Uji Coba Rudal, Iran Langgar Resolusi PBB

Pemerintah AS mendesak Iran menjabarkan apa yang dilakukannya.

Pin It

www.republika.co.id/ / Foto

Rudal Iran (Ilustrasi)

NEW YORK – Iran dinilai sudah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB pada Oktober 2015. Pelanggaran dilakukan dengan melakukan uji tembak sebuah rudal yang mampu memberikan hulu ledak nuklir. Itu seperti dituturkan tim monitor yang hadir dalam kongres AS, Selasa (15/12).

Gedung Putih mengatakan tidak akan mengesampingkan langkah-langkah tambahan terhadap Iran atas uji roket jarak menengah. Pemerintah AS mendesak Iran menjabarkan apa yang dilakukannya.

Panel Dewan Keamanan ahli Iran mengatakan dalam sebuah laporan rahasia; bahwa peluncuran roket menunjukkan peluncuran roket tidak memenuhi syarat karena mengandung dampak nuklir. “Atas dasar analisis dan temuan panel, disimpulkan peluncuran roket Emad oleh Iran melanggar Ayat 9 dari Resolusi Dewan Keamanan 1929,” tutur Panel sebagaimana dilansir AFP, Rabu (16/12).

Laporan panel itu muncul pada Jumat pekan lalu, saat 15 negara membahas mengenai sanksi terhadap Iran. Disimpulkan, rudal tersebut dapat memberikan dampak nuklir dengan bobot 500 kg dan ledakan dalam kisaran sekitar 300 km.

“Panel menilai peluncuran Emad memiliki jangkauan tidak kurang dari 1.000 kg dan muatan seberat minimal 1.000 kg, serta peluncuran Emad menggunakan teknologi peluncuran rudal balistik,” kata laporan tersebut.

Panel PBB juga mencatat peluncuran roket Iran dari 2012 dan 2013 juga melanggar larangan PBB untuk uji rudal. Panel juga membuat laporan setelah AS, Inggris, Prancis, dan Jerman pada bulan Oktober menyerukan ke komite sanksi PBB untuk mengambil tindakan dalam menanggapi uji Iran rudal Emad.

Ketua Komite PBB untuk Sanksi Terhadap Iran, Duta Roman Oyarzun dari Spanyol, mengatakan dewan panel telah menyimpulkan upaya Iran untuk mendapatkan titanium pada awal tahun ini, juga melanggar sanksi nuklir PBB. Sebaliknya, salah satu petinggi Iran mengatakan mengatakan uji roket dilakukan pada 10 Oktober, dan secara teknis tidak melanggar kesepakatan nuklir, yang dilakukan Iran dengan enam kekuatan dunia pada Juli lalu.

Iran yang menanggapi panel, mengatakan uji pada bulan Oktober tidak mampu memberikan hulu ledak nuklir. Negeri seribu mullah ini juga menyerukan agar sanksi tak dikenakan kepada mereka. Sebaliknya bagi Washington, kegagalan menyerukan sanksi terhadap peluncuran Emad itu bisa dianggap sebagai kelemahan.

Laporan PBB tersebut bisa menempatkan Presiden AS, Barack Obama, dalam posisi tidak tidak menguntungkan di dalam negeri. Partai Republik di Kongres AS yang menyetujui kesepakatan, menyebut pelanggaran yang dilakukan Iran bisa menjadi alasan untuk menambah sanksi terhadap Iran. Beberapa politikus dari Partai Demokrat mendukung aksi sepihak AS untuk pelanggaran rudal AS.

Senator Partai Demokrat AS, Chris Coons, yang mendukung kesepakatan nuklir dengan Iran, mengatakan Dewan Keamanan PBB harus bertindak. Jika tidak, AS harus memberikan sanksi terhadap Iran. 

Salah satu anggota panel mencatat, peluncuran tersebut tidak melanggar kesepakatan nuklir yang difokuskan pada kegiatan nuklir Iran. Iran yang selalu menolak sanksi, menegaskan berulang kali pihaknya tidak berniat membatasi program nuklirnya.

Ketika ditanya tentang laporan panel, Duta Besar PBB dari Inggris, Matius Rycroft kepada wartawan mengatakan itu benar-benar penting, bahwa Dewan Keamanan menjunjung tinggi tanggung jawab dan tidak merespons secara efektif terhadap pelanggaran. Resolusi Dewan Keamanan 1929, yang melarang tes rudal balistik, diadopsi pada 2010 dan tetap berlaku sampai kesepakatan nuklir diimplementasikan.

Sumber : Berbagai Sumber