Magnet Bimbo Tak Pernah Lekang

Bimbo berbicara tentang Tuhan dengan syairnya yang mendalam dan diterima semua kalangan.

Pin It

Ist / Foto

Bimbo

Bimbo adalah legenda musik Indonesia. Magnetnya belum hilang hingga 48 tahun usia grup musik ini berkarya. Hal itu terlihat jelas dalam konser bertajuk “Indonesia Menyanyi”, Kamis (17/12) malam, sebagai bentuk penghargaan kepada Bimbo yang menjadi bagian sejarah musik Indonesia.

Lagu “Balada Seorang Biduan” yang menjadi lagu pembuka langsung mendapat sambutan hangat
dari penonton yang memenuhi Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Penonton dalam sekejap terhanyut dalam nostalgia dan mengikuti lagu yang merupakan ciptaan Sam Bimbo ini. Konser kemudian menampilkan medley “Romantika Hidup” dan “Pacar Manisku, Bimbo” yang membawa suasana ceria di panggung.

Diiringi orkestra pimpinan Purwacaraka yang sekaligus memberi aransemen terhadap
sejumlah lagu, konser ini menyuguhkan musik berkualitas ala Bimbo. Grup ini tampil dengan personel lengkap, Syamsuddin D Hardjakusumah (Sam), Darmawan Hardjakusumah (Acil), Jaka Hardjakusumah (Jaka), dan Iin Parlina. Mereka menyenandungkan lagu-lagu yang sudah lekat dengan masyarakat.
“Saya gemetaran karena sudah lama tidak konser,” ujar Sam mengawali pembukaan konser.

Penyanyi papan atas turut menjadi bagian konser “Indonesia Menanyi”. Dita The Voice
memberi nuansa rock pada lagu “Aku Sayang Padamu” dan “Balada Gadis Desa”. Vina Panduwinata pun memberi kehangatan dalam lagu “Citra”. Melalui gaya khasnya, Vina juga melantunkan lagu “Om Boyke” yang ditulis Jaka dan Sam Bimbo.

“Musik tidak pernah mengenal usia dan kedaluwarsa,” seru Vina. Si “Burung Camar” ini juga membawakan “Bunga Sedap Malam”.

Penyanyi tenor Farman Purnama tampil membawakan lagu “Dengan Puisi” dan “Flamboyan”. Penampilan kolaborasi Farman dan Sam lewat lagu “Bukit-bukit Sunyi” sangat menggetarkan.

Selain itu, Ghaitsa Kenang yang merupakan juara ketiga pencarian bakat Rising Star Indonesia, Andrea Miranda–putri dari musikus Purwacaraka merupakan deretan penyanyi muda memberi nuansa lain dalam lagu hit Bimbo.

Candil eks Seurieus Band dengan gaya rock dan suara melengking juga hadir memukau penonton
dengan lagu “Angin November”. Kolaborasi Candil dan Dita The Voice semakin mengentalkan suasana rock dalam lagu “Cinta Kilat”. Shandy Sandoro pun begitu pas dengan lagu “Tante Sun” dan “Mawar Asuhan Rembulan”.

Di akhir acara, Bimbo kembali tampil dengan lagu “Sendiri” ciptaan Titiek Puspa dan “Antara
Kabul dan Beirut”.

Berbagai Tema

Lagu-lagu Bimbo merupakan representasi dari lagu-lagu cinta dan satir sosial yang menemani berlapis generasi penikmat musik Indonesia. Tetapi, Bimbo juga berbicara tentang Tuhan dengan syair yang mendalam dan diterima semua kalangan. Itu sebabnya ciri khas sebagai kelompok religius melekat erat pada grup musik ini.

Lagu “Tuhan” ciptaan Sam Bimbo bagaikan bentuk kecintaan dan kepercayaan Bimbo yang
sangat dalam terhadap Tuhan. Itu terlihat jelas dalam lirik, “Tuhan, tempat aku berteduh/Di mana aku mengeluh/Dengan segala peluh.”

Bimbo juga menulis lagu-lagu bertema keseharian hingga lagu yang cenderung bernada
humor. Tahun 1980-an, Bimbo banyak menulis lagu bertema kritik sosial.

Konser “Indonesia Menyanyi” membawa pesan pada kecintaan karya anak bangsa. Suhendra
Wiriadinata, Direktur APP mengatakan, didapuknya Bimbo karena grup ini telah bermusik hampir setengah abad dan merupakan aset berharga bangsa.

“Musikus ini telah menorehkan tinta emas keagungan budaya Indonesia dengan menciptakan lebih dari 300 lagu yang mengangkat berbagai tema yang dekat dengan masyarakat,” ucap Suhendra.


Acil mengatakan, konser “Indonesia Menyanyi” merupakan lompatan menuju 50 tahun Bimbo
berkarya. “Tahun 2017 merupakan 50 tahun kami berkarya. Kami berharap bisa sampai ke 50 tahun kami,” kata Acil.

Lagu “Kita Adalah Satu” yang menutup seluruh rangkaian konser pun mampu memuaskan
penonton. Ya, magnet Bimbo memang tidak pernah hilang.


Sumber : Sinar Harapan