bergema penuh sukacita

Pin It

Sinar Harapan / SH/Agung Natanael

NATAL LEBIH AWAL - Suasana ibadah Natal kristiani GBI Gospel Truth Misnistry Senayan City di Hotel Amaroossa, Jalan Anatasari, Jakarta Selatan, Jumat (11/12). Beberapa persekutuan ibadah sengaja mempercepat ibadah Natal supaya tidak menganggu jadwal Natal Nasional pada 25 Desember 2015.

Desember adalah bulan spesial. Secara umum, bulan ini dinanti-nantikan karena merupakan pengujung tahun. Para pekerja menanti menghabiskan sisa persediaan hari cutinya pada Desember.

Sebagian pekerja berharap gembira menerima tunjangan hari raya (THR). Anak-anak senantiasa sukacita menunggu datangnya Desember karena akan diwarnai libur panjang sekolah setelah penerimaan rapor.

Bagi umat Nasrani, Desember merupakan bulan yang dinanti-nanti. Mengapa? Itu karena bulan ini adalah waktu di mana Natal tiba. Sukacita Natal akan datang, perayaan kelahiran yang kudus dari Bethlehem. Lonceng gereja akan bergema penuh sukacita. Anak-anak kecil bersukaria. Pohon-pohon terang dipasang di rumah-rumah, lengkap berbagai hiasan pernak pernik Natal.

Tak terkecuali bagi keluarga saya, sejak kecil ibu saya kebetulan adalah orang yang selalu sibuk mempersiapkan Natal. Rumah keluarga kami pasti dihiasi berbagai aksesori Natal. Piring-piring, cangkir, dan perlengkapan makan yang biasanya tersimpan rapi di lemari, keluar khusus menyambut jamuan malam Natal.

Sebuah pohon cemara buatan dari plastik akan dipasang di salah satu sudut rumah kami, lengkap lampu warna-warni yang menyala mengelilingi batang-batangnya. Kaset berisi lagu-lagu Natal juga sudah disiapkan untuk diputar.

Berbagai kue kecil khas Natal, seperti kue salju, kastengel, kue nastar, dan sebagainya siap sedia di meja ruang tamu kami. Tak ketinggalkan, ada kacang goreng dan kembang loyang, penganan tradisional yang terkenal di Sumatera Utara.

Khusus tanggal 25 Desember, sepulang dari kebaktian perayaan Natal, kami sekeluarga akan menikmati hidangan lezat yang disiapkan ibu. Berhubung keluarga saya bersuku Batak, rumah kami ramai bukan kepalang. Sanak keluarga akan berdatangan.

Untuk urusan dapur, bala bantuan berdatangan dari keluarga besar. Berbagai makanan lezat khas suku Batak bakal tersedia lengkap di perayaan seperti ini. Lengkaplah sudah keramaian penuh sukacita.

Sukacita Natal memang memberi kisahnya sendiri. Kini, di rumah saya dan suami tercinta, kami berlatih menyiapkan Natal bagi keluarga kami. Tak sesempurna ibu saya tentu saja. Juga karena suami saya bersuku Dayak, saya belajar bertoleransi memahami budayanya yang tentu tak sama dengan budaya suku saya berasal.

Jadi yang paling utama, tentu adalah bersama-sama memasang pohon Natal. Soal masak-memasak, kami menyediakan semampunya. Hal yang penting mesra dan memasak dengan cinta, begitu selalu ujar suami saya.

Bagi saya, Natal adalah sukacita. Karena ia sukacita, menantikan Natal tentu juga dilakukan dengan sukacita. Suatu kebaikan sudah barang tentu patut dinantikan dengan penuh kebaikan, seperti menantikan kelahiran seorang bayi.

Seorang ibu mungkin saja mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan, mulai dari sulit tidur, sulit bergerak, mood yang berubah-ubah, mual, dan sebagainya. Namun, sukacita itu diyakini datang. Anak yang ditunggu-tunggu akan lahir ke dunia. Untuk itu, seorang ibu tentu tidak akan mengeluh saat mengalami kesulitan apa pun ketika hamil dan mengandung. Ia akan bertekun dan menanti dengan sukacita sebab yang dinantikannya pun adalah sukacita.

Kata orang, menanti bukanlah pekerjaan menyenangkan. Tapi, lihat dulu jika yang dinanti-nantikannya adalah sesuatu yang sungguh-sungguh berharga. Jangankan harus menunggu sehari atau dua hari, setahun atau bertahun-tahun pun tentu akan dilalui dengan kesabaran demi memperoleh sesuatu berharga yang dinanti-nantikan.

Tak perlu tergesa-gesa dan terburu-buru karena yang dinanti-nantikan amat berharga. Tentu kita tidak akan menghabiskan masa-masa menanti dengan bersungut-sungut, marah, kesal, dan sebagainya. Sebaliknya, ada pengharapan dan keyakinan teguh bahwa yang dinanti-nantikan akan diperoleh. Pengharapan dan keyakinan tentu mendorong kita untuk bertumpu pada kebaikan.

Dalam perenungan saya, masa-masa penantian Natal justru sangat indah digunakan untuk berefleksi tentang sejauh mana kita telah memberi kasih kepada sesama yang membutuhkan. Jika ini adalah penantian, bukankah indah jika diisi dengan memberi dan melayani, bukan menerima dan dilayani? Bukankah indah jika penantian bisa digunakan untuk tidak berpangku tangan, melainkan merangkul dan menjangkau sesama yang membutuhkan?


Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM;
anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow @ValentSagala.

Sumber : Sinar Harapan