Yesus Kristus, Kabar Terbaik Sukacita

Minggu ini sering disebut sebagai "Gaudete". Dalam bahasa Latin, "Gaudete" berarti bersukacitalah.

Pin It

Istimewa / Foto

Ilustrasi

"Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. (Flp 4:4-5a).”

Minggu, 13 Desember 2015, adalah Hari Minggu Adven III. Minggu ini sering disebut sebagai "Gaudete". Dalam bahasa Latin, "Gaudete" berarti bersukacitalah. Gaudete in Domino simper, bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan.

Kita diundang bersukacita menyambut Yesus, Sang Mesias. Kedatangan-Nya sudah dekat. Natal kian dekat. Yesus Kristus adalah kabar terbaik sukacita kita. Dialah wajah kerahiman Allah bagi kita.

Pada Minggu Adven yang ketiga ini, kita masih berjumpa dengan Santo Yohanes Pembaptis yang memberikan kepada kita kabar tentang Mesias yang datang dan dekat dengan kita. Allah sendiri telah menjanjikan kepada umat-Nya dan kepada kita bahwa akan mengutus Sang Juru Selamat yang akan menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan membebaskan kita dari penindasan. Ia memenuhi kita dengan sukacita kehadiran-Nya dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya yang abadi, penuh damai dan kebenaran.

Hari ini, melalui Injil, Santo Yohanes Pembaptis membawa kabar baik kepada kita yang menerima Yesus, Mesias. Sebagaimana banyak orang dalam Injil hari ini yang mengenal Yohanes sebagai utusan Allah dan nabi sejati yang berbicara dalam nama Allah, kita datang kepada-Nya untuk mendengarkan kabar baik yang Dia wartakan kepada mereka dan kini kepada kita. Sebagaimana banyak orang dengan rela menyerahkan diri untuk dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan dan bertobat, demikianlah kita datang untuk mengimani Yesus Kristus yang diwartakan-Nya.

Dalam Injil hari ini, kita menemukan pesan Yohanes Pembaptis, yakni pertobatan dan pembaharuan hidup yang sangat praktis. Ia mengatakan kepada kita akan tiga hal. Pertama, kita harus berbagi milik kepada sesama, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan pertolongan. Dengan demikian, kita menghayati perintah mengasihi sesama, seperti kita mengasihi diri sendiri.

Kedua, Santo Yohanes Pembaptis menunjukkan kepada kita tugas suci yang diberikan kepada kita dan setiap orang untuk tidak mengambil keuntungan dari yang dipercayakan kepada kita. Melalui tugas dan panggilan, kita diajak memperlakukan orang lain secara bermartabat dan menghargai mereka. Para pemungut pajak dan prajurit diajak setia menjalankan tugas dengan jujur, bermartabat, dan tidak menjerat apalagi menindas rakyat.

Ketiga, Santo Yohanes Pembaptis mengimbau kita merasa cukup dengan yang kita punya dan tidak menginginkan yang bukan menjadi hak kita. Di sini Santo Yohanes secara mendasar mengajak kita bertobat dengan mengandalkan Allah dan menempuh jalan kasih dan kebenaran-Nya melalui kehidupan sehari-hari.

Apa makna Injil hari ini bagi kita? Pertama, ketika Injil diwartakan, iman dibangkitkan dalam diri yang mau mendengarkan dan bertobat kepada Allah. Tuhan selalu siap membuka mata kita pada kenyataan rohani dari kerajaan-Nya dan pada daya kuasa Roh Kudus yang mengubah kehidupan untuk kian serupa dengan Yesus Kristus. Kita hanya diminta percaya pada sabda-Nya sebagai kabar baik bagi kita; serta membiarkan sabda-Nya berakar dan bertumbuh dalam kehidupan kita. Karena itu, sabda itu akan membuahkan sukacita, kemerdekaan, dan kehidupan baru yang sejati dalam Roh Kudus.

Kedua, Santo Yohanes Pembaptis berpesan tentang kabar baik yang membangkitkan dalam kehidupan kita pengharapan baru dan sukacita. Bahwa inilah saat yang tepat untuk bertobat dan menerima Kristus, Sang Penebus yang datang dalam kekuasaan, keadilan, dan kerahiman untuk menegakkan kerajaan damai dan kebenaran-Nya. 

Kita mesti menanggapi-Nya dengan iman. Mari kita sambut dengan sukacita! (*)

Penulis adalah rohaniwan, delegatus Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang.

Sumber : Sinar Harapan