Rolls-Royce Pangkas Jumlah Petingginya

Kejatuhan nilai saham hingga 38 persen beberapa waktu lalu turut menjadi dasar perlunya efisiensi.

Pin It

Istimewa / Foto

Rolls-Royce

LONDON - Perusahaan multiteknologi Rolls-Royce segera mengefisiensi dengan memotong jumlah karyawan. Mereka yang disasar untuk diberikan pensiun dini dan pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah para staf senior. 

Financial Times, Selasa (15/12) melaporkan, keputusan ini diambil setelah serangkaian kerugian dialami perusahaan yang berbasis di Inggris tersebut, di antaranya kejatuhan nilai saham Rolls-Royce dan penurunan keuntungan hingga 19,6 persen pada November lalu. Hal itu rupanya memberikan pukulan bagi perusahaan. Kejatuhan nilai saham hingga 38 persen beberapa waktu lalu turut menjadi dasar perlunya efisiensi.

Pabrik mesin berbagai kendaraan ini menyebutkan, pengumuman akan hal ini dilakukan pada Rabu waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia. 

Desas-desus di industri berat Inggris menyebutkan, akan ada perampingan dari 27 posisi senior menjadi 8 saja. Dilaporkan, mereka yang akan meninggalkan Rolls-Royce adalah Tony Wood, pemimpin di bidang pabrikan mesin pesawat dan Lawrie Haynes, kolega Wood yang memimpin bidang divisi kelautan untuk mesin-mesin kapal.

Warner East, Pemimpin Rolls-Royce mengatakan, ada kejadian-kejadian tak menguntungkan yang membuat pabrik ini harus mengambil langkah pahit. “Kabut” di neraca rugi dan laba disebutnya sebagai dasar kebijakan. 

"Yang jelas, kami akan menorehkan kembali sistem operasi yang lebih baik dan sederhana. Perubahan struktur adalah suatu keharusan," kata East.

Beberapa waktu lalu, Rolls-Royce juga mengungkapkan adanya penurunan permintaan mobil besutan mereka di Tiongkok. Kepala Eksekutif Perusahaan, Torsten Mueller-Oetvoes mengatakan, fluktuasi pasar saat ini luar biasa cepat.

Semula, Roll-Royce berbarap, produk baru mereka, Dawn, seharga 250 ribu pound sterling atau senilai Rp 5,5 miliar itu akan laku keras. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

"Kami terkejut. Kecepatan pertumbuhan di pasar Tiongkok dalam arah yang sama sekali berbeda," ujarnya.

Mueller-Oetvoes mengatakan, aksi antikampanye, termasuk  investigasi pemerintah terkait harta individu di sana, menjadi  hal yang tak menguntungkan penjualan mobil mewah. 

"Tiongkok belum pernah menjadi pasar nomor satu kami. Pasar nomor satu kami di Amerika Serikat. Karena itu, keadaan kami masih seimbang dan kami akan bisa mengatasi penurunan yang terjadi di sini (Tiongkok-red)," tuturnya.

Sumber : Berbagai Sumber