DBD di Solo Meningkat Dua Kali Lipat

Adanya perubahan musim turut berpengaruh terhadap peningkatan jumlah DBD tahun ini.

Pin It

Antara / Foto

PENGASAPAN-Petugas Dinas Kesehatan melakukan pengasapan (Fogging) di salah satu sekolah di Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (17/11). Pengasapan yang dilakukan menjelang musim hujan bertujuan untuk menekan angka penderita demam berdarah, mengingat sejak awal 2015 lalu di Jawa Timur terdapat setidaknya 1.251 penderita demam berdarah yang 25 di antaranya meninggal dunia.

SOLO-Kasus deman berdarah dengue (DBD) 2015 di Solo, mengalami kenaikan hampir dua kali lipat dibandingkan 2014. Dinas Kesehatan Kota Surakarta melaporkannya, Selasa (8/12).  Diungkapkan pula, kasus yang meninggal akibat penyakit tersebut juga mengalami kenaikan, yakni 2014 berjumlah empat orang dan tahun ini tercatat sembilan orang.

"Kasus DBD 2014 sebanyak 256 dan 2015 naik menjadi 462 kasus," kata Kasi Pengendalian Penyakit DKK Surakarta Arif Dwi kepada wartawan di Solo, Selasa.

Ia mengatakan adanya perubahan musim turut berpengaruh terhadap peningkatan jumlah DBD tahun ini.

"Apalagi waktu-waktu setelah musim hujan biasanya akan terjadi peningkatan," katanya.

Arif memperkirakan jumlah tersebut akan bisa bertambah, karena data terakhir yang masuk di Dinas Kesehatan baru sampai minggu ke 44.
Di Solo, lokasi penyebaran DBD merata di lima Kecamatan.

Arif mengungkapkan wilayah Sondakan (Laweyan) merengut satu korban jiwa, Baluwarti (Pasarkliwon) dua korban, kemudian juga di Pucangsawit (Jebres) menelan dua korban jiwa, Nusukan (Banjarsari) satu orang, Gilingan (Banjarsari) sebanyak dua korban.

"Ya untuk Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari juga ada satu korban jiwa," kata Arif sambil menambahklan para korban DBD ini terkena serangan DBD antara bulan Januari sampai dengan Juni.

Selain korban jiwa, jumlah penderita DBD di 2015 ini juga cukup tinggi, dan jumlah penderita DBD terbanyak ada di kawasan Mojosongo yakni mencapai 103 orang.

Selain itu juga di Kelurahan Kadipiro sebanyak 61 orang, Jebres sebanyak 45 orang dan pucangsawit sebanyak 28 orang.

Arif menambahkan peningkatan ini terjadi karena adanya siklus DBD lima tahunan. Data yang ada menyebutkan, setiap lima tahun ada siklus dimana DBD akan semakin tinggi.

Kondisi ini tidak hanya menimpa kawasan Kota Solo saja, tetapi juga secara Nasional. "Ya kalau untuk antisipasinya sebenarnya yang paling efektif yakni dengan langkah pemberantasan sarang nyamuk (PSN)," katanya.

Sumber : Antara