RAGAM

Waspadai Serangan Dermatitis Atopik

eksim atopik radang pada kulit

Pin It

/ SH/Murizal Hamzah

Diskusi Eksim: Kiri-kanan, Roby Gonaroy (Group Product Manager for Profesional Product SOHO Global Health), Dr. Rachel Djuanda, SpKK. Dermatologist dari Rumah Sakit Bunda, Jakarta) dan Widi Nugroho Sahib (Head of Public Relations and General Services SOHO Global Health) pada diskusi "Dermatitis Atopik, dan Bagaimana Menanganinya" di Jakarta, Selasa (15/12).

JAKARTA - Salah satu penyakit yang sering menyerang kulit adalah Dermatitis Atopik (DA) atau lebih dikenal eksim atopik yakni radang pada kulit berbentuk ruam yang timbul pada kulit sensitif dan mudah teriritasi. Gangguan kulit ini terjadi dalam jangka waktu lama, dapat kambuh dan tidak bisa hilang.

“Pada umumnya, DA dialami oleh anak yang berumur kurang dari 5 tahun dengan prevalensi 9-21 persen. Namun juga dapat diderita oleh orang dewasa dengan prevatensi 2-10 persen,” ungkap dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Bunda Jakarta dr. Rachel Djuanda, SpKK di Jakarta, Selasa (15/12).

Rachel menjelaskan,  pasien DA memiliki kulit yang sangat kering, karena rendah produksi ceramide, terutama ceramide tipe 1 pada bagian `mortar/semen' kulit. Ini mengakibatkan fungsi pelindung kulit berkurang sehingga kemampuan kulit menampung air dan siklus hidup sel korneum epidermis memendek.

"Jika fungsi pelindung kulit berkurang mempermudah masuknya berbagai macam benda asing seperti bakteri, dan jamur. Hal ini menyebabkan reaksi inflamasi sehingga memancing  penderita menggaruk area tersebut,” jelas Rachel pada  temu media 'Penanganan Dermatitis Atopik' bersama Soho Global Health.

Pada umumnya, sambungnya, penanganan DA menggunakan steroid topikal karena dapat mengurangi rasa gatal dan mengendalikan ruam. Namun penggunaan steroid topikal dalam waktu lama membuat DA menjadi resisten. Seharusnya, langkah ini diimbangi dengan penggunaan pelembab untuk mengembalikan kelembaban kulit, memperbaiki fungsi pelindung kulit, mengurangi pruritus, memberikan efek anti inflamasi, memiliki pH yang asam.

“Salah satu pelembab yang memenuhi persyaratan tersebut adalah Noroid pelembab dengan komposisi dan struktur yang sangat mirip dengan struktur lamellar pada kulit,” tukasnya.

Menyangkut menggunakan sabun antiseptik setiap hari, dokter spesialis kulit dan kelamin ini menjelaskan kulit memiliki mekanisme melawan bakteri dan menjaga kelembaban. Penggunaan sabun antiseptik yang berlebihan mengacaukan keseimbangan bakteri baik dan jahat pada kulit yang hadir secara alami. Kulit bisa mengeluarkan keringat dan berbagai enzim untuk membunuh bakteri jahat berlebih.

“Bila ditambah dengan sabun antiseptik, maka  bakteri yang baik juga mati sehingga kulit bisa jamuran dan merusak kulit," tegasnya singkat.

Rachel menyarankan konsumen tidak perlu menggunakan sabun antiseptik setiap hari karena mengandung enzim protease yang menghancurkan protein kulit. Kadar keasaman atau pH sabun yang basah memicu kondisi kulit yang kering.