Roy Marten Angkat Suara tentang Monopoli Bioskop

Apalagi, para importir film tersebut juga mempunyai kecenderungan tidak memihak kepada peredaran film nasional.

Pin It

Antara Foto / Foto

Roy Marten

Aktor senior Roy Marten ikut gerah dengan penolakan segelintir orang terhadap rencana Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk pembebasan usaha bioskop dari daftar negatif investasi (DNI) di Indonesia.

Padahal, menurutnya, sebagaimana yang disuarakan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), pembebasan usaha bioksop dari DNI malah justru membuat iklim usaha perbioskopan di Indonesia menjadi jauh lebih sehat. Dengan dibukanya keran usaha bioskop di Indonesia, justru membuat monopoli usaha bioskop yang selama ini terjadi dipastikan akan hilang dengan sendiri,” katanya melalui siaran pers yang diterima SH, Jumat (18/12).

Roy menyayangkan bahwa pemerintah seolah menutup mata terhadap monopoli bioskop yang sebenarnya terang-terangan dilakukan kelompok usaha tertentu. Apalagi, para importir film tersebut juga mempunyai kecenderungan tidak memihak kepada peredaran film nasional.

Roy mengajukan contoh yang bakal jadi kasus yang terus berulang, seperti film Star Wars Episode VII: The Force Awakens yang mulai beredar Kamis (17/12).

Di sejumlah bioksop milik jaringan XXI/21, film itu langsung mendapatkan 484 layar.
“Bisa dipastikan, dengan alasan klise, itu karena permintaan pasar yang tinggi. Namun, apakah perlakuan yang sama diterima kepada film nasional? Film nasional paling banyak mendapatkan 100 layar. Jadi, ini sangat tidak adil. Kalau hal ini dibiarkan terus, industri perfilman nasional tidak akan pernah maju dan berkembang,” ucapnya.

Ayah bintang film Gading Marten itu pun mengimbau dan mengajak semua insan perfilman untuk bersama-sama menentang monopoli bioskop dan import film yang sudah menggurita di tangan satu kelompok.

Sumber : Sinar Harapan