El Chapo Ancam ISIS

Bos kartel obat bius ini gerah bisnisnya diganggu dan siap mengirimkan orang terbaik untuk berperang

Pin It

Istimewa / Foto

Joaquín "El Chapo" Guzmán

Mexico City – Kendati dalam pelarian, pimpinan kartel narkoba paling berbahaya di Meksiko, Joaquín “El Chapo” Guzmán mengirim email ancaman kepada kelompok militan ISIS, menyusul tindakan mereka telah menghancurkan kapal laut pengangkut narkoba miliknya. El Chapo yang juga dikenal dengan sebutan “Shorty” mengirimkan surat ancaman kepada pimpinan ISIS Abu Bakr Al Baghdadi melalui surat elektronik dan sempat bocor di cartelblog.com.

El Chapo adalah salah satu pebisnis narkoba terbesar di dunia dan menjalankan kartel Sinaloa yang dikenal sangat terorganisir tetapi sangat kejam. Dia menegaskan kepada Al Baghdadi bahwa, adalah sebuah kesalahan besar dengan menghancurkan kapal miliknya.

“ISIS bukan pejuang. Orang-orang saya akan menghancurkan kalian,” tulis El Chapo yang dilansir ulang oleh penulis blog yang tidak diketahui namanya melalui cartelblog.com. Dia pun menambahkan, “Tuhanmu takkan bisa menolong dari tindakan teror orang-orang saya, kalau masih saja mengganggu operasi yang saya lakukan.”


El Chapo menjadi raja narkoba papan atas Meksiko pada 2003 lalu. Performa dan prestasinya melebihi raja kokain Pablo Escobar. Bahkan, pihak badan anti narkoba Amerika Serikat (AS) atau US Drug Enforcement Administration menyebut El Chapo sebagai “tycoon” narkoba terbesar yang pernah ada.

Sebagai buronan, harga kepala El Chapo dihargai sebesar US$ 5 juta dalam keadaan hidup. Pihak Meksiko, Interpol dan AS berupaya keras mencari serta mendapatkan Shorty. Pada 1993, Guzman untuk kali pertama tertangka dan sempat mendekam dalam penjara khusus dengan penjagaan maksimum selama satu dekade sebelum akhirnya berhasil kabur.

Sedikitnya 13 tahun El Chapo merasakan udara segar dalam pelariannya dan tertangkap kembali pada 2014. Pada Juli 2015, El Chapo yang tengah menjalani 17 tahun masa tahanan, kabur melalui terowongan di bawah penjara sepanjang 1,5km. Kabarnya, pihaknya harus mengeluarkan US$ 50 juta untuk membiayai pelarian itu. 

Sumber : AFP