Angggur Asam

Kitab itu berisi tentang nasihat Krisna terhadap Arjuna yang mengalami loyo, lunglai, dan letih dalam menghadapi perang di medan Kurukshetra.

Pin It

Istimewa / Foto

Ilustrasi

Longa est vita si plena est – 
hidup itu akan terasa panjang apabila
penuh dengan perbuatan yang bermakna. 

Mungkin kita pernah menginginkan dan berharap pada sesuatu atau seseorang. Namun ternyata, yang kita perjuangankan tidak tercapai. Lantas dalam suatu kesempatan, kita berkata, “Saya memang tidak memerlukan itu kok, maaf saja.”

 Pengalaman seperti itu ternyata sudah dialami berabad-abad yang lalu. Tentu kita ingat akan Bhagavat Gita–Kidung Cinta. Kitab itu berisi tentang nasihat Krisna terhadap Arjuna yang mengalami loyo, lunglai, dan letih dalam menghadapi perang di medan Kurukshetra. Dalam satu bait Arjuna berkata demikian. 

“Lebih baik aku hidup sebagai seorang pengemis daripada mendapatkan kekuasaan dengan cara membunuh mereka. Segala kenikmatan akan tercemar oleh darah mereka.”

Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul Bhagavad Gita bagi Orang Modern menulis, “Arjuna bicara moral dan kedengarannya sangat moralis. Selama 13 tahun dalam pengasingan, setiap hari jiwanya menderita. Untung masih ada bantuan dari para sahabat, antara lain dari Krisna. Apabila memang begitu, kenapa mempersiapkan diri untuk perang selama ini? Ia hanya berupaya menutup-nutupi kelemahannya.”

Aesop (620-506 SM), seorang pendongeng fable, pernah mengisahkan seekor rubah yang berkata, “The grapes are sour – anggur asam.” Dalam kisah itu, Aesop menulis, “As the fox said when he could not reach them – seperti seekor rubah ketika tidak dapat meraih anggur.”  Begitulah komentar orang yang tidak mendapatkan anggur dan yang tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan cenderung berkomentar negatif, seperti, “Barangnya jelek, saya tidak memerlukan itu.” 

Komentar tersebut sebenarnya hanya upaya menutupi rasa malu karena tidak berhasil mendapatkan yang diinginkannya. Untuk mendapatkan jabatan public misalnya, tidak jarang banyak orang yang melamar dan berusaha mendapatkan “kursi empuk” yang menyejahterakan keluarga dan pribadinya. Tentu saja ada persaingan sana-sini, bahkan siapa tahu menggunakan “pelicin” untuk memuluskan upaya mendapatkan “kursi empuk” tersebut. 

Seandainya orang yang berusaha mendapatkan “kursi empuk” itu tidak mendapatkan, ia akan berkata, “Saya tidak suka dengan jabatan itu. Nanti akan menjadi pesuruhnya bos di kantornya. Lebih baik menjadi orang seperti ini, bisa mengatur diri sendiri dan tidak bergantung orang lain.” 

Penulis adalah rohaniwan.


Sumber : Sinar Harapan