RAGAM

Anak Sehat Bugar dengan Pola 5S Plus 4J

minum susu di Indonesia masih rendah

Pin It

/ SH/Murizal Hamzah

Diskusi Cerdas Frisian Flag: Kiri-kanan Andrew F. Saputro (Head of Corporate Affairs PT. Frisian Flag Indonesia), Rosdiana Setyaningrum (Psikolog), dan Dr.dr. Samuel Oetoro (Dokter Spesialis Gizi Klinik) pada Diskusi Cerdas Frisian Flag Indonesia yang membahas tantangan pola asuh orang tua generasi millenial di Jakarta, Selasa (15/12).

JAKARTA – Untuk mencetak anak yang sehat dan bugar tidak rumit. Ikutilah Prinsip 5S, maka orang tua berpeluang memiliki anak sehat, bugar, dan cerdas. Demikian kesimpulan disampaikan oleh  Dr.dr. Samuel Oetoro dokter spesialis gizi klinik  pada Diskusi Cerdas Frisian Flag Indonesia yang membahas tantangan pola asuh orang tua generasi millenial di Jakarta, Selasa (15/12).

“Prinsip 5S meliputi makan sehat, berpikir sehat, istirahat sehat, aktivitas sehat, dan lingkungan sehat. Kelima prinsip ini penting. Tidak bisa diabaikan salah satunya,” tegasnya.

Disebutkan, anak gemuk yang bikin gemas siapa yang lihat, namun bagi orang tua ini bisa menakutkan. Anak gemuk yang kurang bergerak atau berolah raga bisa dijangkiti penyakit kencing manis atau hipertensi.

“Saya punya pasien anak yang sudah ada gejala kencing manis. Jangan senang dulu pada anak gemuk,” ajak Samuel yang memperlihatkan slide foto anak gemuk.

Pakar gizi ini menguraikan, makan sehat dilakukan dengan menerapkan prinsip 4J yaitu Jumlah, Jadwal, Jenis, dan Jurus Masak. Samuel menegaskan jumlah makanan yang dimakan harus seimbang dengan makanan yang dibakar menjadi energi.  Anak disuguhi makanan yang dibakar, dikukus, atau direbus untuk menghindari makanan yang digoreng. Untuk itu, anak harus melakukan aktivitas bergerak seperti bersepeda atau senam bersama orang tua.

“Jika orang dewasa makan tiga kali sehari, maka anak ditambah dua kali snack sehat yakni makan buah-buahan. Jika orang dewasa cukup tidur 6-8 jam setiap hari, anak-anak perlu tidur 8-10 jam setiap hari. bahkan anak-anak harus tidur siang walaupun 1 jam,” ajak Samuel yang mengingatkan anak harus minum susu untuk pertumbuhan tulang.

Sementara psikolog Rosdiana Setyaningrum menjelaskan bahwa orang tua dari anak-anak generasi millennial cenderung lebih percaya diri dan optimistis. Namun mereka khawatir dengan tuntutan sosial, terutama di media sosial.  Penggunaan gadget dan sosial media berpotensi menyebabkan femonena screen gadget pada orang tua dan anak.

“Orang tua harus memberi contoh. Jangan larang anak memakai gadget namun orang tua memakainya,” ucapnya.

Disebutkan, berbagai riset tentang generasi millennial dari dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa ada perbedaan pola pikir dan pola pengasuhan orang tua dari generasi millennial dengan orang tua dari generasi sebelumnya. Karakter orang tua generasi millennial yang menjunjung nilai-nilai yang lebih demokratis dan independen ternyata berdampak pada cara orang tua mengasuh anak dan memastikan tumbuh kembang sang buah hati.

“Terpaan teknologi yang intens pun juga berdampak pada pola pengasuhan anak, terlebih bagi generasi millennial yang cenderung lebih bergantung pada teknologi,”tukasnya.

Head of Corporate Affairs PT. Frisian Flag Indonesia  Andrew F. Saputro menerangkan
kesibukan orang tua menjadi tantangan dalam memastikan tumbuh kembang anak sesuai dengan milestone-nya, terutama berkaitan dalam pemenuhan nutrisi. Selain makanan bergizi seimbang, konsumsi susu membantu memenuhi kebutuhan kalsium serta vitamin dan mineral harian anak.

“Saat ini, tingkat konsumsi susu di Indonesia per kapita masih sangat rendah. Padahal kebiasaan minum susu bisa dijadikan kegiatan bersama dalam menghabiskan waktu yang berkualitas dengan keluarga,” lirihnya sedih.