Mirip Pande Besi, ditempa Selagi Membara

Manteri Pariwisata Arief Yahya menanggapi, permintaan itu secara alamiah sudah terjadi di Lombok dan juga di berbagai wilayah Indonesia yang lain.

Pin It

Sinar Harapan / Ist

Arief Yahya (Menteri Pariwisata)



LOMBOK – Suasana diskusi Menpar Arief Yahya dengan industri dan pelaku pariwisata di Hotel DPraya, Lombok, NTB itu semakin asyik. Banyak testimoni optimistic, setelah dinobatkan dengan The Best Halal Destination Award 2015 dan The Best Halal Honeymoon Award 2015 di Abu Dhabi, UAE lalu. Untungnya, pelaku bisnis dan industri pariwisata di Lombok tidak terjebak oleh pro kontra dan debat kusir yang tak berujung pangkal. Semua langsung focus, berjualan dengan branding baru “Halal Destination.”

Hasilnya? “Luar biasa pak, kami kewalahan. Wisman dari Arab itu tidak pelit, tidak irit, dan mau yang terbaik, kalau sungkan menyebut yang termahal. Saya sudah mengalami sendiri, karena itu saya arahkan ke hotel bintang lima yang paling mahal dan paling lengkap fasilitasnya di Senggigi. Kami pelaku bisnis pariwisata merasakan manfaat itu,” aku Hadi Faisal, pemilik hotel yang berada di dekat Bandara International Lombok (BIL) itu.

Selain itu? Menurut Hadi, mereka minta kalender kegiatan yang terkait dengan budaya muslem di Lombok. “Khusus wisman muslem asal Singapore, mereka ingin melihat suasana seperti Idul Adha, mereka banyak yang berkorban di sini. Mereka ingin melihat suasana Ramadan, suasana hari besar 1 Muharram, Tahun Baru Islam, suasana maulud nabi, juga isra miraj. Mereka sulit merayakan bersama-sama di sana, hanya disediakan satu tempat yang sempit, dan tidak seperti di Indonesia, ada malam takbiran, ada keliling takbiran, ada tarawih di masjid, ada suara adzan 5 kali sehari,” katanya.

Manpar Arief Yahya menanggapi, permintaan itu secara alamiah sudah terjadi di Lombok dan juga di berbagai wilayah Indonesia yang lain. Mandeh Sumatera Barat misalnya, mereka juga punya banyak tradisi Halal yang amat kultural. Begitu pun di Nangroe Aceh Darussalam. Tiga kawasan itu memang diproyeksikan untuk memaksimalkan budaya halal. “Sekali lagi, Lombok, Mandeh Sumbar dan Aceh yang terus didorong menampilkan budaya halal-nya,” kata Arief Yahya.

Selain itu? Menurut Lalu Faozal Kadirpar NTT, wisatawan asal Arab dan sekitarnya, memiliki kebiasaan length of stay yang lebih lama. Bisa 10 hari, bisa 14 hari, bisa 1 bulan di luar negeri. Banyak hal yang tidak bisa mereka dapatkan selama berada di negerinya. “Mereka bertanya, kapan ada hujan di Lombok? Mereka ingin melihat air hujan. Mereka datang ke Lombok, tahunya dari penghargaan Best Halal Destination Award 2015 dan Best Halal Honeymoon Award 2015 itu,” kata Lalu.

Seperti diketahui, Asdep yang membawahi area Timur Tengah, Nia Niscaya memang rajin berpameran di Timur Tengah. Dari Arabic Travel Mart 2015 di Dubai, lalu dilanjutkan dengan pameran yang memperkenalkan industri pariwisata ke Jeddah, Riyath dan Dammam. Juga placement di media paling ternama di Arab, Aljazeera. “Akhir 2015 ini kami juga melakukan FamTrip, familization trip, mengundang reporter, jurnalis, blogger, asal Arab dan mengajak jalan-jalan mengunjungi destinasi menarik di Lombok,” kata Nia Niscaya.

Menpar Arief Yahya berkali-kali menyebutkan, ini adalah timing yang tepat. Lombok mendapat momentum emas, kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Kalau tidak diambil, ya akan menyumblim hilang entah ke mana opportunity itu. Kalau diambil setengah-setengah, juga akan menjadi bola api yang menghantam diri kita sendiri. “Pilihannya hanya satu, ditempa terus, semampang masih membara, seperti pande besi membuat pisau, cangkul, dan sebangsanya,” kata Menpar Arief Yahya.

Tidak bisa ditawar lagi, oleh Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, pariwisata sudah dijadikan salah dari prioritas pembangunan nasional, selain pangan, energi, dan maritime. Lalu, Lombok Mandalika juga dimasukkan dalam 10 destinasi utama, selain Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Pulau Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah-Jogja, Bromo Jawa Timur, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Malut. “Jadi Lombok ini betul-betul dapat momentum berkali-kali. Lombok harus lari lebih kencang,” jelasnya.

Mumpung juga, NTB memiliki Gubernur Muhammad Zainul Majdi yang masih muda dan concern di pengembangan pariwisata, sebagai prioritas di daerah. Lombok juara dunia di awarding halal, mengalahkan Malaysia, Singapore dan Thailand. “Ini benar-benar bertemu dengan momentum! Yuk, majukan pariwisata, majukan ekonomi daerah, majukan ekonomi bangsa,” ajak Menteri yang murah senyum ini.  ***

Sumber : Sinar Harapan